Persiapan dan pematangan puncak ibadah haji terus dilakukan. Tenda wukuf dan berbagai fasilitas dicek. Pasangan yang terpisah juga dipastikan akan digabung.
26 Mei 2025 19:41 WIB · Dikbud
MEKKAH, KOMPAS — Untuk memastikan kenyamanan jemaah saat wukuf mendatang, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH Arab Saudi melakukan pengecekan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Komunikasi juga intens dilakukan dengan pihak syarikah untuk memastikan pasangan terpisah akan tetap digabung saat puncak pelaksanaan ibadah haji.
Pengecekan dipimpin Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Hilman Latief, Senin (26/5/2025). Turut hadir Ketua PPIH Arab Saudi Muchlis M Hanafi, Kepala Daerah Kerja Mekkah Ali Machzumi, dan pejabat terkait lainnya.
Pengecekan meliputi tenda-tenda jemaah di Arafah dan Mina yang dikelola syarikah atau penyedia layanan haji. Selain kondisi tenda, pengecekan juga meliputi kasur, pendingin ruangan, toilet, dan fasilitas lainnya.
”Alhamdulillah, hari ini kita melakukan kunjungan di salah satu service provider yang menjadi mitra kita, yang akan melayani jemaah haji selama pucak haji, yaitu di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Kita ingin memastikan tenda yang akan digunakan oleh jemaah sudah tersedia dan baik, termasuk fasilitasnya seperti kasur, air conditioner, air bersih, toilet, dan lainnya,” kata Hilman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/3a8611d7b973fab4d1864323e1e0e583-IMG_1637.jpeg)
Saat pengecekan tampak tenda-tenda telah terpasang dengan baik berikut kasur dan bantal. Air bersih di toilet juga lancar. Dalam puncak ibadah haji ini, jemaah tergabung dalam maktab atau markaz. Dalam satu markaz terdiri atas 3.000-4.000 anggota jemaah.
Jemaah menempati tenda-tenda dengan kapasitas hingga 250-350 orang setiap tenda. Kasur-kasur yang digunakan berukuran 80 x 200 sentimeter. Kasur berlapis kain berwarna putih dan juga dilengkapi bantal.
Adapun bangunan toilet umumnya berlantai dua dengan banyak bilik di dalamnya. Ada pula fasilitas lain, seperti kursi dan tenda terbuka di halaman.
”Alhamdulillah, tadi kita melihat di Arafah itu juga sudah ada toilet-toilet baru yang bertingkat, yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi di berbagai maktab. Harapannya, semua bisa memberi kenyamanan pada jemaah nanti,” ucap Hilman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/3edf9b7937a87f853c2a72d5d6670a42-IMG_1630.jpeg)
Sementara di Mina, fasilitas serupa juga dicek dan dipastikan akan nyaman untuk jemaah. Di Mina, jemaah akan bermalam dan untuk itu fasilitas dapur juga disiapkan.
Hilman mengatakan, dalam beberapa hari mendatang, pihak pemerintah akan membahas hal yang lebih detail dengan syarikah terutama terkait pergerakan jemaah ke Arafah. ”Akan dibicarakan tahapan-tahapan untuk pergeseran jemaah. Sebab, kunci pada puncak pelaksanaan ibadah haji ini dan yang juga diwaspadai adalah pergerakan jemaah, baik mulai dari Mekkah ke Arafah, ke Muzdalifah, hingga Mina,” kata Hilman.
Sementara itu, terkait jemaah khususnya pasangan yang terpisah karena berbeda layanan syarikah, Hilman mengatakan, pihak Kemenag telah bertemu dengan pimpinan syarikah. ”Mereka juga bisa memahami konteks jemaah kita yang sebagian besar masih harus bergabung dengan grupnya, dengan keluarga. Kemudian juga ada orangtua dan pendampingnya, kita terus komunikasikan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/17/8689550faf264d330e0cd9aa09fa81e8-IMG_1075.jpeg)
Menurut Hilman, pada prinsipnya, semua anggota jemaah nantinya akan dilayani pada maktab-maktab atau markaz-markaz yang telah ditentukan. Namun, terkait jemaah yang terpisah, mereka sudah meminta pada syarikah agar diberi kelonggaran untuk digabung untuk kemudahan dan kenyamanan jemaah.
Terkait kesiapan pelaksanaan puncak ibadah haji, Pemerintah Arab Saudi juga sudah mengingatkan bahwa nanti suhu udara akan lebih panas. Karena itu, akan ada imbauan pada jemaah nanti agar tak keluar tenda jika tak ada keperluan penting.
Langkah ini untuk menghindari serangan panas yang bisa memicu gangguan kesehatan. Situasi ini juga membuat penyelenggara haji akan mengatur jadwal melontar jumrah.
Terkait fase puncak ibadah haji ini, persiapan lain juga telah dilakukan di antaranya pembentukan posko penjagaan dan pos Mobile Crisis Rescue (MCR) di Mina. Orientasi lapangan juga telah dilakukan oleh tim yang nantinya akan ditempatkan di posko.
Kepala Bidang Perlindungan Jemaah yang juga Kepala Satuan Operasi Armuzna Harun Arrasyid mengatakan, fase Armuzna terutama di Mina cukup krusial. Sejumlah hal akan menjadi fokus petugas di fase Armuzna. Salah satunya memantau jemaah, termasuk mereka yang sakit, kelelahan, dan tersasar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/25/0800b8d57ac86a131a37011edb0842f4-IMG_1581.jpeg)
”Tantangan yang ada di sekitar jamarat ialah jemaah yang tersasar dan kelelahan di sekitar Mina. Karena itu, petugas harus siap mengantisipasi termasuk menyiapkan obat-obatan dan kursi roda, hingga jalur evakuasi. Selain itu Pemerintah Arab Saudi juga mengoperasikan ambulans-ambulans di Mina,” ujarnya.
Khusus untuk MCR, akan ada lima pos penjagaan. Pos pertama berada di jembatan sekitar Muaysim. Berlanjut ke pos kedua yang berada di dekat tenda jemaah haji khusus. Kemudian titik ketiga berada di gerbang jamarat. Pos keempat dan kelima berada di dalam area jamarat.
Menurut Harun, selain pos-pos di sekitar jamarat, ada tujuh pos tambahan lain yang dibuat untuk merespons penerapan skema tanazul. Skema ini diberlakukan bagi jemaah haji yang menginap di hotel-hotel yang berada di wilayah Shisah dan Rouhdah.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto