GEOPOLITIK

Trump Ultimatum Iran, Sepakat atau Hadapi Hal Buruk

Trump ”memaksa” Iran segera membuat kesepakatan dalam 10-15 hari ke depan. AS terus meningkatkan kekuatan militer di Timur Tengah, Iran bersiap.

20 Feb 2026 10:34 WIB · Internasional

AFP

Oleh Helena Fransisca Nababan

WASHINGTON, JUMAT — Meskipun menyatakan putaran kedua perundingan program nuklir Iran-AS di Geneva, Swiss, berjalan baik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap mengultimatum Teheran. Trump ”memaksa” Iran segera membuat kesepakatan dalam 10-15 hari ke depan. Jika tidak, Iran akan menghadapi ”hal-hal yang sangat buruk.”

”Saya pikir itu akan cukup waktu, 10, 15 hari, paling lama,” ujar Trump dari atas pesawat Air Force One, Kamis (19/2/2026), seperti dikutip Reuters.

JOINT BASE ANDREWS, MARYLAND - FEBRUARY 19: U.S. President Donald Trump steps off of Air Force One after returning to the nation's capital on February 19, 2026 at Joint Base Andrews, Maryland. Trump traveled to Rome, Georgia, and spoke about the economy while visiting a steel plant and restaurant.   Chip Somodevilla/Getty Images/AFP (Photo by CHIP SOMODEVILLA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Kemudian, dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington, Trump kembali mengulangi ancamannya kepada Iran. Jika dalam periode waktu itu Iran tak kunjung membuat kesepakatan terkait program nuklirnya, hal-hal buruk akan terjadi pada Iran.

”Dunia akan mengetahui, dalam 10 hari ke depan, apakah AS akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil tindakan militer,” ujar Trump seperti dikutip BBC, Jumat (20/2/2026).

Trump memang tidak memerinci lebih detail tentang ancaman itu. Namun, dunia mengetahui, di saat perundingan masih berjalan tahun lalu, AS melakukan serangan udara ke Iran pada Juni 2025. Dalam serangan saat itu AS mengatakan ”menghancurkan” situs nuklir dan militer Iran.

Infografik lokasi situs nuklir fordow di Iran, AFP

Sebelumnya, Trump telah berulang kali mengancam akan menyerang Iran. Ancaman itu awalnya terkait penindakan brutal Iran terhadap para demonstran bulan lalu. Baru-baru ini, ancaman Trump berkaitan dengan kemajuan perundingan putaran kedua AS-Iran tentang program nuklir Iran. Negosiator Iran dan AS sudah bertemu pada Selasa (17/2/2026).

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan, kedua belah pihak sudah menyepakati ”prinsip-prinsip panduan”. Namun, Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Rabu (18/2/2026) mengatakan, kedua pihak masih berbeda pendapat mengenai beberapa isu.

Pada intinya, Washington menginginkan Iran untuk sepenuhnya menghentikan pengayaan uranium. Proses ini digunakan untuk menciptakan bahan bakar bagi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), tetapi juga dapat menyediakan material untuk hulu ledak.

AS dan sekutunya, Israel, juga menginginkan Iran menghentikan pembuatan rudal balistik jarak jauh, berhenti mendukung kelompok-kelompok di sekitar Timur Tengah, dan berhenti menggunakan kekerasan untuk menekan protes internal.

Foto yang dirilis oleh situs web resmi Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) Sepanews pada Senin (16/2/2026) menunjukkan sebuah kendaraan menembakkan rudal selama latihan militer oleh anggota IRGC dan angkatan laut Iran.

Iran menolak membahas isu-isu di luar masalah nuklir. Iran tetap mengatakan, sampai saat ini belum melakukan pengayaan uranium dan bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai. Iran menyebut upaya untuk membatasi persenjataan rudalnya sebagai garis merah.

Menurut seorang pejabat senior AS yang berbicara secara anonim, Iran setuju menyusun proposal tertulis untuk mengatasi kekhawatiran AS yang muncul selama pembicaraan nuklir tidak langsung di Geneva.

Meski demikian, Iran tetap menanggapi ancaman terbaru Trump itu. Teheran bersurat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Dalam surat kepada Dewan Keamanan PBB (DK PBB) pada Kamis, Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menulis, bahwa meskipun Iran tidak mencari ”ketegangan atau perang dan tidak akan memulai perang”, setiap agresi AS akan ditanggapi ”secara tegas dan proporsional”.

”Dalam keadaan seperti itu, semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan itu akan menjadi target yang sah dalam konteks respons defensif Iran,” kata Iravani seperti dikutip The Associated Press.

In this handout photograph released by the US Navy on February 6, 2026, Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln (CVN 72) and Arleigh Burke-class guided-missile destroyer USS Frank E. Petersen Jr. (DDG 121) sail in the Arabian Sea, on February 6. The two foes recently resumed indirect talks, after the US president repeatedly threatened military action against Iran, at first over a deadly crackdown on protesters last month then more recently over its nuclear programme. Iran's atomic energy chief on February 19, 2026, said "no country can deprive Iran of the right" to nuclear enrichment, following fresh US warning that there were "many reasons" to strike the Islamic republic. (Photo by Petty officer 1st Class Jesse Monford / US NAVY / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / U.S. Navy/ Mass Communication Specialist 1st Class Jesse Monford" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Ketegangan meningkat

Di saat perundingan belum menunjukkan kemajuan signifikan, AS terus menambah kekuatan militernya di Timur Tengah. Sementara itu, Teheran mengeluarkan peringatan mengenai peluncuran roket. Ketegangan di kawasan meningkat, ancaman perang di depan mata.

Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz sebagai persiapan untuk menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di perairan itu. Kemudian, pada Kamis Iran menggelar latihan bersama Rusia di Teluk Oman, di jalur laut vital untuk energi global.

”Latihan bersama itu bertujuan untuk ’meningkatkan koordinasi operasional serta pertukaran pengalaman militer’,” demikian diberitakan kantor berita IRNA milik Pemerintah Iran.

Rekaman yang dirilis Iran menunjukkan anggota pasukan khusus angkatan laut Garda Revolusi paramiliter menaiki sebuah kapal dalam latihan tersebut. Mereka juga menggunakan helikopter.

Citra satelit juga memperlihatkan Iran sudah memperbaiki dan memperkuat lokasi nuklir dan rudal sejak musim panas lalu. Sementara itu, AS melakukan persiapan di pangkalan AS di seluruh Timur Tengah selama sebulan terakhir.

Selain menempatkan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama gugus tempur laut AS di Laut Arab, AS juga memobilisasi kapal induk USS Gerald R Ford dan gugus tempur laut pendukungnya. Dalam pelacakan BBC, kapal perang terbesar di dunia itu berada di lepas pantai Maroko di Samudra Atlantik pada Rabu (18/2/2026). Kapal itu tampak bergerak menuju Laut Mediterania.

”Minggu ini, 50 pesawat tempur AS lainnya, seperti F-35, F-22, dan F-16, diperintahkan ke wilayah tersebut, melengkapi ratusan pesawat yang dikerahkan ke pangkalan-pangkalan di negara-negara Teluk Arab,” tulis lembaga think tank Soufan Center yang berbasis di New York.

”Pengerahan ini memperkuat ancaman Trump, yang diulangi hampir setiap hari, untuk melanjutkan serangan udara dan rudal besar-besaran terhadap rezim jika pembicaraan gagal,” tulis Soufan Center.

This handout photograph from the U.S. Navy shows Aviation Boatswain's Mate 2nd Class Michael Cordova directing an F/A-18F Super Hornet on the flight deck of the Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln in the Indian Ocean on Jan. 23, 2026. (Mass Communication Specialist Seaman Daniel Kimmelman/U.S. Navy via AP)

Seorang pejabat senior AS secara anonim menyampaikan, para pejabat keamanan nasional tingkat atas berkumpul pada Rabu untuk membahas Iran. Mereka diberi pengarahan bahwa ”pasukan penuh” yang dibutuhkan untuk melakukan potensi aksi militer diperkirakan akan siap pada pertengahan Maret.

”Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membahas Iran pada 28 Februari,” kata pejabat senior AS itu secara anonim.

Menanggapi ancaman perang, militer Jerman memindahkan ”sejumlah personel nonkritis misi” dari sebuah pangkalan di Irak utara. Pemindahan itu juga sejalan dengan tindakan para mitranya. Militer Jerman mengatakan bahwa beberapa pasukan tetap berada di sana untuk membantu menjaga agar kamp multinasional di Irbil, tempat mereka melatih pasukan Irak, tetap beroperasi.

Sementara Polandia pada Kamis menjadi negara Eropa terbaru yang mendesak warganya untuk meninggalkan Iran. Perdana Menteri Donald Tusk mengatakan, warga Polandia mungkin hanya memiliki waktu beberapa jam untuk mengungsi.

In this handout photograph released by the US Navy on February 6, 2026, Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln (CVN 72) sails alongside Arleigh Burke-class guided-missile destroyer USS Frank E. Petersen Jr. (DDG 121) and Lewis and Clark-class dry cargo ship USNS Carl Brashear (T-AKE 7) in the Arabian Sea, on February 6. The two foes recently resumed indirect talks, after the US president repeatedly threatened military action against Iran, at first over a deadly crackdown on protesters last month then more recently over its nuclear programme. Iran's atomic energy chief on February 19, 2026, said "no country can deprive Iran of the right" to nuclear enrichment, following fresh US warning that there were "many reasons" to strike the Islamic republic. (Photo by Petty officer 1st Class Jesse Monford / US NAVY / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / U.S. Navy/ Mass Communication Specialist 1st Class Jesse Monford" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Saham dan minyak

Kekhawatiran terhadap ancaman perang AS-Iran yang bisa meletus kapan saja berdampak pada harga saham AS dan minyak mentah dunia. Pada Kamis, harga saham AS jatuh, sementara harga minyak naik.

Indeks S&P 500 turun 0,3 persen dan menjadi kerugian pertamanya dalam empat hari. Penurunan lain di antaranya terlihat pada saham Dow Jones Industrial Average yang turun 267 poin atau 0,5 persen. Sementara indeks komposit Nasdaq turun 0,3 persen.

Saham Booking Holdings terpantau turun 6,1 persen. Hal itu menjadi salah satu kerugian terbesar di pasar.

Sementara saham peritel Walmart mengalami fluktuasi di pasar. Setelah melonjak ke 2,7 persen pada pembukaan pasar, perusahaan tersebut mengakhiri hari dengan kerugian 1,4 persen.

Adapun untuk saham perusahaan minyak di S&P 500 terpantau naik seiring naiknya harga minyak mentah. Harga minyak naik karena kekhawatiran tentang kemungkinan konfrontasi militer antara AS dan Iran.

Jika konflik pecah, hal itu dapat membatasi aliran minyak global. Saat ini kekhawatiran meletusnya perang membuat harga satu barel minyak mentah acuan AS naik 1,9 persen menjadi 66,43 dolar AS. Sementara itu, harga acuan Brent naik 1,9 persen menjadi 71,66 dolar AS per barel.

Alhasil, harga saham perusahaan minyak naik. Saham Occidental Petroleum, misalnya, melonjak 9,4 persen setelah juga melaporkan laba yang lebih kuat untuk kuartal terakhir daripada yang diperkirakan analis.

Secara keseluruhan, S&P 500 turun 19,42 poin menjadi 6.861,89. Dow Jones Industrial Average turun 267,50 menjadi 49.395,16, dan indeks komposit Nasdaq kehilangan 70,91 poin menjadi 22.682,73.

Di pasar saham luar negeri, indeks turun di Eropa setelah kinerja yang lebih baik di Asia. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 3,1 persen setelah liburan Tahun Baru Imlek di saat pasar saham di Hong Kong dan Shanghai tetap tutup. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra