Meski berada di atas rerata industri, laju pertumbuhan kredit Himbara pada triwulan I-2025 melambat, baik dibanding triwulan sebelumnya maupun secara tahunan.
01 Mei 2025 17:45 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Penyaluran kredit oleh Himpunan Bank-bank Milik Negara alias Himbara pada triwulan I-2025 melambat, antara lain dipengaruhi daya beli masyarakat dan kondisi makroekonomi. Akibatnya, laba bersih yang diperoleh Himbara pada awal tahun ini merosot seiring dengan langkah antisipasi risiko kredit ke depan.
Dalam sepakan terakhir, bank-bank pelat merah merilis laporan kinerja keuangannya pada triwulan I-2025. Mereka adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, serta PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN.
Berdasarkan agregasi laporan kinerja triwulan I-2025, penyaluran kredit oleh Himbara mencapai Rp 4.174,24 triliun atau tumbuh 10,34 persen secara tahunan. Porsi terbesar penyaluran kredit itu berasal dari Bank Mandiri dan BRI.
Pertumbuhan kredit tersebut berada di atas rerata industri yang per Maret 2025 tumbuh 9,16 persen secara tahunan. Namun, pertumbuhan kredit Himbara itu lebih rendah dibanding triwulan I-2024 yang tumbuh 13,96 persen dan triwulan IV-2024 yang tumbuh 12,6 persen.
Selanjutnya, laba bersih bank badan usaha milik negara (BUMN) tersebut juga lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Per triwulan I-2025, laba bersih Himbara tercatat sebesar Rp 31,34 triliun atau turun 11,26 persen dibanding triwulan I-2024 yang sebesar Rp 34,87 triliun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/aa3cf9a4-ec06-4a71-8bbf-f5a100962a31_png.png)
Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, Kamis (1/5/2025) mengatakan, ada kecenderungan bank sedikit menahan penyaluran kreditnya demi menjaga likuiditas. Selain itu, pertumbuhan kredit juga dipengaruhi faktor lain, seperti daya beli masyarakat dan faktor global.
”Beberapa faktor, menurut saya, di antaranya terkait dengan likuiditas bank yang perlu tetap dijaga, kondisi makro yang belum sepenuhnya membaik, terutama daya beli masyarakat dan faktor global. Ke depan, apabila perang tarif mulai mereda dan daya beli membaik, pada triwulan II-2025 kredit juga akan membaik,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Mengetatnya tingkat likuiditas perbankan itu salah satunya tampak dari rasio kredit dibanding dana pihak ketiga (DPK) atau loan to deposit ratio (LDR). Per Februari 2025, LDR industri perbankan mencapai 87,67 persen, meningkat dari Januari 2025 sebesar 87,64 dan dibanding Februari 2024 yang sebesar 84,05 persen.
Dampak dari penurunan daya beli dan faktor makro lainnya pada dunia usaha juga mendorong penurunan kualitas kredit sehingga beban CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) meningkat. Bank juga melihat faktor risiko ini ke depan.
Di sisi lain, perlambatan kredit turut dipengaruhi sektor usaha yang cenderung mengerem ekspansi bisnis seiring dengan pelemahan daya beli masyarakat. Kondisi ini, antara lain, tecermin dari penurunan penjualan ritel serta peningkatan pengangguran seiring badai pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menurut Trioksa, melambatnya kredit juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap merosotnya laba bersih Himbara. Di sisi lain, penurunan laba tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya beban pencadangan perbankan.
”Dampak dari penurunan daya beli dan faktor makro lainnya pada dunia usaha juga mendorong penurunan kualitas kredit sehingga beban CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) meningkat. Bank juga melihat faktor risiko ini ke depan,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/11/d078f6928b27f23054353e602a88243d-Screenshot_2025_04_11_162626.png)
Adapun beban pencadangan BRI pada triwulan I-2025 tercatat sebesar Rp 12,27 triliun atau naik 14,6 persen secara tahunan, Mandiri sebesar Rp 3,89 triliun atau naik 8,31 persen, BNI sebesar Rp 1,76 triliun atau naik 0,9 persen, dan BTN sebesar Rp 979 miliar atau naik 49 persen.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menyebut, bank BUMN menjadi motor utama pertumbuhan kredit, yaitu sebesar 10,93 persen secara tahunan pada Februari 2025. Dilihat secara sektoral, tiga sektor utama pendorong kredit adalah industri pengolahan, transportasi dan pergudangan, serta pertambangan.
”Industri perbankan perlu memetakan lebih jauh sektor-sektor dan debitor yang dapat terdampak dari ketidakpastian global, utamanya yang dapat mengalami penurunan kemampuan membayar. Kemudian, senantiasa memitigasi peningkatan risiko kredit dengan pembentukan CKPN yang memadai, serta mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran dan monitoring kredit,” kata Dian secara tertulis.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, perekonomian global sepanjang triwulan I-2025 masih diwarnai ketidakpastian akibat tensi geopolitik dan berlanjutnya perang tarif. Meski akan berdampak dalam jangka pendek, perang tarif tidak akan berdampak signifikan lantaran ekonomi Indonesia lebih bergantung pada konsumsi domestik.
Namun, konsumsi domestik sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional masih belum pulih sepenuhnya seperti kondisi sebelum pandemi Covid-19. Kondisi itu berpengaruh kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi salah satu fokus utama BRI.
”Dalam kondisi tersebut, BRI terus memperkuat perannya sebagai bank yang pro-rakyat dengan tetap fokus menumbuhkembangkan dan memberdayakan UMKM Indonesia sebagai upaya nyata dalam mendukung pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional,” kata Hery dalam Paparan Kinerja Keuangan BRI Triwulan I-2025 secara virtual, Rabu (30/4/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/30/cf44b9b0-182a-4795-b925-9b4ca769929b_jpg.jpg)
Hingga akhir Maret 2025, penyaluran kredit BRI tercatat sebesar Rp 1.373,66 triliun atau tumbuh 4,97 persen secara tahunan. Dari total kredit tersebut, sebagian besar kredit disalurkan ke segmen UMKM dengan porsi mencapai 81,97 persen atau sebesar Rp 1.126,02 triliun.
Sejalan dengan itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) bruto pada triwulan I-2025 sebesar 2,97 persen atau turun dibanding triwulan I-2024 yang sebesar 3,11 persen.
Kendati demikian, perseroan tetap menyiapkan pencadangan yang memadai untuk mengantisipasi potensi pemburukan kualitas aset, tecermin dari rasio NPL coverage yang mencapai 200,6 persen. Ini, antara lain, sebagai antisipasi tekanan ekonomi dan geopolitik global.
Kami tetap melihat pentingnya kewaspadaan, terutama terhadap dampak lanjutan dari ketegangan perdagangan global. Sebagai pelaku industri keuangan, Bank Mandiri terus memperkuat manajemen risiko dan menjaga likuiditas secara hati-hati.
Herry menambahkan, bank yang memiliki fungsi intermediasi tidak begitu saja menyalurkan kredit kepada nasabah. Sebaliknya, bank tetap memperhatikan berbagai risiko dan mengikuti siklus, serta pertumbuhan bisnis nasabahnya.
Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menyampaikan, pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, menjadi sinyal penting bagi dunia usaha dan sektor perbankan.
”Kami tetap melihat pentingnya kewaspadaan, terutama terhadap dampak lanjutan dari ketegangan perdagangan global. Sebagai pelaku industri keuangan, Bank Mandiri terus memperkuat manajemen risiko dan menjaga likuiditas secara hati-hati,” katanya dalam Paparan Kinerja Triwulan I 2025, secara daring, Selasa (29/4/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/09/23946163-ccc8-42c7-9d00-99e206e6c20a_jpg.jpg)
Per Maret 2025, kredit konsolidasi yang disalurkan oleh Bank Mandiri tercatat sebesar Rp 1.672 triliun atau tumbuh 16,5 persen secara tahunan. Ini terutama didorong oleh pertumbuhan positif, baik di segmen wholesale maupun retail.
Secara khusus, penyaluran kredit tersebut menyasar beberapa sektor yang dianggap prospektif dan berdaya tahan, seperti konstruksi dan infrastruktur, energi, makanan dan minuman, serta sektor padat karya lainnya. Adapun kredit korporasi Bank Mandiri tumbuh sebesar 20 persen secara tahunan menjadi Rp 608 triliun.
Kinerja penyaluran kredit tersebut sejalan dengan pertumbuhan DPK yang per Maret 2025 mencapai Rp 1.748 triliun atau tumbuh 11,2 persen secara tahunan, yang utamanya didorong oleh dana murah. Sementara itu, kualitas kredit tetap dijaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) pada Maret 2025 sebesar 1,01 persen.
Kendati demikian, manajemen risiko tetap dilakukan dengan menjaga rasio NPL coverage berada pada level 299 persen. Secara keseluruhan, Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi pada triwulan I-2025 sebesar Rp 13,2 triliun atau tumbuh 3,9 persen secara tahunan.
Darmawan menambahkan, Bank Mandiri tetap optimistis terhadap peluang pertumbuhan ke depan di tengah tantangan perekonomian global. Dengan tetap berfokus pada sektor yang prospektif dan berdaya tahan, kualitas aset dapat terjaga secara berkelanjutan di tengah volatilitas pasar.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto