BINA DAMAI

Perundingan AS-Iran Berantakan Lagi

Trump membatalkan keberangkatan delegasi AS ke Pakistan. Menlu Iran sudah di Pakistan lalu ke Oman.

26 Apr 2026 10:30 WIB · Internasional

AP

Oleh Iwan Santosa

ISLAMABAD, MINGGU — Kelanjutan perundingan damai Amerika Serikat-Iran tidak jelas. Perunding kedua negara batal bertemu lagi di Pakistan.

Kantor berita Iran, IRNA, pada Minggu (26/4/2026), melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dijadwalkan kembali ke Pakistan. Ia meninggalkan Pakistan pada Sabtu (25/4) untuk menuju Oman.

Araghchi dijadwalkan melawat ke Pakistan, Oman, dan Rusia sejak Jumat. Dari Oman, sebelum ke Rusia, Aragchi akan kembali ke Pakistan. Tidak dijelaskan kapan pastinya ia akan kembali ke Islamabad dan apakah ia akan melanjutkan perundingan dengan AS.

Kantor berita Oman, ONA, dan media di Iran, Tasnim, pada Minggu melaporkan Araghchi diterima Sultan Haitham bin Tariq. Mereka membahas upaya perdamaian di kawasan. Sebelum AS-Israel menyerang Iran, Oman jadi mediator.

Di Islamabad, Araghchi bertemu Perdana Menteri Shehbaz Sharif, Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Besar Asim Munir, dan Menlu Ishaq Dar. Araghchi menggambarkan perjalanannya ke Pakistan sebagai ”sangat bermanfaat”, tetapi mengisyaratkan skeptisisme atas niat Washington.

”Berbagi posisi Iran mengenai kerangka kerja yang dapat diterapkan untuk mengakhiri perang di Iran secara permanen. Belum melihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi,” kata Araghchi.

In this photo released by the Iranian Foreign Ministry, Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi, right, shakes hands with Oman's Sultan Haitham bin Tariq during their meeting, in Muscat, Oman, Sunday, April 26, 2026. (Iranian Foreign Ministry via AP)

Sementara Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatalan keberangkatan delegasi AS ke Pakistan. ”Kami memiliki semua kartu. Mereka dapat menghubungi kami kapan saja mereka mau. Akan tetapi, Anda tidak akan melakukan penerbangan 18 jam lagi untuk duduk-duduk membicarakan hal yang tidak penting,” ujarnya.

Ia membatalkan keberangkatan karena tidak terkesan dengan posisi negosiasi Teheran. Ia menambahkan, proposal yang direvisi menyusul dalam beberapa menit setelah keputusannya. ”Mereka memberi kami dokumen yang seharusnya lebih baik dan—yang menarik—segera setelah saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit, kami mendapat dokumen baru yang jauh lebih baik,” katanya.

Menantu Trump, Jared Kushner, dan Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff, awalnya disebut akan berangkat ke Pakistan untuk melanjutkan perundingan. Lalu, Trump mengumumkan mereka batal berangkat.

”Jika mereka ingin berbicara, yang harus mereka lakukan hanyalah menelepon!!!. Terlalu banyak waktu terbuang untuk bepergian, terlalu banyak pekerjaan!” kata Trump.

Police officers walk past posters highlighting Pakistan's mediation of Iran�US peace talks near the Serena Hotel at the Red Zone area in Islamabad on April 25, 2026. Iran's foreign minister arrived in Islamabad on April 24 and US envoys headed to the Pakistani capital in a bid to kickstart a new round of peace negotiations amid a fragile ceasefire. (Photo by Aamir QURESHI / AFP)

Sebelumnya, Trump juga menyatakan Wakil Presiden AS JD Vance tak akan memimpin delegasi AS seperti di putaran awal Perundingan Islamabad. Lalu, Gedung Putih menyatakan Vance akan tetap berangkat bersama Witkoff dan Kushner. Kini, semuanya batal berangkat.

Tidak selesai

Jon Alterman, Ketua Keamanan Global dan Geostrategi pada CSIS, mengatakan bahwa rekam jejak Trump menunjukkan nalurinya cenderung untuk membuat berita utama dan mengumumkan hasil yang cepat.

”Bagian pertempuran yang paling terlihat telah berhenti, tetapi upaya yang kurang terlihat terus berlanjut. Gencatan senjata mungkin tampak nyaman, tetapi justru mengunci pola yang tidak berkelanjutan, dengan satu pihak merasa telah kehilangan urgensi untuk menyelesaikan konflik yang mendasarinya,” ujarnya.

Gencatan senjata ”tidak menyelesaikan apa pun—gencatan senjata hanya mencegah keadaan menjadi lebih buruk,” kata Michael Ratney, mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi. ”Ini adalah bagian dari jawaban atas masalah politik mendesak, yaitu (Trump) perlu keluar dari perang dan tidak tahu bagaimana caranya.”

Police officers stand guard at a closed road leading to the Serena Hotel at the Red Zone area in Islamabad on April 22, 2026. Pakistani Prime Minister Shehbaz Sharif thanked US President Donald Trump on April 22, for extending a ceasefire with Iran that had been soon set to expire and urged both sides to continue talks. (Photo by Aamir QURESHI / AFP)

Selama berminggu-minggu, Trump telah bimbang antara ancaman untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur Iran—pada satu titik mengancam untuk mengakhiri ”seluruh peradaban”—dan upaya untuk menegosiasikan kesepakatan tentang program nuklirnya dan perselisihan lain yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Minggu ini ia memperpanjang gencatan senjata, tetapi mengatakan akan mempertahankan blokade Angkatan Laut AS di pelabuhan Iran. Pada hari Rabu, ia bersumpah untuk menyerang kapal cepat Iran di Selat Hormuz, yang secara efektif telah dicekik Teheran sejak awal perang, memicu krisis energi di seluruh dunia.

Iran belum memberikan indikasi publik bahwa mereka bersedia membuat konsesi pada program nuklirnya, rudal balistik, atau dukungan untuk proksi regional. Iran juga menyatakan, Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai AS mencabut blokade dan Israel menghentikan serangan ke Lebanon.

Iran telah menegaskan, gencatan senjata Israel-Lebanon adalah bagian dari gencatan senjata AS-Iran. Dalam sepekan terakhir, AS telah dua kali mengumumkan ada gencatan senjata di Lebanon.

Faktanya, PM Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu memerintahkan serangan besar-besaran ke Lebanon. Perintah dikeluarkan dua hari setelah Trump mengumumkan gencatan senjata Israel-Lebanon berlanjut tiga pekan.

Media Lebanon melaporkan serangan Israel di setidaknya empat lokasi di selatan. Terpantau dua serangan beruntun di sebuah kota di distrik Bint Jbeil, satu lagi di sebuah kota di distrik Tyre, dan serangan di dua kota lagi di distrik Nabatieh. Serangan di Nabatieh dan Bint Jbeil menewaskan enam orang.

Amal Khalil, seorang jurnalis Lebanon yang bekerja untuk surat kabar harian Al-Akhbar, melaporkan di dekat jembatan yang hancur di Qasmiyeh, Lebanon, Rabu (22/4/2026).

AP/Mohammed Zaatari
Zainab, saudara perempuan jurnalis Lebanon Amal Khalil, yang tewas pada hari Rabu dalam serangan udara Israel, memeluk helm dan peti mati Khalil  di desa Baysariyeh, Lebanon selatan, Kamis (23/4/2026).

AP/Mohammed Zaatari

Ketua Fraksi Hizbullah di Parlemen Lebanon, Mohammed Raad, mendesak Lebanon untuk menarik diri dari pembicaraan. Ia memperingatkan, kesepakatan apa pun akan kekurangan konsensus nasional.

Israel telah mengindikasikan rencananya untuk menduduki sebagian besar wilayah Lebanon selatan tanpa batas waktu. Seperti di Gaza, pasukan Israel telah menarik ”garis kuning” di Lebanon selatan, menghancurkan rumah-rumah yang diklaim Israel digunakan oleh Hizbullah.

Israel mencegah orang-orang untuk kembali. Israel juga mengumumkan serangan terhadap orang-orang yang menurut mereka adalah militan yang mencoba menyeberanginya. Banyak orang di Lebanon takut akan kembalinya pendudukan Israel di selatan pada 1982-2000.

China disanksi

Pemerintah AS juga telah menjatuhkan sanksi pada kilang minyak ”kecil” swasta di China karena kilang itu membeli minyak Iran senilai miliaran dolar AS.

Departemen Keuangan AS menargetkan Kilang Petrokimia Hengli (Dalian). Depkeu AS menyebut, kilang itu salah satu pelanggan terbesar Iran untuk minyak mentah dan produk petroleum.

Kantor Pengawasan Aset Asing Depkeu AS telah menjatuhkan sanksi kepada sekitar 40 perusahaan pelayaran dan kapal yang beroperasi sebagai bagian dari armada bayangan Iran.

China menentang sanksi sepihak yang ”ilegal” itu. Kedutaan Besar China di Washington DC menyatakan, perdagangan normal tidak boleh dirugikan.

”Kami menyerukan kepada AS untuk berhenti memolitisasi isu perdagangan dan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menggunakannya sebagai senjata dan alat dan berhenti menyalahgunakan berbagai jenis sanksi untuk menyerang perusahaan-perusahaan China,” kata juru bicara Kedutaan Besar China.

Tahun lalu, AS menyanksi perusahaan penyulingan minyak Hebei Xinhai Chemical Group, Shandong Shouguang Luqing Petrochemical, dan Shandong Shengxing Chemical. Hal itu menciptakan beberapa hambatan bagi perusahaan penyulingan tersebut, termasuk kesulitan menerima minyak mentah dan harus menjual produk olahan dengan nama yang berbeda.

Perusahaan penyulingan minyak ini menyumbang seperempat dari kapasitas penyulingan minyak di China. Mereka beroperasi dengan margin yang sempit dan terkadang negatif. Lalu, baru-baru ini, mereka tertekan oleh permintaan domestik yang lesu. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji