Tim putra Indonesia akan melawan Aljazair pada laga pertama di Piala Thomas dan Uber. Indonesia mengandalkan kombinasi kekuatan pemain senior dan atlet muda.
24 Apr 2026 10:41 WIB · Olahraga
HUMAS PP PBSI
Peralihan generasi membuat Indonesia diperkuat atlet senior dan atlet-atlet muda dalam kejuaraan bulu tangkis Piala Thomas dan Uber 2026 di Horsens, Denmark, 24 April hingga 3 Mei. Maka, tercipta kombinasi skuad berisikan anak-anak muda dengan semangat tinggi dan kakak-kakak mereka yang bertugas mengontrol antusiasme tersebut.
Perbedaan generasi lebih nyata terlihat di tim putra yang dipimpin kapten tim, Fajar Alfian. Fajar, sebagai atlet paling senior, yaitu lahir pada 1995, berusia 12 tahun lebih tua dibandingkan dengan atlet termuda, Mohammad Zaki Ubaidillah.
Adapun di tim putri, selisih antara atlet paling senior dan termuda, Siti Fadia Silva Ramadhanti dengan Thalita Ramadhani Wiryawan, adalah tujuh tahun.
Namun, pengalaman terbanyak dalam kejuaraan Piala Thomas dan Uber di tim saat ini dipegang Jonatan Christie (lahir 1997) dan Anthony Sinisuka Ginting (1996). Mereka menjalani debut di Piala Thomas dan Uber di Kunshan, China, 2016. Adapun Fajar mengikuti Piala Thomas pertama pada 2018 di Bangkok, Thailand.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/24/8b0bcbe8281f48a787742828372aea0a-BD673F0E_5056_9AE1_E79034C876AA7D66.jpg)
Trio anak muda dengan usia 18-20 tahun ketika itu, yaitu Jonatan, Anthony, dan Ihsan Maulana Mustofa, mendampingi senior mereka, Tommy Sugiarto, di nomor tunggal. Sektor ganda mengandalkan tiga pasangan dengan kekuatan seimbang yang dipimpin Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.
Dalam debut mereka, Jonatan dan Anthony membawa Indonesia ke final Piala Thomas sebelum dikalahkan Denmark dengan materi pemain yang lebih berpengalaman.
Dalam keikutsertaan keenam kalinya beruntun untuk Jonatan dan Anthony serta kelima bagi Fajar, mereka pun punya peran untuk memimpin adik-adiknya, termasuk mereka yang akan menjalani debut. Zaki, yang berusia 18 tahun, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin (21 dan 20 tahun) adalah anak-anak muda yang akan merasakan persaingan Piala Thomas dan Uber untuk pertama kali.
Ada pula ganda putra senior dengan status sama, seperti Zaki, Raymond, dan Nikolaus, yaitu Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani.
Mereka belum berpengalaman di Piala Thomas, tetapi memiliki bekal dari ajang beregu lainnya. Sabar/Reza dan Zaki bermain dalam nomor beregu putra SEA Games Thailand 2025. Zaki, bersama Raymond/Nikolaus, juga tampil dalam Kejuaraan Asia Beregu yang merupakan kualifikasi Piala Thomas dan Uber zona Asia, di Qingdao, China, pada Februari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/b95831c6b7d67c6147c56477a7f4b1a9-WhatsApp_Image_2026_04_19_at_18.49.01.jpeg)
Alwi Farhan ada di tim ”Merah Putih” saat Indonesia mencapai final Piala Thomas 2024 di Chengdu, China, tetapi ia baru mendapat kesempatan sekali bertanding, yaitu di babak penyisihan. Tiga seniornya lebih sering bermain, yaitu Jonatan, Anthony, dan Chico Aura Dwi Wardoyo.
”Ada Jonatan, Fajar, dan saya di tim. Setiap hari, kami mengingatkan pemain-pemain muda agar mereka mengontrol emosi, ekspektasi, dan semangat. Atlet muda pasti punya semangat membara, tetapi harus bisa mengontrolnya. Kami mengingatkan, antusiasme harus diimbangi dengan ketenangan,” tutur Anthony dalam laman resmi BWF.
Pada acara pelepasan tim Piala Thomas dan Uber di Jakarta, 15 April, Anthony mengatakan hal serupa. Setiap atlet harus punya semangat, tetapi harus bisa mengontrolnya. Mereka juga harus bertanggung jawab atas peran dan tugas masing-masing di tim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/23/72706a045e22e1c83fd4ef1908f0a287-WhatsApp_Image_2026_04_22_at_20.10.52.jpeg)
Sehari menjelang pertandingan melawan Aljazair, Fajar mengingatkan perlunya ketenangan pada atlet yang akan bertanding di Piala Thomas untuk pertama kali. ”Atlet yang akan debut semoga bisa menikmati pertandingan dan bersikap rileks. Jangan terlalu berambisi dan percaya diri berlebihan. Kita harus menjaga emosi dan yang penting menampilkan yang terbaik,” tutur Fajar.
Punya semangat, tetapi harus bisa mengontrolnya selalu menjadi ”mantra” bagi atlet. Semangat dan kepercayaan diri berlebihan bisa membuat atlet hanya berpikir kemenangan hingga akhirnya sulit untuk fokus pada pertandingan. Padahal, ada perjalanan meraih poin demi poin yang harus dijalani.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra