Delapan dari 20 atlet yang memperkuat tim Indonesia adalah debutan dalam Kejuaraan Piala Thomas dan Uber. Mereka siap bekerja sama untuk mendapat hasil terbaik.
21 Apr 2026 16:33 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
Momen ketika Indonesia menjuarai Piala Thomas 2020 di Aarhus, Denmark, tak lepas dari ingatan Mohammad Zaki Ubaidillah. Angan-angannya menjadi bagian dari tim Indonesia saat menonton kemenangan itu dari televisi terwujud di Piala Thomas dan Uber 2026.
Tahun ini, kejuaraan beregu putra dan putri dua tahunan itu akan berlangsung di Horsens, Denmark, 24 April hingga 3 Mei. Zaki, yang berusia 18 tahun, memperkuat tim putra Indonesia di sektor tunggal.
Dia akan bekerja sama dengan senior-seniornya, yaitu Alwi Farhan serta dua pemain yang tampil di Piala Thomas untuk keenam kali: Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie.
Dengan peringkat ke-39 dunia, per 21 April 2026, Zaki adalah tunggal putra nomor tiga Indonesia di bawah Jonatan (5) dan Alwi (14). Di bawah Zaki, ada Prahdiska Bagas Shujiwo (42) dan Anthony (46).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/b95831c6b7d67c6147c56477a7f4b1a9-WhatsApp_Image_2026_04_19_at_18.49.01.jpeg)
Zaki menjadi salah satu dari delapan atlet Indonesia yang menjalani debut di Piala Thomas dan Uber. Dengan usia 18 tahun, finalis Kejuaraan Dunia Yunior 2025 itu tak hanya menjadi debutan, tetapi juga sebagai salah satu atlet termuda bersama pemain tunggal putri, Thalita Ramadhani Wiryawan.
Debutan lainnya di tim putra adalah pemain-pemain ganda, yaitu Raymond Indra, Nikolaus Joaquin, Sabar Karyaman Gutama, dan Mohammad Reza Pahlevi Isfahani. Adapun mereka yang baru kali ini bergabung di tim Piala Uber, selain Thalita, adalah Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi dan Febi Setianingrum.
”Pastinya senang sekali pertama kali masuk tim untuk Piala Thomas, ajang yang sangat besar. Pasti ingin memberi yang terbaik untuk diri sendiri dan tim,” kata Zaki di pelatnas bulu tangkis, Cipayung, Jakarta, Rabu (15/4/2026), menjelang keberangkatan tim Indonesia ke Denmark, keesokan harinya.
Zaki, yang meraih gelar pertama dari turnamen BWF World Tour dengan menjuarai Thailand Masters Super 300 pada Januari, punya kenangan tentang Piala Thomas, yaitu dalam posisi sebagai penonton. Atlet yang akrab disapa dengan nama panggilan Ubed ini mengingat momen ketika Indonesia menjuarai Piala Thomas 2020.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/07/fd96b0677ab9762e404160017311286a-WhatsApp_Image_2026_02_07_at_11.50.47.jpeg)
Seperti halnya pada 2026, kejuaraan saat itu berlangsung di Denmark, tetapi di kota berbeda, yaitu Aarhus. Meskipun bernama resmi Piala Thomas dan Uber 2020, kejuaraan digelar pada 2021 karena pandemi Covid-19.
”Saya terharu melihat momen pas juara 2020 dan membayangkan ada di posisi seperti itu. Saya juga sering mengulang-ulang menonton finalnya,” kata Zaki yang berusia 14 tahun ketika menonton Jonatan dan kawan-kawan juara.
Thalita dan Dhinda juga punya momen Piala Uber yang selalu diingat dan menjadi sumber inspirasi untuk bermain pada tahun ini. Mereka sama-sama menyebut penampilan Indonesia di Piala Uber 2024 sebagai momen yang berkesan.
Dua tahun lalu, saya nonton di TV dan itu keren banget sih perjuangannya. Saya juga ingin merasakan momen seperti itu.
Dalam kejuaraan yang berlangsung di Chengdu, China, tim putra dan putri Indonesia tampil di final meski keduanya kalah dari tuan rumah. Bagi Thalita dan Dhinda, perjuangan Gregoria Mariska Tunjung dan kawan-kawan menuju final memberi kesan mendalam dan mereka ingin menunjukkan hal serupa di Horsens.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/04/6187d8b0-841f-4291-958b-338bc1f6d0c7_jpeg.jpg)
Walaupun berposisi di bawah empat unggulan teratas, yaitu China, Korea Selatan, Jepang, dan Thailand, Indonesia bisa menempati peringkat dua besar di akhir kejuaraan. Tim ”Merah Putih” mengalahkan Thailand dengan skor 3-0 di perempat final, lalu menyingkirkan Korea Selatan (3-2) di semifinal.
Bukan hanya Gregoria dan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti yang tampil baik, pemain-pemain muda seperti Ester Nurumi Tri Wardoyo dan Komang Ayu Cahya Dewi juga tampil luar biasa.
Ester menyumbangkan kemenangan di perempat final dan semifinal dalam laga tiga gim. Adapun Komang menang pada partai kelima Indonesia melawan Korea Selatan ketika kedudukan berimbang, 2-2.
”Dua tahun lalu, saya nonton di TV dan itu keren banget sih perjuangannya. Saya juga ingin merasakan momen seperti itu. Jadi, mau menyumbang poin untuk Indonesia bila diturunkan dan membawa tim Indonesia melangkah sejauh mungkin,” tutur Dhinda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/21/78f5e23299a976f09c764113c19b9e80-WhatsApp_Image_2026_04_19_at_18.48.58.jpeg)
Di tim Indonesia untuk Piala Uber, Dhinda berposisi sebagai tunggal ketiga setelah Putri Kusuma Wardani dan Thalita, serta di atas Ester. Dhinda menjadi semifinalis Korea Masters Super 300 pada 2025 sebagai hasil terbaiknya di arena BWF World Tour. Adapun Thalita menjuarai empat turnamen berlevel international series/challenge pada tahun yang sama.
Sebagai anggota termuda di tim putri, Thalita ingin menikmati Piala Uber pertamanya. Apalagi, para senior pun mendukung adik-adik mereka. Thalita bercerita, atlet senior dan atlet-atlet muda membaur dalam suasana hangat dan nyaman. Komunikasi di antara mereka pun terbuka.
Sementara dalam partisipasi pertamanya di Piala Thomas, Zaki punya keinginan yang diharapkan bisa terwujud di Horsens.
”Saya ingin didampingi Koh Jonatan atau Aa Ginting di pertandingan. Ingin merasakan di-coaching oleh mereka, senior yang selama ini saya tonton dan menjadi teman latihan,” ucap Zaki.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/20/568b251677afd882aa5638122aa86a43-Piala_Thomas_Uber_2026_Bagian_3.jpg)
Hal itu pernah dilakukan Jonatan saat tampil di kejuaraan beregu campuran Piala Sudirman 2025. Jonatan, yang kebetulan berposisi sebagai kapten tim, turut mendampingi Alwi di lapangan, bersama pelatih tunggal putra Indonesia, Indra Widjaja.
Rasa senang dan bangga menjadi anggota tim Indonesia di Piala Thomas dan Uber untuk pertama kalinya diperlihatkan dengan antusiasme untuk bertanding. Selain itu, Zaki pun siap menjalankan ”tugas” yang biasanya dilakukan atlet termuda di tim, seperti membawakan perlengkapan untuk latihan atau berteriak paling kencang untuk mendukung rekan-rekannya saat bertanding. ”Pasti, saya siap,” katanya.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul