PM Netanyahu membatalkan pertemuan dengan juru runding Israel dan meminta militer memaparkan rencana operasi. Hamas menuding banyak pelanggaran dilakukan Israel.
06 Feb 2025 13:08 WIB · Internasional
JERUSALEM, KAMIS — Meskipun gencatan senjata tahap 1 relatif berjalan mulus, situasi ketidakpastian justru menguat jelang pelaksanaan gencatan senjata tahap 2. Situasi yang kurang kondusif mulai tampak sejak Selasa (4/2/2025). Pertemuan hanya dihadiri oleh tim perunding Hamas, sementara tim perunding Israel masing menunggu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali dari lawatan ke Washington DC, Amerika Serikat.
Netanyahu berada di AS untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump. Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas sejumlah isu, terutama membahas persoalan Gaza. Seusai pertemuan tersebut, Trump mengungkapkan gagasannya, yaitu mengambil alih Gaza dan memindahkan rakyat Palestina dan Gaza.
Gagasan yang disambut baik oleh Netanyahu itu sontak mengundang reaksi dunia. Sejumlah negara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Arab Saudi, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa menentangnya, Kamis (6/2/2025).
Sikap Trump tersebut bisa ”membahayakan” masa depan perundingan gencatan senjata. Apalagi, pekan lalu, Stasiun TV Israel, Channel 13, melaporkan, Netanyahu mengadakan pertemuan pada Jumat petang membahas kemungkinkan melanjutkan operasi militer di Gaza.
Laporan tersebut mengutip sejumah sumber dari kalangan pejabat senior Israel. Sumber itu mengatakan, Netanyahu tampaknya mendorong perang berlanjut dan meminta militer Israel menyampaikan rencana operasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/05/aa892759ab970f5748e6752656e7ea18-1000000154.jpg)
Pemerintahan Hamas dan Netanyahu sama–sama dikuasai kelompok ekstrem kanan yang menentang gencatan senjata. Meski demikian, mereka menyatakan ingin mencapai kesepakatan gencatan senjata tahap 2.
Sejauh ini, pihak Israel menegaskan Hamas tidak boleh berada di Gaza pascaperdamaian. Adapun Hamas adalah pemerintahan de facto di Jalur Gaza. Anggota Hamas kembali mengatur kehidupan masyarakat di wilayah itu pascapelaksanaan gencatatan senjata tahap 1.
Juru Bicara Hamas Abdel Latif Al-Qanoua mengatakan, Israel menghambat penerapan operasi kemanusiaan saat ini. Israel, kata Al-Qanoua, juga mengganggu perbaikan rumah sakit, jalan raya, jaringan sumur, dan berbagai infrastruktur yang hancur dalam serangan Israel selama 15 bulan terakhir.
Israel tidak menanggapi tuduhan Al-Qanoua. Wakil Menlu Israel Sharren Haskel dalam acara ”Morning Joe” di MSNB balik menyatakan Hamas melanggar gencatan senjata. ”Meski demikian, kami masih menaruh harapan. Kami ingin membawa pulang seluruh keluarga (sandera). Kami juga harus menjaga keamanan Israel,” kata Haskel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/18/13164695-109a-4636-a5ee-ffe6322ae5bf_jpg.jpg)
Sebelumnya, Times of Israel mengutip Kantor Berita Wala melaporkan, Sabtu (1/2/2025), Netanyahu tidak akan mengirim tim perunding ke Qatar setelah bertemu dengan Trump. Dalam laporan tersebut, Netanyahu membatalkan pada menit terakhir pertemuan dengan Direktur Badan Intelijen Luar Negeri Israel (Mossad) David Barnea, Direktur Intelijen Dalam Negeri Ronen Bar, dan penghubung ke sandera Nitzan Alon, serta para perunding senior.
Netanyahu diperkirakan akan mencopot Direktur Shin Bet dari tim perunding karena tidak dipercaya, dan berusaha menggagalkan perundingan damai.
Keesokan harinya, Minggu, (2/2/2025), Netanyahu meninggalkan Israel menuju AS untuk menemui Trump di Gedung Putih. Juru runding Israel disebut baru akan dikirim ke Qatar setelah pertemuan dengan Presiden Trump tuntas. Penundaan terhadap pelaksanaan perundingan itu sudah tergolong pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.
Tahap 1 gencatan senjata berlaku sejak 19 Januari 2025 selama 42 hari. Dalam kesepakatan tersebut, perundingan gencatan senjata tahap 2 harus dimulai 16 hari setelah gencatan senjata tahap 1 berjalan.
Tahap 2 ditujukan untuk pembebasan seluruh sandera dan penarikan mundur pasukan Israel dari Gaza. Israel dan Hamas saling tuding adanya pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan masing–masing pihak.
“Kontak dan perundingan gencatan senjata tahap 2 sudah dimulai,” kata juru bicara Hamas Abdel Latif Al-Qanoua tanpa memberikan rincian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/26/fc561df5-f463-4718-945f-d4cad7618ba3_jpg.jpg)
Adapun Kantor Perdana Menteri Israel mengatakan Selasa pagi, sedang menyiapkan delegasi tingkat tinggi di Ibukota Qatar, Doha untuk melanjutkan perundingan damai.
Pada hari yang sama Netanyahu sedang bertemu Trump dengan fokus pembicaraan gencatan senjata di Gaza dan kemungkinan normalisasi hubungan dengan Arab Saudi.
Sejauh ini, gencatan senjata tahap 1 berjalan lancar. Namun, sebagaimana disebutkan Times of Israel, Netanyahu terlihat ingin melanjutkan perang di Gaza setelah gencatan senjata tahap 1 berakhir. Tekanan dari kelompok ekstrim kanan di pemerintahan Netanyahu mendesak dilancarkan perang daripada melanjutkan proses gencatan senjata tahap 2.
Kantor Berita Al Manar di Lebanon melaporkan delegasi Israel baru akan dikirim ke Qatar pekan depan. Netanyahu akan mengadakan rapat dengan para menteri setelah kembali dari AS untuk membahas perkembangan gencatan senjata yang akan menyertakan Trump.
Saat berada di Washington DC, Netanyahu juga menyempatkan bertemu dengan utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff. Menurut kantor Netanyahu, pertemuan itu memberi hasil positif. Witkoff disebutkan akan berbicara dengan pejabat tinggi Qatar dan Mesir. Dua negara itu merupakan mediator pembicaraan gencatan senjata Israel-Hamas.
(Reuters)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .