Produksi kopi global yang terus turun akibat perubahan iklim berpengaruh pada harga secangkir kopi.
05 Mei 2025 18:06 WIB · Foto
Cuaca ekstrem yang terjadi diberbagai belahan bumi, termasuk di negeri penghasil kopi terbesar di dunia, Brasil, membuat harga kopi terus beranjak tinggi. Hujan yang terlambat datang pada musimnya di tahun lalu membuat perkebunan kopi mengalami gagal panen. Sebagian yang berhasil panen hasilnya menurun drastis.
Biji yang dihasilkan tanaman kopi juga mengalami perubahan bentuk, menjadi sedikit lebih kecil. Pemilik perkebunan mengatasi dengan membuat pengairan dengan pipa-pipa yang menghubungkan satu tanaman ke tanaman disebelahnya, tetapi ini membuat biaya produksi menjadi membengkak. Perubahan iklim membuat harga kopi melambung.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/d81e8b97-db1c-41f5-bebf-80362b9590e0_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/0b67b566-5543-434b-b687-7078c74ab80c_jpg.jpg)
Renee Colon, dengan rambut ungu dan merah mudanya membuka salah satu karung berisi biji kopi Brasil di sebuah gudang sewaan di pusat sangrai kopi Fuego Coffee Roasters di New York, Amerika Serikat.
”Sayangnya, kopi akan semakin langka,” kata Colon sambil mengamati biji kopi di telapak tangannya.
Menurut dia, biji kopi tersebut sangat berharga karena mampu bertahan dari kekeringan parah di tahun lalu ketika kondisi lingkungan menekan produksi kopi secara global. Hal itu menyebabkan harga biji kopi mentah naik dua kali lipat hanya dalam beberapa bulan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/dbbcc799-9208-41c7-9ea9-eff3a9c65681_jpg.jpg)
Kerugian akibat panas dan kekeringan telah menurunkan hasil panen di Brasil dan Vietnam, penanam kopi terbesar di dunia, seperti dikutip Associated Press. Walau masih diperkirakan akan meningkat, produksi global tidak sebanyak yang diharapkan investor pasar komoditas.
Hal itu menyebabkan harga kopi naik, terutama karena permintaan yang terus tinggi di Eropa, AS, dan China. Harga kopi mencapai puncaknya pada Februari yang memaksa pemanggang seperti Colon mempertimbangkan berapa banyak biaya yang harus diserap dan berapa banyak yang harus dibebankan kepada konsumen.
Pada Maret lalu, biaya sangrai biji kopi di fasilitas milik Colon adalah 5,5 dollar AS. Biaya ini adalah dua kali lipat jika dibandingkan dengan biaya sangrai pada September tahun lalu. Untuk jenis kopi tertentu, harganya bisa lebih mahal lagi.
Iklim bukan satu-satunya hal yang mendorong kenaikan harga, tarif 10 persen Presiden Donald Trump yang mencakup sebagian besar negara penghasil kopi, termasuk Brasil, Etiopia, dan Kolombia, diperkirakan akan menaikkan biaya bagi warga Amerika.
”Dengan semua perubahan dalam kopi ini, mungkin kita harus membuka perkebunan sendiri,” ucap Colon.
Namun, itu bukan hal yang mudah untuk diwujudkan. Perdesaan di New York tentu saja bukan pilihan. Kopi terbaik di dunia tumbuh subur di dekat Khatulistiwa, yang musimnya panjang, dan di dataran tinggi, pertumbuhan yang lambat memungkinkan biji kopi mendapatkan rasa.
Harga tinggi biji kopi asal Brasil pada Maret tahun ini bahkan memecahkan rekor yang dibuat pada 1977 ketika embun beku yang parah memusnahkan 70 persen tanaman kopi Brasil.
Bermacam cara ditempuh pedagang kopi untuk menyiasati situasi ini. Colon yang baru saja mengambil pinjaman bank untuk tambahan modal berusaha meningkatkan penjualan dengan menambah klien grosir baru, seperti kedai kopi, dan menjual langsung ke rumah-rumah melalui layanan berlangganan biji kopi bulanan. Ia bahkan telah menaikkan harga grosir untuk satu pon biji kopi panggang sebesar 25 sen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/c23f9456-a579-419c-b38d-72344b41deea_jpg.jpg)
Nampaknya pencinta kopi harus bersiap merogoh kocek lebih dalam untuk secangkir kopi Brasil di New York.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra