Pertukaran Tahap Kedua, Empat Tentara Israel dan 200 Tahanan Palestina Dibebaskan

Pertukaran kedua ini menyusul skema pembebasan pertama tak lama setelah gencatan senjata tahap pertama selama enam pekan disepakati Hamas-Israel.

25 Jan 2025 11:00 WIB · Internasional

Oleh Fransisca Romana Ninik W

GAZA, SABTU – Pertukaran kedua sandera Hamas dan tahanan Israel dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (25/1/2025) berdasarkan skema gencatan senjata. Hamas akan membebaskan empat prajurit perempuan, sementara Israel akan melepaskan 200 tahanan dari penjara.

Pada Jumat (24/1/2025), Hamas mengumumkan nama-nama sandera yang akan dirilis. Mereka adalah Karina Ariev (20), Daniela Gilboa (20), Naama Levy (20), dan Liri Albag (19). Keempatnya anggota unit pengawasan yang ditempatkan di dekat Gaza saat Hamas menyerang wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023.

Pertukaran kedua ini menyusul skema pembebasan pertama pada Minggu (19/1/2025) tak lama setelah gencatan senjata tahap pertama selama enam pekan disepakati Hamas-Israel. Ketika itu dibebaskan tiga sandera oleh Hamas dan 90 tahanan Palestina oleh Israel.

Sesuai kesepakatan, selama tahap pertama, Hamas akan membebaskan 33 sandera dengan pertukaran ratusan tahanan Palestina di penjara Israel. Sebelum tahap pertama selesai, kedua pihak harus merundingkan pertukaran berikutnya. Langkah itu disertai penarikan pasukan Israel dari Gaza.

(COMBO) This combination of pictures created on January 24, 2025, shows posters of Israeli hostages (L to R) Liri Albag, Naama Levy, Karina Ariev and Daniela Gilboa, held in the Gaza Strip since the October 7, 2023 attack by Hamas militants. Hamas' armed wing on January 24, 2025, named four Israeli "women soldiers" it intends to release the following day as part of the Gaza ceasefire agreement, with Israel confirming it received the names shortly after. (Photo by AFP)

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Jumat, mengonfirmasi daftar sandera yang telah diterima dari tim perunding, tetapi tidak mengungkap nama-nama mereka. Setelah tiga sandera, yakni hostages Romi Gonen, Emily Damari, dan Doron Steinbrecher dibebaskan pada Minggu, Israel menyatakan masih ada 94 sandera yang ditawan Hamas.

Namun, media Israel melaporkan, daftar nama yang diterima tidak sesuai dengan kesepakatan awal antara Israel dan Hamas. Laporan itu menyebutkan, seorang warga sipil bernama Arbel Yehoud seharusnya ada dalam daftar sandera yang dibebaskan.

Sementara Klub Tahanan Palestina, kelompok yang mewakili tahanan Palestina di penjara Israel, mengatakan, Palang Merah telah diminta untuk berada di Penjara Ofer di wilayah pendudukan Tepi Barat pada Sabtu. Beberapa tahanan akan dibebaskan di Tepi Barat dan beberapa lainnya akan dideportasi.

Kantor media Hamas menyebutkan akan menerima nama 200 tahanan yang dibebaskan. Daftar itu termasuk 120 tahanan yang dihukum seumur hidup dan 80 tahanan yang dihukum dalam waktu lama.

Displace Palestinians who left the southern Gaza Strip where they had taken refuge, run for cover from Israeli fire, northwest of Nuseirat in the central part of the strip at the nearest point possible to the Israeli-controlled Netzarim corridor, where they set tents hoping to return to the north whenever possible, on January 24, 2025. (Photo by BASHAR TALEB / AFP)

Gencatan senjata mengakhiri gempuran selama 15 bulan militer Israel di Gaza. Di Israel, keluarga sandera khawatir gencatan senjata tidak akan bertahan. “Kekhawatiran dan ketakutan bahwa kesepakatan tidak dilaksanakan hingga akhir sungguh menelan kami. Bahkan hari-hari ini, ada elemen di pemerintahan yang melakukan apa pun untuk menggagalkan (gencatan senjata) tahap kedua,” kata Vicky Cohen, ibunda sandera, Nimrod Cohen, yang belum dibebaskan.

Sejumlah kalangan di Pemerintah Israel merasa kesepakatan gencatan senjata adalah kemenangan bagi Hamas. Sayap garis keras pemerintah, termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, menuntut agar Israel melanjutkan serangan ke Gaza pada akhir tahap pertama gencatan senjata.

Hamas memang telah kehilangan sejumlah pemimpin tertinggi dan ribuan anggotanya. Namun, kelompok itu telah merekrut anggota baru dalam jumlah besar dan kembali muncul di Gaza. Pengaruh mereka pun masih besar di kalangan warga Palestina

Bassem Naim, anggota biro politik Hamas yang berbasis di Qatar, Jumat, mengatakan, warga Palestina yang terpaksa mengungsi ke wilayah selatan Gaza semestinya bisa mulai kembali ke wilayah utara setelah pembebasan sandera dan tahanan. “Komite Mesir-Qatar akan mengawasi pelaksanaan tahap ini di lapangan,” katanya.

Bantuan

Workers handle boxes of UN's World Health Organisation (WHO) humanitian aid from a UAE plane at Egypt's El-Arish airport on January 24, 2025, as part of a mission organised by the United Arab Emirates to deliver assistance in the Gaza Strip after a ceasefire deal in the war between Israel and Hamas. (Photo by FADEL SENNA / AFP)

Seiring pembebasan sandera dan tahanan, setidaknya 4.200 truk pengangkut bantuan kemanusiaan telah masuk ke Jalur Gaza dalam enam hari pertama sejak gencatan senjata. Namun, PBB melaporkan, ada penurunan besar dalam jumlah bantuan yang dikirimkan pada Jumat.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan, sebanyak 339 truk menyeberang ke Gaza pada Jumat. Jumlah itu menurun dibandingkan 808 truk pada Rabu dan 653 truk pada Kamis.

Kesepakatan gencatan senjata mensyaratkan sedikitnya 600 truk bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza setiap hari, termasuk 50 truk bahan bakar. Separuh truk menuju ke Gaza utara di mana kelaparan sudah mengancam.

Juru bicara OCHA, Eri Kaneko, mengatakan akan berupaya secepat mungkin untuk menyalurkan bantuan dalam jumlah besar itu kepada warga Gaza. “Kami juga meningkatkan respons yang lebih luas, termasuk perlindungan, aktivitas pendudukan, dan dukungan esensial lainnya,” ujarnya.

Selain lewat truk, bantuan juga dikirimkan dari perbatasan Gaza, kemudian diambil oleh PBB dan didistribusikan. Sejauh ini penyaluran bantuan berjalan jauh lebih baik dibandingkan ketika perang berkecamuk selama 15 bulan terakhir. Meski demikian, penyaluran bantuan di tengah kehancuran akibat perang menimbulkan tantangan berat.

Berita buruk lainnya, Israel memerintahkan agar Badan Pekerjaaan dan Pemulihan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) menghentikan seluruh operasi dan meninggalkan Jerusalem pada 30 Januari 2025. Meskipun dikecam komunitas internasional, Israel tetap meloloskan undang-undang yang melarang operasional UNRWA di Jerusalem Timur dan Israel.

UNRWA merupakan tulang punggung operasi kemanusiaan bagi warga Palestina. Lembaga ini menyediakan bantuan bagi 6 juta pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Jordania, dan Suriah. Jerusalem Timur merupakan pusat administrasi UNRWA.

Direktur UNRWA Philippe Lazzarini, awal bulan ini, mengatakan, badan tersebut berencana untuk tetap tinggal dan menjalankan layanan mereka dari wilayah-wilayah tempat mereka bisa beroperasi. “Namun, tanpa relasi birokratis dan operasional dengan Israel, lingkungan pekerjaan kami akan lebih menantang,” katanya. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Billy Khaerudin
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .