Pertumbuhan Ekonomi Belum Menetes ke Bawah

Meski masih konsisten tumbuh di atas 5 persen,  dampak dari pertumbuhan ekonomi masih belum dirasakan oleh masyarakat luas.

05 Nov 2025 20:17 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Perekonomian Indonesia pada triwulan III-2025 tumbuh sebesar 5,04 persen. Meski demikian, angka tersebut belum dirasakan langsung oleh masyarakat. Tingginya pertumbuhan di sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, serta kinerja ekspor belum dibarengi dengan perbaikan konsumsi rumah tangga.

Badan Pusat Statistik (BPS), pada Rabu (5/11/2025), melaporkan, produk domestik bruto (PDB) nasional pada triwulan III-2025 tumbuh 5,04 persen secara tahunan. Kendati kembali tercatat di atas 5 persen, torehan ini lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II-2025 yang tumbuh 5,12 persen.

Berdasarkan lapangan usahanya, pertumbuhan tersebut ditopang oleh industri pengolahan, perdagangan, serta pertanian dengan kontribusi total sebesar 46,69 persen terhadap PDB. Bahkan, pertumbuhan industri pengolahan dan perdagangan melampaui pertumbuhan ekonomi, masing-masing 5,54 persen dan 5,49 persen.

Pertumbuhan industri pengolahan itu sekaligus mencatatkan rekor tertinggi, setidaknya sepanjang triwulan III dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Meski demikian, porsinya terhadap PDB cenderung turun, dari sebelumnya di atas 20 persen kini hanya sekitar 19 persen.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2025

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan konsumsi rumah tangga. Sebagai mesin utama pertumbuhan dengan kontribusi 53,14 persen terhadap PDB, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2025 berada di bawah pertumbuhan ekonomi, yakni 4,89 persen.

Sejak triwulan III-2024, pertumbuhan konsumsi rumah tangga terus berada di bawah 5 persen dan bahkan kini menjadi paling rendah, setidaknya sepanjang 14 tahun terakhir. Sebaliknya, pertumbuhan di atas 5 persen justru pada komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor.

Quote

Pertumbuhan sektornya bisa jadi tinggi, tetapi dampaknya terhadap peningkatan ”income” (pendapatan), belum lagi juga penciptaan lapangan pekerjaan di sektor formalnya, tidak besar, sehingga kita bisa melihat dari konsumsinya itu tidak banyak bergerak.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Mohamad Faisal mengatakan, data tersebut menunjukkan pertumbuhan yang tercatat masih belum menetes atau terdistribusi merata, khususnya ke kalangan kelas menengah-bawah.

”Pertumbuhan sektornya bisa jadi tinggi, tetapi dampaknya terhadap peningkatan income (pendapatan), belum lagi juga penciptaan lapangan pekerjaan di sektor formalnya, tidak besar sehingga kita bisa melihat dari konsumsinya itu tidak banyak bergerak,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Belum dirasakan

Bila dilihat lebih rinci, sebagian besar konsumsi rumah tangga atau sebesar 80 persen berasal dari kalangan menengah dengan pendapatan Rp 2 juta-Rp 10 juta per kapita dan calon kelas menengah dengan pendapatan Rp 860.000-2 juta per kapita.

Menurut Faisal, kinerja industri pengolahan dan perdagangan yang tumbuh signifikan belum dirasakan oleh kelompok menengah dan calon kelas menengah. Alhasil, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pun tidak sejalan dengan pertumbuhan lapangan usaha.

”Jadi, dampaknya terhadap kesejahteraan juga begitu. Nah, hal yang lain lagi juga adalah berdasarkan subsektor, kita tahu bahwa pertumbuhan industri pengolahan ini tidak rata,” ujarnya.

Bila dilihat dari subsektornya, pertumbuhan industri pengolahan cenderung ditopang oleh industri logam dasar terkait dengan hilirisasi. Sebaliknya, pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki, serta makanan dan minuman yang berkontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja tidak signifikan, bahkan justru banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Infografik-Data Jumlah PHK

Merujuk Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dirilis oleh BPS, jumlah penganggur karena pemutusan hubungan kerja (PHK) per Agustus 2025 mencapai 58.000 pekerja atau 0,77 persen dari total penganggur. Ini berasal dari industri pengolahan sebanyak 22.800 pekerja, perdagangan sebanyak 9.700 pekerja, serta pertambangan sebanyak 7.700 pekerja.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang disampaikan memang masih belum dirasakan oleh masyarakat. Sebab, pendorong pertumbuhan industri pengolahan didorong oleh sektor padat modal.

”Sektor yang capital intensive, seperti hilirisasi nikel jadi tidak cukup berdampak besar pada daya beli masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, pelemahan konsumsi rumah tangga juga dipengaruhi oleh normalisasi musiman setelah periode liburan keagamaan pada triwulan sebelumnya. Selain itu, minimnya serapan tenaga kerja akibat digitalisasi dan akal imitasi (AI) turut memengaruhi daya beli masyarakat.

Infografik Tren Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2005-2025

Meski demikian, konsumsi rumah tangga diperkirakan akan meningkat seiring perbaikan kondisi pasar tenaga kerja dan inflasi yang terkendali. Ini juga sejalan dengan prospek investasi yang positif yang didukung oleh ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga kebijakan global.

Secara keseluruhan, Faisal Rachman memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk seluruh 2025 dalam kisaran 5-5,01 persen. Dalam rangka menjaga momentum pertumbuhan tersebut, stabilitas politik turut menjadi hal yang esensial.

Perkuat domestik

Dihubungi secara terpisah, Senior Economist Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal berpendapat, jalur pemulihan ekonomi nasional akan bergantung pada perbaikan pendapatan riil rumah tangga, arah kebijakan fiskal, serta laju ekspansi kredit ke sektor produktif.

”Kinerja triwulan III-2025 menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan Indonesia tetap tangguh, meskipun melambat secara bertahap sebagai respons terhadap kondisi permintaan domestik yang melemah dan tantangan eksternal yang terus berkembang,” ujarnya.

Infografik Tingkat Konsumsi Rumah Tangga Indonesia

Ia menjelaskan, perlambatan konsumsi rumah tangga mencerminkan dampak tertunda inflasi terhadap daya beli rumah tangga. Di sisi eksternal, pertumbuhan ekspor yang melambat, dari 10,95 persen menjadi 9,91 persen disebabkan oleh dampak tarif AS yang baru diterapkan terhadap barang-barang Indonesia.

Selain itu, pelemahan juga didorong oleh melambatnya PMTB yang turun, dari 6,99 persen menjadi 5,04 persen, seiring dengan sikap bisnis yang lebih hati-hati di tengah kondisi keuangan yang ketat dan ketidakpastian global.

Menurut Fithra, pemulihan fiskal akan membantu meredam perlambatan aktivitas sektor swasta dan mendukung ketahanan ekspansi ekonomi secara keseluruhan. Ke depan, pertumbuhan diperkirakan Indonesia tetap stabil, tetapi tidak akan meningkat secara signifikan dalam jangka pendek.

Quote

Upaya yang kita perlu lakukan pada triwulan IV-2025 itu, kita harus tingkatkan lagi ekonomi, supaya angka rata-rata 5,2 bisa dicapai.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III-2025 menunjukkan pemerintah masih mampu menjaga momentum pertumbuhan di atas 5 persen.

”Upaya yang kita perlu lakukan pada triwulan IV-2025 itu, kita harus tingkatkan lagi ekonomi, supaya angka rata-rata 5,2 bisa dicapai,” ucapnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, di Jakarta.

Menurut dia, pemerintah terus berupaya mendorong konsumsi domestik, antara lain melalui program stimulus ekonomi dan bantuan sosial dengan anggaran hampir Rp 30 triliun. Upaya tersebut diperkirakan mampu membuat konsumsi rumah tangga tumbuh lebih tinggi pada triwulan IV-2025.

Selain itu, akan ada pula penandatanganan akad kredit usaha rakyat (KUR) kepada 800.000 debitor pada November-Desember 2025 dengan perkiraan realisasi mencapai Rp 40 triliun. Langkah ini turut akan menggerakkan sektor riil sehingga target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen pada 2025 diyakini dapat tercapai.

Pekerja mengemas kerupuk yang telah digoreng di UMKM pembuatan kerupuk tapioka di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (12/5/2025). Berdasarkan data Kementerian UMKM, sepanjang triwulan I-2025, realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) mencapai Rp 57,51 triliun dari target tahun ini yang sebanyak Rp 300 triliun. Lebih dari 50 persen realisasi distribusi KUR menyasar ke sektor produksi.

Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase