Piala Gothia Membuka Cakrawala Bola

Tim sepak bola Liga Kompas U-14 tahun ini kembali tampil di Piala Gothia di Swedia, yang menjadi pertemuan kultur bola dari berbagai penjuru dunia.

16 Jul 2025 18:06 WIB · Olahraga

Oleh Agung Setyahadi

Piala Gothia yang digelar pada masa libur sekolah bukanlah turnamen sembarangan. Ajang ini sangat bergengsi, diikuti oleh tim sekolah sepak bola dari berbagai penjuru dunia. Mereka membawa ciri khas masing-masing, budaya sepak bola masing-masing, ke ajang yang disebut piala dunia kelompok umur ini. Persaingan antartim sangat ketat, menguji kejelian meracik taktik, serta ujian keras bagi mental pemain belia. 

Kilas balik persaingan Piala Gothia kali ini dicuplik dari kiprah tim Liga Kompas Gramedia (LKG) SKF Indonesia pada 2015 di kelas Boys 15, kategori untuk talenta-talenta putra berusia di bawah 15 tahun. Performa tim LKG langsung menjadi sorotan berkat kemenangan di laga perdana melawan S Lannzarote dengan skor 2-1, Minggu, 13 Juli 2015.

”Ini panggung milik kalian setelah empat bulan latihan. Tunjukan kalian bisa,” ujar pelatih tim Liga Kompas Gramedia Indriyanto Nugroho lima menit sebelum laga dimulai.

Lapangan Overasvallen di selatan pusat kota Gothenburg, Swedia, kala itu benar-benar menjadi milik tim LKG. Mereka memainkan tempo cepat dengan kombinasi umpan-umpan pendek dan bola langsung ke depan. Permainan agresif ini berbuah dua gol dalam rentang 16 menit.

Penyerang sayap Muhammad Hambali Tolib membuka kemenangan saat laga baru memasuki menit kelima. Gol kedua tercipta di menit ke-21 berkat kecerdikan gelandang Muhamad Rafi Syarahil melepaskan diri dari jebakan off-side menyusul tendangan bebas. Dua pemain bertubuh mungil ini juga berbalas asis.

Gelandang tim Liga Kompas Gramedia SKF-Indonesia, Aria Bisma Bagaskara (kanan), berebut bola dengan pemain S Lannzarote dari Spanyol di laga pertama Grup 4 Piala Gothia 2015 kategori U-15 di lapangan Overasvallen, Gothenburg, Swedia, Senin (13/7). Tim LKG menang 2-1.

Gol-gol cepat merupakan karakter tim LKG waktu itu dengan para pemain lincah yang klop dengan gaya bermain agresif racikan mantan striker Indriyanto, yang juga lulusan Primavera. Permainan agresif kembali dimainkan dalam laga kedua melawan tim Swedia, Soderhamns FF.

Muhammad Rafi Izzudin dan kawan-kawan tampil taktis dan mengakhiri laga dengan kemenangan telak 7-0 di laga kedua Grup 4 Piala Gothia 2015, Selasa, 14 Juli 2015. Kemenangan ini memastikan tim LKG lolos ke babak 64 besar kategori Boys 15.

Kiprah para pemain LKG semakin menarik perhatian tim-tim dari grup lain. Pertandingan ketiga melawan tim Swedia, Pitea IF 1, di Lapangan Majvallen, Rabu, 15 Juli 2015, dipadati penonton. Dalam laga ini terjadi banjir gol, tim LKG menang besar 9-1, bak timnas AFF Indonesia U-23 saat menggilas Brunei Darussalam, 8-0, di Stadion Gelora Bung Karno, Selasa (15/7/2025) malam. 

Gol-gol tim LKG dicetak oleh gelandang Divie Alviandi Nauval Badruttaman (dua gol), gelandang serang Riza Alfin Zidane, striker Muhammad Rafi Izzudin, Rafi Syarahil (dua gol), Aria Bisma Bagaskara, Muhammad Firhan Darmawan, dan Muhammad Hambali Tolib.

Permainan agresif tim LKG ini mengundang tepuk tangan penonton dan pemain tim lain yang menunggu jadwal pertandingan. Para pemain dari Abu Dhabi Youth FC yang berlaga di U-18 sampai mencari tahu tentang tim LKG.

Striker Ahda Suhada (putih) membuat satu gol saat tim LKG- SKF Indonesia menundukkan tim Swedia, Soderhamns FF, 7-0, di laga kedua Grup 4 kategori U-15 Piala Gothia 2015, Selasa (14/7/2015). Kemenangan di lapangan Slottsskogsvallen, Gothenburg, Swedia, ini memastikan tim LKG lolos ke babak 64 besar. *** Local Caption ***

”Kalian tim dari mana dan di kategori usia berapa?” tanya seorang pemain Abu Dhabi kepada kiper tim LKG Muhamad Riyandi. 

Setelah dijawab dari Indonesia dan bermain di kategori U-15, pemain Abu Dhabi itu mengelus dada dan tertawa lega.

”Saya kira kalian di tim U-18. Jadi, kita tidak akan bertemu. Permainan kalian membuat kami khawatir, lihat lawan kalian tidak pernah menguasai bola. Mereka seharusnya pensiun dari sepak bola setelah laga ini,” lanjut pemain Abu Dhabi itu diiringi tawa. 

Namun, pemain Abu Dhabi itu tidak mengira kalau timnya akan mengalami nasib yang sama dengan Pitea IF 1. Tim Abu Dhabi Youth FC dibantai 9-0 oleh wakil Swedia, BK Hacken, hari itu. 

Kemenangan besar di Lapangan Majvallen itu memastikan tim LKG lolos ke babak 128 besar atau 1/64 final sebagai juara Grup 4 kategori Boys 15. Indonesia akan bertemu dengan peringkat kedua Grup 3, Subiaco Junior Soccer Club dari Australia.

Striker tim Liga Kompas Gramedia-SKF Indonesia, Muhammad Rafi Izzudin (tengah), berlatih di lapangan Heden, Gothenburg, Swedia. Tim LKG lolos ke babak 64 besar Piala Gothia sebagai juara Grup 4 U-15 setelah menundukkan klub Swedia, Pitea IF 1 9-1, Rabu (15/7/2015). *** Local Caption *** Striker tim Liga Kompas Gramedia-SKF Indonesia Muhammad Rafi Izzudin berlatih penyelesaian akhir di lapangan Heden, Gothenburg, Swedia. Tim LKG lolos ke babak 64 besar

Laga di babak gugur menghadirkan tekanan yang lebih besar karena kekalahan akan mengakhiri kiprah perburuan juara. Mental untuk tidak meremehkan lawan setelah tiga kemenangan beruntun menjadi topik utama dalam evaluasi tim. 

”Babak 64 besar sudah menerapkan sistem gugur. Jadi, ini laga hidup mati. Anak-anak selalu saya ingatkan untuk tetap rendah hati dan melihat pertandingan-pertandingan berikutnya sebagai final,” ujar Pelatih Tim Liga Kompas Gramedia Indriyanto Nugroho. 

Mantan pemain klub Swedia Helsingborgs B itu berharap anak-anak asuhannya tidak terlena oleh tiga kemenangan di fase grup. Lawan yang akan dihadapi semakin berat. Tim asal Australia rata-rata memiliki pemain dengan fisik yang kuat. Mereka akan mengandalkan postur tubuh untuk menghambat permainan cepat tim LKG.

”Babak sistem gugur akan menguji mental anak-anak supaya tetap tenang dan fokus,” ujar Indriyanto. 

Benar saja, pertandingan melawan para pemain Australia sangat ketat dan sulit. Para pemain Subiasco sudah siap dengan permainan bertahan dan serangan balik cepat hingga tim LKG yang sempat unggul lebih dahulu harus dua kali tertinggal, 1-2 dan 2-3. Namun, mental berjuang pemain muda Indonesia mampu memaksa laga ditentukan dengan adu penalti.

Striker tim LKG-SKF Indonesia Muhammad Rafi Izzudin mengontrol bola di depan gawang klub Swedia Pitea IF 1 yang ditekuk 9-1 lapangan Majvallen, Gothenburg, Swedia, Rabu (15/7). Tim LKG-SKF Indonesia lolos ke babak 64 besar PIala Gothia sebagai juara Grup 4 kategori U-15 dan bertemu klub Australia Sobiaco Junior Soccer Club.

Air mata dan tawa mengiringi gol Ahda Suhada yang menjadi penentu kemenangan skuad Liga Kompas Gramedia atas Subiaco Junior Football Club dari Australia di babak 128 besar Piala Gothia kategori Boys 15, Rabu (15/7/2015). Indonesia menang 4-3 melalui adu penalti setelah bermain 3-3 dalam rentang 2x30 menit.

Gol striker yang dijuluki ”Badak” itu mengakhiri ketegangan di Lapangan Heden 3, Gothenburg, Swedia. Teriakan dan tepuk tangan suporter memecah udara malam yang mulai menggigit kulit. Ahda berlari ke tepi lapangan mengampiri para suporter Indonesia. Pemain Liga Kompas Gramedia (LKG) yang lain pun menghambur mengejar Ahda. 

Mereka memeluk Ahda. Teriakan dan tawa para pemain muda itu kemudian berubah menjadi isak tangis. Air mata bahagia meleleh setelah nasib mereka di Piala Gothia sempat di ujung tanduk. 

”Saat melangkah dari tengah lapangan ke titik penalti rasanya deg-degan, ada rasa takut kalau tidak gol. Namun, saya berusaha fokus. Saya tidak ingin kembali gagal seperti tahun lalu (di kategori U-14) tersingkir di babak ini,” ujar Ahda. 

Namun, dalam evaluasi tim seusai pertadingan, pelatih menyoroti tiga gol Subiaco. Gol-gol itu menguak titik lemah tim LKG yang rawan saat diserang balik dan kurang solid dalam mengantisipasi bola-bola mati. Titik lemah ini menjadi fokus pembenahan tim pelatih LKG. Selain itu, asisten pelatih Benyamin Leobetty akan bertugas untuk mengamati dan menganalisis pola permainan calon tim lawan di babak berikutnya.

Bek LKG-SKF Indonesia, Qory Kautsar (putih), melesakkan tendangan penalti ke gawang tim Nockebyhovs IF Swedia dalam laga pamungkas Grup 4 Boys 15 Piala Gothia 2019 di SKF Arena, Gothenburg, Swedia, Rabu (17/7/2019) pagi. Dalam laga itu, Indonesia menang 8-0 dan lolos ke babak 128 besar untuk bertemu tim Swedia lainnya,  IFK Eskilstuna 2.

Namun, dalam pertandingan babak sistem gugur tidak ada jeda istirahat. Babak 64 besar langsung bergulir pada keesokan harinya dan pada hari yang sama tim yang lolos langsung menjalani laga babak 32 besar. Oleh karena itu, pengintaian tim hanya bisa dilakukan pada sesama laga 64 besar antara tim Mo IL dari Norwegia dan Accademia Internazionale Calcio dari Italia. 

Leobetty didampingi oleh seorang mahasiswa Indonesia di Swedia mengintai permainan lawan; dan muncul tim pemenang, yakni Accademia Internazionale Calcio yang berafiliasi dengan klub besar Serie A Internazionale Milan. Permainan tim itu mirip Inter saat itu, bertahan ketat dan menyerang balik dengan cepat serta lihai dalam eksekusi bola-bola mati. Kemenangan mereka tidak pernah dengan gol banyak, tetapi sekali menyerang mematikan.

Tim LKG mengawali hari Kamis, 16 Juli 2015, dengan motivasi tinggi setelah mengalahkan Subiasco dalam laga yang sangat sulit. Mereka pun siap menghadapi tantangan wakil Swedia, Vasby IK FK, di babak 64 besar di Lapangan Slattadam 1. Aria Bisma Bagaskara dan kawan-kawan tampil sangat tenang dan taktis hingga meraih kemenangan 8-0.

Tim LKG hanya membutuhkan dua menit untuk menjebol gawang Vasby melalui penyerang sayap Muhammad Hambali Tolib. Lima belas menit kemudian, giliran Aria Bisma Bagaskara yang menundukkan kiper Vasby. Penalti Riza Alfin Zidane di menit ke-26 mengunci kemenangan 3-0 sebelum turun minum.

Di babak kedua, permainan cepat tim LKG berbuah gol melalui sengatan Ahda Suhada. Empat gol lainnya diceploskan oleh Bagaskara, Ahda, penalti Divie Alviandi, dan tendangan dari luar kotak penalti gelandang Raka Askara.

Pelatih tim Liga Kompas Gramedia-SKF Indonesia U-15 memberikan dukungan moral kepada anak-anak asuhnya setelah kalah 0-3 dari wakil Italia, Accademia Internazionale Calcio, di babak 32 besar Piala Gothia 2015 di Gothenburg, Swedia, Kamis (16/7/2015).

Kemenangan besar ini merupakan buah dari perjuangan para pemain yang terus tampil meskipun dalam kondisi kurang prima. Bek kiri Rahmad Rizky Putra yang paha kirinya bengkak dan lecet tetap berani duel dengan lawan. Ia sering mengerenyit saat bagian yang cedera mengalami kontak fisik dengan lawan.

Gelandang Divie Alviandi juga cedera lutut kanannya saat melawan Subiaco, yang membuat dia berjalan pincang. Namun, Divie tetap bermain ngotot dan duel dengan lawan untuk menahan bola supaya tidak masuk area pertahanan.

”Kalau berlari tidak sakit, tetapi kalau terbentur tubuh lawan dan terjatuh sakit sekali. Namun, tidak apa-apa, ini demi meraih target juara yang kami impikan,” kata Rahmad Rizky menegaskan.

Pola permainan agresif tim LKG akhirnya menemui gaya bermain bertahan yang sangat solid dari Accademia Internazionale Calcio. Mereka memasang lima gelandang dan tiga bek tengah untuk menutup ruang serangan lawan sehingga tidak ada celah bagi para pemain tengah tim Liga Kompas Gramedia untuk mengalirkan bola ke depan.

Rafi Syarahil, Hambali Tholib, dan Aria Bisma Bagaskara yang menjadi kunci aliran bola ke depan tidak memiliki ruang gerak yang leluasa. Mereka selalu dijaga oleh minimal dua pemain lawan sehingga tidak ada ruang melepaskan umpan. Bola pun lebih sering terhenti di lapangan tengah.

Para pemain tim LKG-SKF Indonesia (biru) menangis haru setelah kalah dari tim Swedia Stangebro United 2 di laga babak 64 besar Boys 15 Piala Gothia 2019 di SKF Arena, Gothenburg, Swedia, Kamis (18/7/2019). Dalam laga itu, tim Indonesia kalah 1-4. Dengan itu, mereka gugur dari Piala Dunia remaja yang sudah bergulir sejak 1975 tersebut.KOMPAS/Adrian Fajriansyah (DRI)18-7-2019

Kebuntuan ini memaksa para pemain LKG memainkan bola-bola atas, yang sayangnya tidak akurat. Jebakan bola atas ini membuat para pemain LKG frustasi karena aliran bola lebih sering dipatahkan oleh pemain bertahan Accademia Internazionale yang berpostur tinggi. 

Bek lawan juga sangat cepat dalam transisi. Striker Ahda Suhada dan Muhammad Rafi Izzudin yang jarang menemukan lawan saat sprint mengejar bola terobosan dalam lima laga sebelumnya kali ini menemukan bek-bek yang tangguh. 

Para pemain Accademia sebenarnya tidak terlalu banyak menciptakan peluang gol. Mereka menahan bola di tengah dan mengandalkan serangan balik, serta lihai dalam penyelesaian bola mati. Di babak pertama, serangan balik mereka berbuah gol di menit ke-31. Sementara itu, di babak kedua, mereka memanfaatkan dua pelanggaran di luar kotak penalti untuk menceploskan gol di menit ke-61 dan 64. Dua gol tendangan bebas itu diselesaikan oleh gelandang Stefan Stankovic, putra mantan pemain tengah Inter Milan asal Serbia, Dejan Stankovic.

Pola permainan mereka sangat solid karena, menurut asisten pelatihnya, para pemain itu sudah berlatih bersama sejak usia 10 tahun. Mereka kemudian menjalani tahapan pembinaan dari jenjang U-12, U-14, dan U-15. Para pemain muda itu akan terus dipromosikan ke level yunior serta bisa promosi ke klub-klub profesional di Italia. 

Kekalahan 0-3 di lapangan Grimbo 2, Gothenburg itu, membuat para pemain LKG menangis. Kekalahan sangat menyakitkan, tetapi dalam sepak bola, menang dan kalah adalah dua wajah sepak bola yang saling menegasi.

Namun, masing-masing memberi pelajaran bagi para pemain untuk menjadi semakin kuat. Wajah sepak bola itu mengorbit di setiap pertandingan dan akan muncul bersamaan di akhir laga. Tim yang menang akan tertawa, bergembira, penuh euforia, sedangkan tim yang kalah tertunduk lesu, menyesali kekalahan yang mengalir bersama lelehan air mata. 

Di Lapangan Grimbo sore itu, para pemain Accademia Internazionale Calcio ikut menghibur para pemain LKG. Mereka memuji permainan bola Indonesia yang agresif dan cepat. Sportivitas tetap dijunjung tinggi dalam Piala Gothia, para pemain muda itu menjunjung tinggi respek.

”Kami kalah karena lawan bermain lebih baik. Ini pengalaman berharga bagi kami karena mengenal banyak gaya permainan tim-tim Eropa,” kata gelandang Divie Alviandi.

”Dari dua kali mengikuti Piala Gothia (U-14 pada 2014, dan U-15 pada 2015), gaya permainan dari jenjang umur yang berbeda satu tahun sudah sangat besar. Di U-15 permainan lebih ketat,” ujar Yuswanto.

Penyerang sayap LKG BRI Indonesia, Fauzan Alhadar (kedua dari kanan), memimpin tarian perayaan golnya ke gawang Ojersjo bersama rekan setim, Rabu (16/7/2025), di Lapangan Kviberg 15, Gothenburg, Swedia. LKG BRI Indonesia unggul mutlak 4-0 untuk menutup fase penyisihan dengan poin penuh.

Pengalaman di laga-laga internasional melawan tim dari berbagai negara dengan kultur bola masing-masing inilah yang menjadi nilai penting Piala Gothia. Target utama sebagian besar tim bukan hanya memburu juara, melainkan membuka cakrawala bermain bola. Piala Gothia merupakan salah satu jendela menuju masa depan.

”Piala Gothia ini sangat penting bagi anak-anak untuk tahu berbagai gaya permainan. Ini titik pertemuan dari berbagai negara. Anak-anak akan saling berinteraksi, bertukar pengalaman, dan mereka pasti akan terpicu untuk berjuang lebih keras lagi. Ini jendela menuju masa depan bagi anak-anak,” ujar Pelatih Tim U-18 Afrika Selatan Ray Pienaar pada waktu itu. 

Tahun ini, tim LKG-BRI Indonesia kembali berkiprah di Gothia Cup, menjembatani talenta-talenta muda sepak bola Indonesia untuk membuka cakrawala bermain. Mereka bertanding sekaligus berjumpa dengan kultur-kultur bola dari berbagai penjuru dunia. Pengalaman ini akan turut menguatkan fondasi karier profesional mereka kelak.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agung Setyahadi
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra