Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Perubahan serangan udara, dari pesawat nirawak menjadi rudal.
- Kontroversi ranjau darat antipersonel bantuan AS untuk Ukraina.
- Perubahan doktrin nuklir Rusia.
- Kiriman pasukan Korea Utara mendukung Rusia.
- Ancaman Perang Dunia III.
Perubahan serangan udara, dari pesawat nirawak menjadi rudal
Memasuki hari ke-1.000, untuk pertama kalinya Ukraina mulai menyerang wilayah Rusia dengan rudal jarak jauh bantuan Amerika Serikat dan Inggris. Rusia membalas menyerang Ukraina dengan menembakkan rudal balistik antarbenua. Rusia juga mengubah doktrin nuklir yang membuatnya begitu mudah melepaskan senjata mematikan itu.
Selama tiga tahun pertama perang Rusia-Ukraina, kedua belah pihak lebih banyak menggunakan pesawat nirawak (drone) berpeledak, sementara pasukan menggunakan tank dan unit-unit mekanis.
Hal ini berubah setelah Ukraina menggunakan rudal jarak jauh pasokan AS dan Inggris untuk menyerang Rusia sejak Selasa (19/11/2024). Rusia membalas dan untuk pertama kali meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) untuk menghantam sasaran strategis di Ukraina, Kamis (21/11/2024).
”Pada pukul 05.00 dan pukul 07.00 (pukul 09.00 dan pukul 11.00 waktu Jakarta), Rusia menembakkan rudal antarbenua ke kota Dnipro,” demikian keterangan Angkatan Udara Ukraina.
Angkatan Udara Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh rudal jelajah Kh-101.
Adapun rudal balistik antarbenua (ICBM) yang ditembakkan Rusia berasal dari pangkalan rudal di Astrakhan, di dekat Laut Kaspia, yang berjarak 1.000 kilometer lebih ke sasaran di kota Dnipro, Ukraina.
Kota Dnipro adalah titik strategis, sebuah kota besar dibelah Sungai Dnipro dan memisahkan negara Ukraina menjadi dua bagian: barat dan timur.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan, serangan Rusia menyasar kawasan industri dan infrastruktur strategis di kota Dnipro. Rudal antarbenua yang diluncurkan Rusia dapat dilengkapi hulu ledak konvensional ataupun nuklir.

Ini langkah yang bisa memicu Perang Dunia III.
Sebelumnya, Ukraina menggunakan rudal taktis Angkatan Darat Amerika Serikat (ATACMS) untuk menyerang Rusia. Inilah pertama kalinya senjata buatan AS dipakai Ukraina untuk menyerang wilayah Rusia. Media Ukraina, RBC, melaporkan, rudal ATACMS diluncurkan pada Selasa (19/11/2024) sore waktu Kyiv atau Selasa malam WIB.
Keesokan harinya, Rabu (20/11/2024), Ukraina juga meluncurkan rudal Storm Shadow buatan Inggris-Perancis ke wilayah Rusia untuk pertama kalinya.
Kontroversi ranjau darat antipersonel bantuan AS untuk Ukraina
Perubahan lainnya adalah disetujuinya bantuan ranjau darat antipersonel dari AS ke Ukraina. Perubahan taktik Rusia di medan tempur membuat sekutu-sekutu Ukraina bergerak menopang pertahanan dan sistem persenjataan. Salah satunya dengan mengizinkan penggunaan ranjau darat antipersonel.
Kantor berita Associated Press, Kamis (21/11/2024), melaporkan, Amerika Serikat telah mengumumkan akan mengirimkan ranjau darat itu guna membantu Ukraina memperlambat capaian Rusia di palagan.
Pengiriman itu menandai dua perubahan besar dalam dukungan militer AS bagi Ukraina hanya dalam beberapa hari. Perubahan signifikan pertama adalah AS mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh bantuan dari AS, ATACMS, untuk menyasar wilayah Rusia. Ukraina langsung menggunakan ATACMS untuk menyerang wilayah perbatasan kedua negara pada Rabu.
Keputusan Amerika Serikat mengirimkan ranjau darat antipersonel dikecam banyak pihak, termasuk kelompok advokasi antiperang. Keputusan ini juga dinilai membalikkan pernyataan Presiden AS Joe Biden tahun 2022 yang menyatakan akan melarang penggunaan ranjau darat.
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin saat menghadiri Forum Pertahanan ASEAN di Vientiane, Laos, Rabu (20/11/2024), mengatakan, perubahan strategi perang membuat situasi di medan tempur berpihak kepada Rusia. ”Mereka memimpin dengan pasukan yang mampu menutup dan melakukan berbagai hal untuk membuka jalan bagi pasukan mekanis. Ukraina ’membutuhkan hal-hal’ yang dapat membantu memperlambat upaya Rusia itu,” katanya.
Sebelumnya, Rusia menggunakan unit-unit mekanis. Kini mereka beralih taktik dengan memperbanyak pasukan infanteri. Para analis menilai, jalannya perang saat ini lebih berpihak kepada Rusia.
Pasukan Rusia yang lebih besar jumlahnya secara perlahan mampu mendesak, bahkan mendorong mundur, pasukan Ukraina di wilayah Donetsk, Ukraina timur. Sementara ribuan warga sipil Ukraina terluka dan terbunuh oleh pesawat nirawak dan rudal yang sering ditembakkan dari dalam wilayah Rusia.
Perubahan doktrin nuklir Rusia
Sehari setelah AS mengizinkan Ukraina menggunakan rudal ATACMS bantuannya untuk menyerang Rusia, tepat di hari ke-1.000 perang, Presiden Rusia Vladimir Putin memperbarui doktrin nuklirnya. Doktrin terbaru itu adalah mempermudah Putin atau pemerintah dan tentara Rusia menggunakan senjata nuklir.
Salah satu perubahan yang terlihat jelas dalam dekret baru yang ditandatangani Putin adalah tentang serangan negara non-nuklir terhadap Rusia.
Di dalam dokumen dekret baru setebal tujuh halaman itu disebutkan bahwa agresi atau serangan negara non-nuklir terhadap Rusia yang dilakukan atas dukungan negara nuklir akan dianggap sebagai serangan gabungan.
Kremlin memandang, dukungan negara-negara Barat dengan membiarkan atau memberi izin kepada Ukraina untuk menyerang Rusia dengan rudal yang mereka kirim sama artinya dengan perang terhadap Rusia.
Sebagai respons, dokumen itu juga menyebut potensi penggunaan senjata nuklir jika Kremlin memiliki informasi yang sahih tentang serangan udara lintas batas masif ke wilayah Rusia menggunakan jet tempur, rudal, atau bahkan pesawat nirawak. Tindakan ini semuanya pernah dilakukan Ukraina.
Perubahan dalam doktrin nuklir Rusia lainnya adalah penempatan Belarus secara resmi di bawah payung nuklir Rusia. Langkah ini dilakukan Putin setelah Kremlin menjadikan Belarus sebagai salah satu lokasi penempatan rudal nuklir taktis Rusia.
Perubahan yang signifikan lainnya adalah dihapusnya pencantuman frasa ”kepatuhan terhadap kewajiban internasional dalam hal pengendalian senjata” sebagai salah satu prinsip deterence atau penangkalan dalam pemanfaatan persenjataan nuklirnya.
Kiriman pasukan Korea Utara dukung Rusia
Korea Utara ditengarai memberangkatkan 10.000 prajurit ke Rusia untuk membantu Moskwa dalam perang melawan Ukraina. Pemberangkatan sesuai dengan perjanjian kedua negara.
Korea Utara menyatakan akan tetap bersama Rusia hingga mencapai ”kemenangan” di Ukraina. Pyongyang pada Sabtu (2/11/2024) juga mengatakan tidak punya pilihan selain terus membangun kapabilitas pertahanan diri.
Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui bertemu dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov di Moskwa, Jumat, dan mengutarakan dukungan Korut kepada Rusia.
Kunjungan itu berlangsung setelah Korea Selatan mengungkap pengiriman sekitar 10.000 tentara Korut ke Rusia untuk berperang di medan Ukraina. Kantor berita Korsel, Yonhap, melaporkan, Barat meyakini ribuan tentara Korut sudah berada di Rusia dan siap diterjunkan ke dalam perang Rusia-Ukraina.
Sebelumnya, keterlibatan Korea Utara mendukung Rusia di medan perang dicurigai dari temuan senjata-senjata buatan Korea Utara. Selain Korea Utara, ditemukan juga senjata-senjata buatan Iran yang digunakan Rusia.
Keberadaan prajurit Korut di Rusia mendorong AS untuk memberikan tambahan bantuan militer sebesar 425 juta dollar AS kepada Ukraina. Tambahan bantuan itu meliputi pencegat pertahanan udara dan amunisi untuk sistem roket serta artileri untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendesak.
Rusia menyesalkan keputusan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh untuk menyerang wilayah Rusia. Keputusan AS itu dinilai akan memperparah perang Rusia-Ukraina, bahkan dapat memicu Perang Dunia III.
Kremlin, Senin (19/11/2024), menuding AS sengaja mengobarkan api dan memicu eskalasi ketegangan. Kremlin juga ”mengancam” akan ada konsekuensi yang lebih serius jika rudal jarak jauh itu betul-betul digunakan untuk menyerang Rusia.
”Jelas pemerintahan di Washington yang akan turun ini bermaksud mengambil langkah untuk mengipasi api dan memprovokasi eskalasi ketegangan,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, di Moskwa.
”Jika keputusan semacam itu benar-benar dirumuskan dan diumumkan kepada rezim Kyiv, tentu ada putaran ketegangan dan situasi baru secara kualitatif dari sisi keterlibatan AS dalam konflik,” ujarnya.
Hal senada diutarakan anggota senior Majelis Tinggi Parlemen Rusia Dewan Federasi, Andrei Klishas, dan Wakil Kepala Pertama Komite Urusan Internasional Dewan Federasi Vladimir Dzhabarov.
Keduanya menyatakan, Rusia akan segera membalas. ”Ini langkah yang bisa mengarah ke Perang Dunia III,” kata Dzhabarov, seperti dikutip kantor berita Rusia, TASS. (AP/AFP/REUTERS)
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Perubahan serangan udara, dari pesawat nirawak menjadi rudal.
- Kontroversi ranjau darat antipersonel bantuan AS untuk Ukraina.
- Perubahan doktrin nuklir Rusia.
- Kiriman pasukan Korea Utara mendukung Rusia.
- Ancaman Perang Dunia III.
Perubahan serangan udara, dari pesawat nirawak menjadi rudal
Memasuki hari ke-1.000, untuk pertama kalinya Ukraina mulai menyerang wilayah Rusia dengan rudal jarak jauh bantuan Amerika Serikat dan Inggris. Rusia membalas menyerang Ukraina dengan menembakkan rudal balistik antarbenua. Rusia juga mengubah doktrin nuklir yang membuatnya begitu mudah melepaskan senjata mematikan itu.
Selama tiga tahun pertama perang Rusia-Ukraina, kedua belah pihak lebih banyak menggunakan pesawat nirawak (drone) berpeledak, sementara pasukan menggunakan tank dan unit-unit mekanis.
Hal ini berubah setelah Ukraina menggunakan rudal jarak jauh pasokan AS dan Inggris untuk menyerang Rusia sejak Selasa (19/11/2024). Rusia membalas dan untuk pertama kali meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) untuk menghantam sasaran strategis di Ukraina, Kamis (21/11/2024).
”Pada pukul 05.00 dan pukul 07.00 (pukul 09.00 dan pukul 11.00 waktu Jakarta), Rusia menembakkan rudal antarbenua ke kota Dnipro,” demikian keterangan Angkatan Udara Ukraina.
Angkatan Udara Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh rudal jelajah Kh-101.
Adapun rudal balistik antarbenua (ICBM) yang ditembakkan Rusia berasal dari pangkalan rudal di Astrakhan, di dekat Laut Kaspia, yang berjarak 1.000 kilometer lebih ke sasaran di kota Dnipro, Ukraina.
Kota Dnipro adalah titik strategis, sebuah kota besar dibelah Sungai Dnipro dan memisahkan negara Ukraina menjadi dua bagian: barat dan timur.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan, serangan Rusia menyasar kawasan industri dan infrastruktur strategis di kota Dnipro. Rudal antarbenua yang diluncurkan Rusia dapat dilengkapi hulu ledak konvensional ataupun nuklir.

Ini langkah yang bisa memicu Perang Dunia III.
Sebelumnya, Ukraina menggunakan rudal taktis Angkatan Darat Amerika Serikat (ATACMS) untuk menyerang Rusia. Inilah pertama kalinya senjata buatan AS dipakai Ukraina untuk menyerang wilayah Rusia. Media Ukraina, RBC, melaporkan, rudal ATACMS diluncurkan pada Selasa (19/11/2024) sore waktu Kyiv atau Selasa malam WIB.
Keesokan harinya, Rabu (20/11/2024), Ukraina juga meluncurkan rudal Storm Shadow buatan Inggris-Perancis ke wilayah Rusia untuk pertama kalinya.
Kontroversi ranjau darat antipersonel bantuan AS untuk Ukraina
Perubahan lainnya adalah disetujuinya bantuan ranjau darat antipersonel dari AS ke Ukraina. Perubahan taktik Rusia di medan tempur membuat sekutu-sekutu Ukraina bergerak menopang pertahanan dan sistem persenjataan. Salah satunya dengan mengizinkan penggunaan ranjau darat antipersonel.
Kantor berita Associated Press, Kamis (21/11/2024), melaporkan, Amerika Serikat telah mengumumkan akan mengirimkan ranjau darat itu guna membantu Ukraina memperlambat capaian Rusia di palagan.
Pengiriman itu menandai dua perubahan besar dalam dukungan militer AS bagi Ukraina hanya dalam beberapa hari. Perubahan signifikan pertama adalah AS mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh bantuan dari AS, ATACMS, untuk menyasar wilayah Rusia. Ukraina langsung menggunakan ATACMS untuk menyerang wilayah perbatasan kedua negara pada Rabu.
Keputusan Amerika Serikat mengirimkan ranjau darat antipersonel dikecam banyak pihak, termasuk kelompok advokasi antiperang. Keputusan ini juga dinilai membalikkan pernyataan Presiden AS Joe Biden tahun 2022 yang menyatakan akan melarang penggunaan ranjau darat.
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin saat menghadiri Forum Pertahanan ASEAN di Vientiane, Laos, Rabu (20/11/2024), mengatakan, perubahan strategi perang membuat situasi di medan tempur berpihak kepada Rusia. ”Mereka memimpin dengan pasukan yang mampu menutup dan melakukan berbagai hal untuk membuka jalan bagi pasukan mekanis. Ukraina ’membutuhkan hal-hal’ yang dapat membantu memperlambat upaya Rusia itu,” katanya.
Sebelumnya, Rusia menggunakan unit-unit mekanis. Kini mereka beralih taktik dengan memperbanyak pasukan infanteri. Para analis menilai, jalannya perang saat ini lebih berpihak kepada Rusia.
Pasukan Rusia yang lebih besar jumlahnya secara perlahan mampu mendesak, bahkan mendorong mundur, pasukan Ukraina di wilayah Donetsk, Ukraina timur. Sementara ribuan warga sipil Ukraina terluka dan terbunuh oleh pesawat nirawak dan rudal yang sering ditembakkan dari dalam wilayah Rusia.
Perubahan doktrin nuklir Rusia
Sehari setelah AS mengizinkan Ukraina menggunakan rudal ATACMS bantuannya untuk menyerang Rusia, tepat di hari ke-1.000 perang, Presiden Rusia Vladimir Putin memperbarui doktrin nuklirnya. Doktrin terbaru itu adalah mempermudah Putin atau pemerintah dan tentara Rusia menggunakan senjata nuklir.
Salah satu perubahan yang terlihat jelas dalam dekret baru yang ditandatangani Putin adalah tentang serangan negara non-nuklir terhadap Rusia.
Di dalam dokumen dekret baru setebal tujuh halaman itu disebutkan bahwa agresi atau serangan negara non-nuklir terhadap Rusia yang dilakukan atas dukungan negara nuklir akan dianggap sebagai serangan gabungan.
Kremlin memandang, dukungan negara-negara Barat dengan membiarkan atau memberi izin kepada Ukraina untuk menyerang Rusia dengan rudal yang mereka kirim sama artinya dengan perang terhadap Rusia.
Sebagai respons, dokumen itu juga menyebut potensi penggunaan senjata nuklir jika Kremlin memiliki informasi yang sahih tentang serangan udara lintas batas masif ke wilayah Rusia menggunakan jet tempur, rudal, atau bahkan pesawat nirawak. Tindakan ini semuanya pernah dilakukan Ukraina.
Perubahan dalam doktrin nuklir Rusia lainnya adalah penempatan Belarus secara resmi di bawah payung nuklir Rusia. Langkah ini dilakukan Putin setelah Kremlin menjadikan Belarus sebagai salah satu lokasi penempatan rudal nuklir taktis Rusia.
Perubahan yang signifikan lainnya adalah dihapusnya pencantuman frasa ”kepatuhan terhadap kewajiban internasional dalam hal pengendalian senjata” sebagai salah satu prinsip deterence atau penangkalan dalam pemanfaatan persenjataan nuklirnya.
Kiriman pasukan Korea Utara dukung Rusia
Korea Utara ditengarai memberangkatkan 10.000 prajurit ke Rusia untuk membantu Moskwa dalam perang melawan Ukraina. Pemberangkatan sesuai dengan perjanjian kedua negara.
Korea Utara menyatakan akan tetap bersama Rusia hingga mencapai ”kemenangan” di Ukraina. Pyongyang pada Sabtu (2/11/2024) juga mengatakan tidak punya pilihan selain terus membangun kapabilitas pertahanan diri.
Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son Hui bertemu dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov di Moskwa, Jumat, dan mengutarakan dukungan Korut kepada Rusia.
Kunjungan itu berlangsung setelah Korea Selatan mengungkap pengiriman sekitar 10.000 tentara Korut ke Rusia untuk berperang di medan Ukraina. Kantor berita Korsel, Yonhap, melaporkan, Barat meyakini ribuan tentara Korut sudah berada di Rusia dan siap diterjunkan ke dalam perang Rusia-Ukraina.
Sebelumnya, keterlibatan Korea Utara mendukung Rusia di medan perang dicurigai dari temuan senjata-senjata buatan Korea Utara. Selain Korea Utara, ditemukan juga senjata-senjata buatan Iran yang digunakan Rusia.
Keberadaan prajurit Korut di Rusia mendorong AS untuk memberikan tambahan bantuan militer sebesar 425 juta dollar AS kepada Ukraina. Tambahan bantuan itu meliputi pencegat pertahanan udara dan amunisi untuk sistem roket serta artileri untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendesak.
Rusia menyesalkan keputusan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengizinkan Ukraina menggunakan rudal jarak jauh untuk menyerang wilayah Rusia. Keputusan AS itu dinilai akan memperparah perang Rusia-Ukraina, bahkan dapat memicu Perang Dunia III.
Kremlin, Senin (19/11/2024), menuding AS sengaja mengobarkan api dan memicu eskalasi ketegangan. Kremlin juga ”mengancam” akan ada konsekuensi yang lebih serius jika rudal jarak jauh itu betul-betul digunakan untuk menyerang Rusia.
”Jelas pemerintahan di Washington yang akan turun ini bermaksud mengambil langkah untuk mengipasi api dan memprovokasi eskalasi ketegangan,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, di Moskwa.
”Jika keputusan semacam itu benar-benar dirumuskan dan diumumkan kepada rezim Kyiv, tentu ada putaran ketegangan dan situasi baru secara kualitatif dari sisi keterlibatan AS dalam konflik,” ujarnya.
Hal senada diutarakan anggota senior Majelis Tinggi Parlemen Rusia Dewan Federasi, Andrei Klishas, dan Wakil Kepala Pertama Komite Urusan Internasional Dewan Federasi Vladimir Dzhabarov.
Keduanya menyatakan, Rusia akan segera membalas. ”Ini langkah yang bisa mengarah ke Perang Dunia III,” kata Dzhabarov, seperti dikutip kantor berita Rusia, TASS. (AP/AFP/REUTERS)