Di tengah musibah penjarahan yang menimpanya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyerukan agar menjaga persatuan bangsa dan demokrasi harus dijalankan secara beradab.
01 Sep 2025 11:23 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Rumah pribadi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jalan Mandar, Bintaro Sektor 3A, Tangerang Selatan, Banten, dijarah ratusan orang pada Minggu (31/8/2025) dini hari. Peristiwa tersebut menjadi salah satu insiden paling mencolok di tengah dinamika sosial dan politik yang beberapa hari terakhir memanas.
Berdasarkan rekaman video yang diterima Kompas, massa merusak pagar dan fasilitas rumah, kemudian membawa kabur sejumlah barang berharga. Televisi, kursi, perabotan rumah tangga, hingga isi lemari terlihat diangkut keluar oleh orang-orang yang hilir mudik di dalam rumah.
Situasi berlangsung mencekam sejak dini hari hingga menjelang pagi. Baru pada Minggu siang, aparat keamanan bergerak dengan menempatkan puluhan personel TNI untuk menjaga lokasi. Hingga Senin (1/9/2025), rumah tersebut masih dijaga ketat untuk mencegah insiden serupa.
Menanggapi peristiwa itu, Sri Mulyani angkat bicara melalui akun Instagram pribadinya. Ia menuliskan rasa terima kasih atas doa, simpati, serta dukungan moral dari berbagai pihak. Menurut Sri Mulyani, membangun Indonesia tidaklah mudah, tetapi sebuah perjuangan yang penuh tantangan, bahkan berbahaya.
”Politik adalah perjuangan bersama untuk tujuan mulia kolektif bangsa, tetap dengan etika dan moralitas yang luhur,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Ia menegaskan, sebagai pejabat negara, dirinya disumpah untuk menjalankan amanat UUD 1945 dan semua undang-undang.
Politik adalah perjuangan bersama untuk tujuan mulia kolektif bangsa, tetap dengan etika dan moralitas yang luhur.
Sri Mulyani juga menyinggung mekanisme penyelesaian sengketa dalam demokrasi sudah tersedia secara jelas. Jika publik merasa hak konstitusinya dilanggar oleh undang-undang, jalur judicial review di Mahkamah Konstitusi terbuka. Jika pelaksanaan undang-undang dianggap menyimpang, pengadilan hingga Mahkamah Agung bisa menjadi tempat mencari keadilan.
”Itu sistem demokrasi Indonesia yang beradab. Pasti belum dan tidak sempurna. Tugas kita memperbaiki kualitas demokrasi dengan beradab, tidak dengan anarki, intimidasi, dan represi,” lanjutnya.
Ia menegaskan, tugas negara harus dijalankan dengan amanah, berintegritas, profesional, dan transparan. ”Jelas kami dilarang korupsi. Ini adalah kehormatan sekaligus tugas luar biasa mulia,” tulisnya lagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/ceff470ad0bf0ba487656eb90cae5dec-20250831TOK7.jpg)
Sri Mulyani tidak menutup mata atas kritik publik yang kerap ditujukan kepadanya. Ia berterima kasih kepada masyarakat luas, mulai dari warganet, guru, dosen, mahasiswa, pelaku usaha, hingga media massa, yang terus memberikan masukan, kritik, bahkan makian. Baginya, semua itu adalah bagian dari proses membangun bangsa.
Meski rumahnya menjadi sasaran penjarahan, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan. ”Mari kita bangun Indonesia bersama, tidak dengan merusak, membakar, menjarah, memfitnah, pecah belah, kebencian, kesombongan, dan melukai perasaan publik,” ujarnya.
Peristiwa penjarahan rumah menteri keuangan ini menambah daftar panjang eskalasi ketegangan sosial politik dalam beberapa pekan terakhir. Sri Mulyani memang kerap menjadi sorotan publik, terutama terkait dengan kebijakan fiskal dan pengelolaan anggaran negara, yang dianggap sebagian pihak memberatkan.
Di sisi lain, Sri Mulyani termasuk pejabat yang dikenal tegas dalam menjaga disiplin fiskal negara. Sejumlah langkah reformasi anggaran dan pengendalian defisit yang ia ambil kerap menuai resistansi, baik dari kelompok kepentingan politik maupun sebagian masyarakat.
Penjarahan rumah pribadi pejabat tinggi negara jarang terjadi dalam sejarah Indonesia. Insiden ini sekaligus mencerminkan adanya kerentanan dalam situasi keamanan serta potensi penggunaan isu ekonomi untuk memicu keresahan sosial.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/bbb6bb6929c4554764af359db64b9658-20250831TOK3.jpg)
Polisi hingga kini masih menyelidiki identitas para pelaku. Belum ada keterangan resmi mengenai berapa jumlah barang yang hilang ataupun total kerugian yang dialami. Namun, sejumlah pihak menilai tindakan massa itu bukan hanya kriminal, melainkan juga serangan simbolis terhadap otoritas negara.
Dalam penutup unggahannya, Sri Mulyani menyampaikan permohonan maaf jika masih banyak kekurangan dalam tugasnya. ”Bismillah, kami perbaiki terus-menerus. Semoga Allah SWT memberkahi dan melindungi Indonesia. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia,” tulisnya.
Penulis:
Dimas Waraditya NugrahaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji