Mendekati paruh pertama 2025, penyaluran kredit dan penghimpunan DPK perbankan masih terus melambat. Ini salah satunya dipengaruhi oleh daya beli masyarakat.
12 Jul 2025 15:41 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Kinerja industri perbankan nasional ikut terpukul oleh pelemahan daya beli masyarakat. Ini, antara lain, tecermin dari melambatnya pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga. Kondisi tersebut cenderung membuat bank kian enggan menurunkan suku bunga kredit.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, penyaluran kredit oleh industri perbankan hingga Mei 2025 tumbuh 8,43 persen secara tahunan menjadi Rp 7.997,63 triliun. Namun, laju pertumbuhannya terus melambat sejak awal tahun, sebesar 10,27 persen pada Januari 2025.
Alhasil, pertumbuhan kredit secara tahun kalender berjalan per Mei 2025 tercatat 2,12 persen atau jauh lebih rendah dibandingkan dengan Mei 2024 yang tumbuh 4,03 persen. Begitu pun dengan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 4,29 persen secara tahunan, terendah sejak Desember 2023.
Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, kondisi tersebut disebabkan oleh kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Akibatnya, kinerja industri perbankan pun terdampak.
”Penyebabnya di antaranya adalah daya beli masyarakat yang menurun dan likuiditas bank yang juga mulai mengetat. Daya beli masyarakat yang menurun juga berkontribusi pada kinerja perbankan nasional,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu ( 12/7/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/d7c8078e705082d09d263c87527824b6-Screenshot_2025_07_11_174326.png)
Pengetatan likuiditas perbankan itu salah satunya tampak dari rasio kredit terhadap deposit (LDR) per Mei 2025 sebesar 88,16 persen. Ini meningkat dibandingkan dengan posisi Januari 2025 yang masih tercatat 87,64 persen.
Sementara faktor melemahnya daya beli masyarakat, antara lain, terekam dalam hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI). Meski Indeks Keyakinan Konsumen pada Juni 2025 berada di zona optimis sebesar 117,8, indeks turun dibandingkan dengan Juni 2024 yang mencapai 133,8 sekaligus terendah sejak September 2022.
Kinerja perbankan bisa melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penyaluran kredit juga akan melambat ketimbang tahun lalu, sedangkan bunga simpanan dan bunga kredit juga akan susah turun untuk menjaga likuiditas bank.
Menurut Trioksa, kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih mengakibatkan permintaan kredit dari masyarakat turun serta berpotensi menurunkan kualitas kredit. Akibatnya, laju pertumbuhan kredit pun melambat dan tingkat pencadangan bank atas risiko kredit bermasalah (CKPN) meningkat.
”Kinerja perbankan bisa melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penyaluran kredit juga akan melambat dibandingkan dengan tahun lalu, sedangkan bunga simpanan dan bunga kredit juga akan susah turun untuk menjaga likuiditas bank,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/12/eced3ff4c0b19e80dd56c63a7e2b3fbd-Screenshot_2025_07_12_143201.png)
Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tengah berfokus pada pengelolaan dana murah (CASA) guna menjaga efisiensi biaya dana (cost of fund). Hingga triwulan I-2025, porsi dana murah BRI tercatat 65,77 persen dari total DPK yang mencapai Rp 1.421 triliun.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan, pencapaian CASA BRI tersebut salah satunya didukung pertumbuhan transaksi digital di aplikasi serbabisa alias Super App BRImo. Per Maret 2025, pengguna BRImo mencapai 40,28 juta pengguna dengan volume transaksi hingga Rp 1.599 triliun.
”Dengan terus membaiknya struktur funding, BRI optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang berkelanjutan di tengah tantangan berbagai perubahan pasar,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (11/7/2025).
Ia menambahkan, dalam menghadapi era digitalisasi, BRI juga aktif membangun infrastruktur pembayaran modern dengan memperluas jangkauan layanan transaksi non-tunai di seluruh lapisan masyarakat. Setidaknya, terdapat lebih dari 4,3 juta merchant QRIS dan 344.00 merchant EDC.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/28/ae6c4357-2960-412b-be26-7b2b8bc13b75_jpg.jpg)
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, OJK sedang melakukan kajian terhadap realisasi kinerja industri perbankan semester I-2025 dibandingkan dengan target rencana bisnis bank (RBB) yang telah ditetapkan.
”Sebagian besar bank memang melakukan revisi sebagai penyesuaian terhadap kondisi perekonomian global dan domestik yang sangat menantang dewasa ini,” katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK Juni 2025, secara daring, Selasa (8/7/2025).
Sementara RBB tersebut berisi target-target yang mencakup aspek operasional dan keuangan bank beserta strategi untuk mencapainya. Dalam aspek keuangan, misalnya, bank menargetkan pertumbuhan aset, simpanan, kredit, pendapatan bunga, pendapatan operasional, peningkatan efisiensi, serta net interest margin (NIM).
Berdasarkan ketentuan OJK, bank saat ini dimungkinkan untuk melakukan revisi RBB jika ditemukan perbedaan antara target dan realisasi. Selain itu, perubahan kondisi makro yang tidak sesuai dengan asumsi awal dan kondisi internal bank juga dapat menjadi pertimbangan lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/10/c0017246-4108-4dd0-b43d-23029a97d16a_jpg.jpg)
Dian menjelaskan, terdapat beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan bagi perbankan dalam melakukan revisi RBB. Di antaranya adalah stabilitas ekonomi, tingkat suku bunga acuan, laju inflasi, permintaan kredit, kondisi likuiditas, serta kinerja bank hingga Juni 2025.
”OJK menilai, sasaran yang ditetapkan sesuai dengan hasil revisi tersebut masih tetap bisa memberikan kontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara menyeluruh,” ujarnya.
Sejak awal tahun, OJK turut memperkirakan, pertumbuhan kredit oleh industri perbankan akan berada dalam kisaran 9-11 persen dan pertumbuhan DPK berkisar 6-8 persen pada 2025. Berkaca dari perkiraan tersebut, baik pertumbuhan kredit dan DPK hingga Mei 2025 berada di bawah proyeksi OJK.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Retma Wati