Harga minyak melonjak saat perundingan AS-Iran belum menemui titik terang. Krisis energi berpotensi memburuk akibat tersendatnya pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
21 Apr 2026 09:00 WIB · Internasional
AFP/Niharika KULKARNI
WASHINGTON DC, SELASA — Perundingan lanjutan Amerika Serikat dan Iran dibayangi ketidakpastian. AS bersikeras memblokade Selat Hormuz dan mengancam melancarkan serangan besar-besaran jika perundingan tidak mencapai kesepakatan. Sementara Iran belum memutuskan untuk menghadiri negosiasi putaran kedua yang dimediasi oleh Pakistan.
Ketegangan yang meningkat menjelang berakhirnya gencatan senjata, Rabu (22/4/2026), berpotensi memperburuk krisis energi. Keputusan Iran membuka Selat Hormuz memberi harapan. Namun, Iran kembali menutup selat itu setelah AS memutuskan tetap memblokade kapal dan pelabuhan Iran.
Di tengah kekhawatiran atas konflik yang kembali memanas, harga minyak dunia melonjak, Senin (20/4/2026). Harga minyak mentah Brent naik 5,6 persen menjadi 95,48 dolar AS atau Rp 1,6 juta per barel. Selama perang yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, harga minyak menembus 119 dolar AS per barel pada Maret lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/02/1adcf8fae098fc7e3484d61fe900d869-wires_photo_342.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/301484cd33d0cb294694f758aef16e02-TOPSHOT_UAE_IRAN_US_ISRAEL_WAR_137657711.jpg)
David Morrison, analis pasar dari perusahaan jasa keuangan Trade Nation, mengatakan, serangan berulang terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak. Hal ini juga meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas antara AS dan Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur vital energi global. Sekitar 20 persen minyak dunia dikirim melalui perairan itu. Blokade telah menghambat pengiriman minyak dari negara-negara Teluk ke sejumlah negara.
”Ketidakpastian juga tetap ada mengenai apakah negosiasi di Islamabad (Pakistan) akan berlanjut setelah Iran mengatakan tidak akan menghadiri pembicaraan selama blokade masih berlaku,” ujar Morrison.
Ketidakpastian negosiasi lanjutan AS-Iran mengguncang pasar saham. Sejumlah indeks saham utama Wall Street turun. Indeks S&P 500 melemah 16,92 poin menjadi 7.109,14. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 4,87 poin menjadi 49.442,56. Indeks Nasdaq Composite juga turun 64,09 poin menjadi 24.404,39.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/20/dd0c241f925897d6485b6790956eecbc-US_DOW_SURGES_OVER_700_POINTS_AS_IRAN_OPENS_STRAIT_OF_HORMUZ_137592702.jpg)
Investor merasa cemas menjelang berakhirnya gencatan senjata AS-Iran. Apalagi, AS mengancam akan melancarkan serangan lebih besar ke Iran jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan. Selama perang berlangsung lebih dari 1,5 bulan, sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah rusak sehingga mengganggu produksi minyak.
Chris Weston, analis pasar keuangan dari perusahaan trading Pepperstone, mengatakan, sejumlah pihak sedang menilai apakah gencatan senjata dapat diselamatkan melalui upaya diplomatik pada pekan ini. ”Tanpa kesepakatan komprehensif tentang program nuklir Iran, gencatan senjata tetap rapuh,” ucapnya.
Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan akan kembali pergi ke Islamabad untuk menghadiri negosiasi putaran kedua. Vance memimpin delegasi AS dalam negosiasi putaran pertama pada 11 April lalu. Negosiasi itu gagal mencapai kesepakatan.
”Perwakilan saya akan pergi ke Islamabad, Pakistan. Mereka akan berada di sana besok malam untuk negosiasi,” ujar Presiden AS Donald Trump.
Meski AS menyatakan akan mengirimkan delegasinya dalam negosiasi putaran kedua, Iran belum memutuskan untuk menghadirinya. Iran menganggap AS telah melanggar gencatan senjata dengan tetap melakukan blokade serta menyita kapal yang menuju pelabuhan Iran.
Trump menegaskan, pihaknya tidak akan mengendurkan blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran. Bahkan, ia mengancam akan kembali menyerang Iran jika tidak tercapai kesepakatan sebelum gencatan senjata berakhir.
”Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka (Iran) menerimanya. Jika tidak, AS akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran,” tulis Trump di platform media sosial Truth Social.
Jika negosiasi kembali buntu, kerusakan akibat perang berpotensi semakin besar. Apalagi, Trump tidak memberikan lampu hijau untuk memperpanjang gencatan senjata. ”Sangat tidak mungkin saya akan memperpanjangnya (gencatan senjata) jika tidak ada kesepakatan yang tercapai sebelum itu,” ujarnya, dilansir dari Bloomberg.
Sebelum gencatan senjata, serangan AS dan Israel juga menyasar sejumlah fasilitas sipil di Iran, seperti sekolah, rumah sakit, jembatan, pembangkit listrik, dan tempat ibadah. Perang telah menimbulkan lebih dari 3.000 korban jiwa di Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/c2fc811e1e0eaaf0a220e5fd46038409-wti_crude_2026_04_13.png)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/17/c4ca16f46dfac6f92578b99c77c67e67-Trump_1_.jpeg)
Saat ini, saling blokade di Selat Hormuz memperuncing ketegangan AS-Iran di perairan itu. Militer AS menyatakan telah menembak kapal kargo berbendera Iran yang menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran, Minggu. Marinir AS turun dari helikopter menggunakan tali ke kapal tersebut.
Militer Iran menyebutkan kapal itu berlayar dari China. Iran menuduh AS melakukan pembajakan bersenjata. China merupakan pembeli utama minyak mentah Iran.
Presiden China Xi Jinping mengaku prihatin atas pencegatan paksa terhadap kapal tersebut. Kantor berita China, Xinhua, melaporkan, Xi menyerukan agar kapal-kapal melanjutkan pelayaran melalui Selat Hormuz seperti biasa, dan mendesak agar konflik diselesaikan melalui jalur politik dan diplomatik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/16/5b57bac2d7e41e23e41dcf5a73ba972e-AP26067501963870.jpg)
”Xi menekankan China menyerukan gencatan senjata dan penghentian permusuhan secara segera dan menyeluruh, mendukung semua upaya yang kondusif untuk memulihkan perdamaian,” demikian tertulis dalam laporan itu.
Meski AS menyatakan akan mengirimkan delegasinya dalam negosiasi putaran kedua, Iran belum memutuskan untuk menghadirinya. Iran menganggap AS telah melanggar gencatan senjata dengan tetap melakukan blokade serta menyita kapal yang menuju pelabuhan Iran.
”Kami tidak memiliki rencana untuk negosiasi putaran berikutnya dan belum ada keputusan yang dibuat dalam hal ini. AS melakukan perilaku yang sama sekali tidak menunjukkan keseriusan dalam mengejar proses diplomatik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan, blokade yang dilakukan AS menjadi hambatan dasar bagi Iran untuk menghadiri negosiasi putaran kedua. Selain itu, terdapat tuntutan AS yang berlebihan, terutama terkait program nuklir Teheran, sehingga mengganjal negosiasi itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/20/5bbe876de00618695e0978332006f64f-APTOPIX_Iran_War_137636246.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/2b50153d3ebebbe01397d3f156cd3c5f-cropped_image.jpg)
”Oleh karena itu, delegasi Iran percaya bahwa selama AS memandang masalah ini secara tidak realistis, perundingan hanya akan menjadi buang-buang waktu dan Iran tidak akan ikut serta dalam proses yang sia-sia ini,” demikian laporan tersebut.
Meskipun dibayangi ketidakpastian, Pakistan tetap bersiap untuk menyelenggarakan negosiasi lanjutan AS-Iran. Hampir 20.000 personel keamanan telah dikerahkan di seluruh Islamabad.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan telah berkomunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Namun, ia tidak menyebutkan apakah delegasi Iran akan hadir pada perundingan putaran kedua dengan AS di Islamabad.
”Dengan dukungan dari teman dan mitra, Pakistan tetap sepenuhnya berkomitmen pada perannya sebagai fasilitator yang jujur dan tulus dalam mewujudkan perdamaian abadi dan stabilitas regional,” tulis Sharif di platform media sosial X. (AFP/REUTERS/AP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti