Kebakaran di Korsel Meluas, 24 Orang Tewas

Angin kencang dan cuaca kering memperburuk kebakaran lahan di Korea Selatan. Permukiman hancur, puluhan ribu warga terpaksa dievakuasi.

26 Mar 2025 20:31 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

UISEONG, RABU — Kebakaran di wilayah selatan Korea Selatan semakin memburuk. Amukan api yang sudah berlangsung enam hari ini memakan 24 korban jiwa, menghancurkan lebih dari 200 bangunan, dan memaksa 27.000 penduduk dievakuasi.

Pemerintah Korsel menaikkan level darurat ke level tertinggi menyusul kebakaran yang semakin meluas sebagai dampak perubahan iklim. Penjabat Presiden Korsel Han Duck-soo seusai rapat koordinasi penanggulangan bencana kebakaran, Rabu (26/3/2025), menyatakan, kebakaran hutan yang berlangsung sejak Jumat lalu ini merupakan kebakaran hutan terburuk, menimbulkan kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

”Kebakaran berkembang dengan cara yang melampaui model-model prediksi yang ada dan ekspektasi sebelumnya,” imbuh Han Duck-soo.

Angin kencang dan kondisi kering membuat api menyebar dengan cepat, membuat kewalahan petugas penanggulangan bencana, dan memorakporandakan wilayah tenggara Korsel. Sedikitnya 27.000 orang harus diungsikan dalam kepanikan.

Pengungsi semakin panik karena kebakaran membuat jalan-jalan harus ditutup. Api juga memutus kabel listrik dan jalur komunikasi.

Kantor berita Yonhap melaporkan, badan penanggulangan bencana Korsel mengerahkan puluhan helikopter pemadam kebakaran, 5.000 petugas, dan 560 peralatan untuk memadamkan kebakaran hutan.

Pada Selasa, petugas pemadam kebakaran disebutkan telah memadamkan sebagian besar api di daerah Uiseong. Akan tetapi, angin dan kondisi kering memungkinkan api menyebar lagi. Upaya untuk memadamkan api sebagian lantas ditangguhkan karena angin semakin kencang.

Escaped villagers from wildfires take rest at a shelter in Yeongyang, South Korea, Wednesday, March 26, 2025. (Yun Kwan-shik/Yonhap via AP)

Kebakaran mematikan

Kebakaran hutan di Korsel dimulai di Sancheong, Provinsi Gyeongsang Selatan, pada Jumat (21/3/2025). Angin kencang dan kondisi kering membuat kebakaran meluas hingga ke seluruh wilayah timur laut.

Dalam lima hari terakhir, api telah menyebar ke wilayah Uiseong di dekatnya. Kemudian, api bergerak maju ke wilayah Andong, Cheongsong, Yeongyang, dan Yeongdeok. Wilayah-wilayah itu berdekatan.

Pemerintah Korsel menyatakan, dari 24 korban jiwa yang tercatat hingga Rabu, sebagian besar adalah penduduk setempat. Namun, setidaknya tiga petugas pemadam kebakaran gugur menjadi korban. Seorang pilot juga meninggal ketika helikopter yang digunakan untuk pemadaman jatuh di area pegunungan.

Firefighters inspect the wreckage of a crashed firefighting helicopter at a mountain in Uiseong, South Korea, Wednesday, March 26, 2025. (Son Hyung-joo/Yonhap via AP)

Kementerian Dalam Negeri Korsel menyatakan, kebakaran telah membumihanguskan lahan seluas 17.535 hektar serta merusak sebuah kuil Buddha kuno, lebih dari 200 rumah, dan pabrik. Di Uiseong, 20 dari 30 bangunan dan struktur di Gounsa, kuil yang dibangun pada abad ke-7, pun dirusak api.

Angin kencang dan asap tebal memaksa otoritas di kawasan tenggara Andong untuk mengevakuasi warga di dua desa, termasuk Puncheon, tempat di mana Desa Hahoe, situs warisan dunia UNESCO yang dibangun pada abad ke-14 hingga ke-15, berada.

Para pendaki juga sudah disarankan untuk meninggalkan kawasan Gunung Jiri, salah satu taman nasional terbesar di Korsel, karena arah kobaran api mendekat ke sana.

Pemerintah juga memindahkan 500 narapidana dari penjara di Cheongsong, kota lain di kawasan selatan.

Pemerintah Korsel sudah menaikkan peringatan krisis ke level tertinggi pada Selasa. Langkah itu mengharuskan pemerintah daerah menugaskan lebih banyak pekerja untuk tanggap darurat, memperketat pembatasan masuk ke hutan dan taman, dan merekomendasikan unit militer menahan latihan tembak langsung.

Di kota Andong, sejumlah pengungsi berlindung di gedung olahraga sekolah dasar. Mereka mengatakan harus cepat melarikan diri sehingga tidak sempat membawa apa pun.

”Anginnya sangat kencang,” kata Kwon So-han (79). Warga Andong itu langsung melarikan diri begitu mendapat perintah evakuasi.

”Api itu berasal dari gunung dan jatuh di rumah saya,” ujar So-han.

Han Duck-soo menyatakan, penanggulangan kebakaran hutan di wilayah tenggara Korsel tidak bisa dilakukan dengan metode pemadaman kebakaran konvensional. Metode konvensional memiliki keterbatasan, apalagi saat harus berhadapan dengan perubahan pola angin dan cuaca kering.

”Ribuan petugas pemadam kebakaran telah dikerahkan. Tetapi, angin kencang berkecepatan hingga 25 meter per detik terus berembus dari Selasa sore hingga malam. Angin kencang memaksa penghentian operasi helikopter dan pesawat nirawak,” kata Penjabat Presiden Han.

A bell is seen broken at the remains of the bell pavilion at Goun Temple in Uiseong, South Korea, Wednesday, March 26, 2025. (Kim Do-hoon/Yonhap via AP)

Dampak perubahan iklim

Kebakaran hutan itu disebut sebagai kebakaran paling dahsyat di Korsel oleh Penjabat Presiden Han. Para ahli menyatakan, kebakaran itu berkaitan dengan perubahan iklim.

Badan Meteorologi Korea menyebutkan, tahun lalu merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat di Korsel. Suhu tahunan rata-rata Korsel pada tahun lalu ialah 14,5 derajat celsius. Suhu itu 2 derajat lebih tinggi dari suhu rata-rata 30 tahun sebelumnya yang sebesar 12,5 derajat celsius.

Wilayah tempat kebakaran tersebut mengalami cuaca kering yang tidak biasa dengan curah hujan di bawah rata-rata. Wilayah selatan pada tahun ini juga telah mengalami kebakaran lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Menurut pengamat, beberapa jenis cuaca ekstrem, seperti gelombang panas atau hujan lebat, memiliki hubungan yang kuat dengan perubahan iklim. Sementara fenomena seperti kebakaran hutan, kekeringan, badai salju, dan badai tropis dapat terjadi akibat kombinasi faktor-faktor yang kompleks.

”Kita tidak bisa mengatakan bahwa hal ini hanya disebabkan oleh perubahan iklim, tetapi perubahan iklim secara langsung (dan) tidak langsung memengaruhi perubahan yang kita alami saat ini. Ini adalah fakta yang nyata,” kata Yeh Sang-Wook, profesor bidang klimatologi pada Universitas Hanyang, Seoul.

”Kebakaran hutan akan semakin sering terjadi,” tambahnya.

Pada dasarnya, ujar Yeh Sang-Wook, saat atmosfer menjadi lebih hangat akibat perubahan iklim, uap air di tanah lebih mudah menguap. Hal itu membuat jumlah air yang terkandung di dalam tanah berkurang.

”Jadi, semua ini menciptakan kondisi yang memungkinkan kebakaran hutan terjadi lebih sering,” katanya.

A man sprays water onto a thatched roof for the approaching wildfire in Andong Hahoe Folk Village, in Andong, South Korea, on March 25, 2025. Inhabitants of a UNESCO-listed village were ordered to evacuate while a historic Buddhist temple was burned to the ground as South Korea scrambled to contain worsening wildfires, which are tearing across the country's southeast. (Photo by Yasuyoshi CHIBA / AFP)

Lee Byung-doo, ahli bencana hutan pada Institut Ilmu Kehutanan Nasional, juga menyatakan, perubahan iklim diperkirakan akan membuat kebakaran hutan lebih sering terjadi di seluruh dunia.

”Kita harus mengakui, kebakaran hutan skala besar akan meningkat dan karena itu kita membutuhkan lebih banyak sumber daya dan tenaga kerja terlatih,” ujar Byung-doo. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti