Pesepak bola putri dari kelompok usia 14 dan 16 tahun dari berbagai daerah bersaing menjadi pemain terbaik di level nasional. Kesempatan membela timnas terbuka.
11 Jul 2025 19:38 WIB · Olahraga
KUDUS, KOMPAS — Setelah setiap regional masing-masing memilih pemain terbaiknya, sebanyak 16 tim dari Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa beradu kemampuan di Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 All Stars. Inilah puncak persaingan para pesepak bola putri remaja dari berbagai daerah di Indonesia sekaligus awal langkah mereka pada level nasional.
Keberhasilan tim Tangerang, Sumatera Utara, Papua, dan Bandung meraih tiket ke semifinal Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 All Stars menandai turnamen akan segera menemukan juaranya. Tim-tim ini melaju ke babak empat besar setelah memenangi laga perempat final, Jumat (11/7/2025) di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah.
”Bangga sekali, bangga dengan tim (karena bisa lolos ke semifinal). Main enggak kenal capek. Kami sadar kalah itu sakit, jadi enggak mau merasakannya lagi,” kata pemain Sumut, Oedaijah Oshoea Sarinah, selepas kemenangan, 4-1, atas Malang.
Pada laga perempat final tersebut, Sumut berstatus sebagai runner up Grup A sehingga bertemu dengan Malang yang merupakan juara Grup C. Dalam tiga laga pada babak penyisihan grup, Sumut menelan satu kekalahan dari Jakarta yang pada akhirnya memuncaki Grup A. Untuk itu, Sumut berusaha tidak meraih hasil serupa saat fase gugur.
Sumut menjadi satu dari 16 tim peserta Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 All Stars. Ajang ini merupakan turnamen puncak bagi pesepak bola putri remaja dari 16 kota dan regional dari Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa yang berlangsung hingga Minggu (13/7/2025).
Setiap tim terdiri dari pemain terbaik dari setiap kota maupun regional penyelenggaraan Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 2025 sejak April hingga akhir Juni lalu. Para pemain dari kelompok usia 14 tahun dan 16 tahun ini terpilih dari turnamen yang digelar di Tangerang, Bandung, Cirebon, Semarang, Surabaya, Kudus, Malang, Jakarta, Solo, dan Yogyakarta. Selain itu, ada pula para pemain yang diseleksi di Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusra, Papua, Sumut, dan Sumatera Selatan.
”Saya tidak membebani mereka dengan target harus semifinal, harus semifinal, atau apa pun itu. Saya hanya minta mereka bermain sesuai instruksi, harus mengerti bahwa sepak bola adalah proses, adalah kerja keras, adalah latihan,” tutur pelatih Sumut Agus Riyadi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/b736268ec74016e53d930d81368a2d3e-DSC00412.jpeg)
Kehadiran Piala Pertiwi U-14 dan U-16 menambal lubang yang sebelumnya ada pada jenjang turnamen sepak bola putri. Lubang itu muncul karena pembinaan sepak bola putri pada level remaja selama ini belum sepenuhnya konsisten dan masih berfokus pada kelompok umur 17 tahun dan kategori di atasnya.
Selain Piala Pertiwi U-17 yang sempat dihelat PSSI, sebenarnya ada pula liga putri U-17. Namun, sejauh ini baru PSSI Asosiasi Kota Bandung yang menggelarnya lewat Bandung Women League U-17 atau Liga Putri Bandung U-17.
Ada pula upaya dari PSSI Asosiasi Kota Surabaya yang menggulirkan kompetisi sepak bola putri bertajuk Liga Putri Surabaya. Pada edisi perdana 2024, turnamen sepak bola putri U-18 ini diikuti oleh tujuh tim di Kota Surabaya.
Lalu, pada level usia 10-12 tahun, pembinaan mulai digalakkan dalam tiga tahun terakhir. Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI), misalnya, pernah menggelar ASBWI Cup U-15 Nasional 2023 selama satu pekan. ASBWI juga menggelar beberapa kali festival sepak bola putri.
Sejak 2023, Djarum Foundation juga menginisiasi turnamen sepak bola putri kelompok umur 10 tahun (U-10) dan U-12 bertajuk MilkLife Soccer Challenge. Rangkaian turnamen ini telah memasuki tahun ketiga dengan menjangkau delapan kota di Pulau Jawa.
Pada tahun ini, PSSI akhirnya menggandeng Djarum Foundation dan Hydroplus untuk menambal lubang turnamen dan kompetisi pada level remaja tersebut lewat Piala Pertiwi U-14 dan U-16. Dengan demikian, jenjang turnamen level remaja menjadi lengkap. Pemain-pemain yang sebelumnya bermain pada kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun pun memiliki wadah selanjutnya ketika usia mereka bertambah.
Selain memberi wadah bagi pesepak bola putri belia, kehadiran Piala Pertiwi U-14 dan U-16 juga memudahkan pembentukan tim sepak bola putri Indonesia yang akan disiapkan mengikuti Piala AFF Putri U-16 2025 dan kualifikasi Piala Asia Putri U-17 2026. Untuk itu, setiap pertandingan dipantau oleh tim pencari bakat yang ditunjuk PSSI. Pelatih timnas putri, Satoru Mochizuki, juga turut hadir memantau laga sejak Kamis (10/7/2025).
Artinya, turnamen ini menjadi puncak persaingan bagi para pesepak bola putri remaja sekaligus awal langkah mereka di level nasional memperkuat daerah masing-masing. Dari turnamen ini pula, mereka akan mengawali mimpi menatap level berikutnya, yakni memperkuat Indonesia lewat timnas.
”Melalui program ini, diharapkan akan terbentuk sistem pembinaan yang lebih terorganisasi dan berkelanjutan sehingga para pemain sepak bola putri dapat terus berkembang melalui kompetisi yang konsisten dan berjenjang,” kata Program Director Hydroplus Piala Pertiwi U-14 dan U-16 Teddy Tjahjono.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengapresiasi penyelenggaraan turnamen kelompok umur ini. Erick, yang selalu mengutarakan soal pentingnya membangun sepak bola putri dari akar rumput ketika ditanya soal kehadiran kompetisi dalam bentuk liga, berharap kehadiran turnamen ini memperkuat fondasi pembangunan sepak bola putri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/a953b15fe33d4ee150661be082dc5c26-DSC00382.jpeg)
Pertandingan Pertiwi U-14 dan U-16 All Stars menggunakan satu lapangan sepak bola dengan durasi 30 menit x 2 babak dan turun minum 10 menit. Sebanyak 16 tim yang berlaga dibagi ke dalam 4 grup, dimulai dengan pertandingan penyisihan grup, perempat final, semifinal, hingga final.
Selain memperebutkan podium juara, peringkat kedua, dan semifinalis ada pula penghargaan untuk individu. Penghargaan ini berupa pencetak gol terbanyak, pemain terbaik, dan kiper terbaik.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase