Piala Sudirman, demi Apa?

Tantangan besar terdekat setelah gagal meraih gelar dari Kejuaraan Asia Bulu Tangkis adalah Piala Sudirman. Hasil sepanjang 2025 membuat Indonesia akan sulit juara.

13 Apr 2025 19:28 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Hanya satu dari potensi 50 gelar juara didapat Indonesia dari sepuluh turnamen bulu tangkis yang telah digelar pada 2025. Dengan fakta ini, apa yang pantas menajdi target Indonesia untuk Kejuaraan Piala Sudirman?

Dari turnamen ke turnamen sejak musim kompetisi 2025 dimulai pada pekan kedua Januari, tim Indonesia seringkali pulang tanpa gelar juara. Itu terjadi pada turnamen BWF Tour Super 100, level menengah BWF World Tour Super 300 dan 500, hingga level tinggi Super 750 dan 1000.

Satu-satuya wakil yang kembali dengan status juara adalah Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari dari Thailand Masters Super 300, awal Februari. Gelar lain datang dari skuad muda berusia 20 tahun ke bawah pada turnamen lebih rendah, Singapura dan Sri Lanka International Challenge.

Pada level tinggi di India Terbuka Super 750 serta Malaysia Terbuka dan All England Super 1000, atlet-atlet Indonesia kalah bersaing dengan China yang telah mendapat empat gelar juara, serta Korea Selatan dan Jepang yang masing-masing mendapat tiga gelar.

Kegagalan Indonesia menempatkan atlet di podium juara, juga, terjadi pada Kejuaraan Asia yang berlangsung di Ningbo, China, 8-13 April. Dalam final yang berlangsung Minggu (13/4/2025), tak ada satu pun wakil Indonesia. Hasil terbaik atlet “Merah Putih” dalam turnamen selevel Super 1000 ini adalah semifinal yang didapat Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana.

China mempunyai lima finalis, dua wakil diantaranya bertemu dalam perebutan gelar juara tunggal putri yang dimenangi Chen Yu Fei. Ganda putri China, Liu Sheng Shu/Tan Ning, juga, juara setelah mengalahkan juara All England asal Jepang, Nami Matsuyama/Chiharu Shida.

Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu saat tampil pada semifinal Kejuaraan Asia Bulu Tangkis di Ningbo, China, Sabtu (12/4/2025). Mereka kalah dari Hiroki Midorikawa/Natsu Saito (Jepang).

Pada nomor tunggal putra, Lu Guang Zhu berhadapan dengan atlet Thailand, Kunlavut Vitidsarn, yang akhirnya menang. Adapun ganda putra non unggulan, Chen Bo Yang/Liu Yi menantang unggulan keenam asal Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik.

Hanya pada nomor ganda campuran, tak ada pemain China yang tampil di final. Gelar juara nomor ini diraih Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong) atas Hidoki Midorikawa/Natsu Satio (Jepang).

Kekosongan atlet China dalam final ganda campuran menjadi yang pertama kali sejak Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi juara Asia 2015 dengan mengalahkan Lee Chen Huei/Chau Hoi Wah (Hong Kong) di final. Setelah itu, pasangan China selalu menjadi juara dalam tujuh penyelenggaran beruntun hingga 2024. Sebagai catatan, Kejuaraan Asia 2020 dan 2021, yang awalnya akan digelar di Wuhan, China, dibatalkan karena pandemi Covid-19.

Tidak adanya ganda campuran China di final Kejuaraan Asia serta kekalahan dari atlet negara lain dalam final Malaysia Terbuka dan Indonesia Masters merupakan situasi yang muncul pada pergantian generasi setelah pensiunnya Zheng Si Wei.

Zheng, yang menjuarai berbagai ajang besar bersama Huang Ya Qiong, Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping, lalu Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping adalah ganda campuran terbaik dunia yang mendominasi persaingan sejak 2018 hingga 2024. Saat ini, negara tersebut dalam upaya membangun kembali kekuatan ganda campuran untuk meneruskan era para senior, terutama Wang/Huang dan Zheng/Huang sebagai peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 dan Paris 2024.

Walaupun gagal menjadi juara Asia, ganda campuran China menjuarai All England melalui Guo Xin Wa/Chen Fang Hui. Ada pula Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin yang menjuarai India Terbuka dan menempati ranking teratas dunia sejak 18 Maret. Namun, performa mereka tak sekonsisten Zheng/Huang dan Wang/Huang.

Zheng Si Wei and Huang Ya Qiong of China celebrate after defeating Chen Tang Jie and Toh Ee Wei of Malaysia in the mixed doubles badminton match finals at the World Tour Finals in Hangzhou in east China's Zhejiang province, Sunday, Dec. 15, 2024. (AP Photo/Andy Wong)

Periode setelah selesai Olimpiade, yang terakhir adalah Paris 2024, selalu menjadi momen pembentukan atau penguatan generasi baru kekuatan bulu tangkis setiap negara. Selain ganda campuran, saat ini China bersaing tanpa peraih emas ganda putri Paris 2024, yaitu Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, meski mereka bermain di Kejuaraan Asia karena lolos berdasarkan ranking. Mereka masih bisa menembus semifinal dalam penampilan bersama untuk pertama kalinya sejak Turnamen Final BWF, Desember 2024.

Pergeseran kekuatan juga terjadi pada nomor tunggal putri. Wang Zhi Yi dan Han Yue berada di atas seniornya, Chen Yu Fei. Tunggal putri berusia 18 tahun, Tomoka Miyazaki, juga dalam perjalanan untuk meneruskan kesuksesan Akane Yamaguchi di Jepang.

Miyazaki, yang setahun lebih tua dari atlet Indonesia, Ester Nurumi Tri Wardoyo dan Ruzana, baru bersaing dalam turnamen BWF World Tour sejak 2023, tetapi memperlihatkan potensi besar untuk meneruskan sukses Yamaguchi. Dia menjuarai Orleans Masters Super 300 dan menembus China Terbuka Super 1000 pada 2024. Adapun pada 2025, hasil terbaiknya adalah menjadi semifinalis India Terbuka.

Dari semua atlet yang aktif bertanding pada tahun ini, performa terbaik diperlihatkan ganda putra formasi baru dari Korea Selatan. Duet Seo Seung-jae/Kim Won-ho tiga kali menjadi juara dari enam kejuaraan, dua diantaranya dari turnamen Super 1000, yaitu Malaysia Terbuka dan All England.

Pebulu tangkis putri China, Wang Zhi Yi, saat bertanding melawan Tai Tzu Ying (Taiwang) pada final East Ventures Indonesia Open 2022 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (19/6/2022). Wang Zhi Yi kalah dalam tiga set 23-21, 6-21, 15-21. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 19-09-2022

Kalah start

Bulu tangkis Indonesia berada tahap yang sama, membangun kekuatan setelah gagal meraih emas di Paris 2024. Namun, berdasarkan hasil sepuluh turnamen, termasuk Kejuaraan Asia, Indonesia kalah start dibandingkan negara lain. Ketika China, Jepang, dan Korea Selatan berlari dari garis start, Indonesia memulai dari belakang mereka.

“Merah Putih” memiliki atlet-atlet muda potensial seperti Alwi Farhan, Ester, dan pemain lain yang lebih muda. Hanya saja, masih butuh proses panjang untuk membuat mereka bisa bersaing di level atas. Ini karena celah performa dan prestasi para senior seperti Jonatan Christie dan atlet-atlet di bawahnya terlampau jauh. Begitu pula jika dibandingkan atlet dari satu generasi dari negara lain.

Ester misalnya, memiliki hasil terbaik final Australia Terbuka Super 500 pada 2024, sementara Miyazaki pernah mencapai final turnamen Super 1000. Miyazaki, juga, sudah bisa menjadi peserta babak utama turnamen Super 500 ke atas.

Pada tunggal putra, Perancis, bahkan, memiliki Alex Lanier, atlet 20 tahun berperingkat kesepuluh dunia. Lanier menambah keberadaan Popov bersaudara, Christo dan Toma Junior, dalam persaingan BWF World Tour. Padahal, negara ini tak memiliki tradisi kuat di cabang bulu tangkis.

Lanier, yang meraih perunggu Kejuaraan Dunia Yunior 2023 di saat Alwi menjadi juara, memiliki tiga gelar juara, termasuk dari Jepang Terbuka Super 750 pada 2024 dan Orleans Masters Super 300 di tahun ini. Adapun Alwi baru menjuarai level Super 100 dan masih harus bersaing sejak babak kualifikasi pada turnamen Super 500 ke atas.

Alwi Farhan melawan Hu Zhe An dalam final Indonesia melawan China pada Kejuaraan Asia Bulu Tangkis Beregu Campuran menjadi persaingan juara dunia yunior dalam dua tahun terakhir. Alwi mengalahkan Hu di Qingdao, China, Minggu (16/2/2025), dan membuat Indonesia unggul 2-0.

Indonesia masih mengandalkan para senior, seperti Jonatan, Anthony Sinisuka Ginting, dan Fajar Alfian/Muhamad Rian Ardianto untuk menjuarai turnamen besar, padahal, mereka pun sudah kesulitan untuk konsisten bersaing pada level atas.

Tunggal putra, bahkan, bisa dikatakan hanya memiliki Jonatan pada saat ini. Anthony harus menyembuhkan cedera pada bahu kanan sehingga dia absen dari turnamen sejak selesai Malaysia Terbuka, 7-12 Januari.

Chico Aura Dwi Wardoyo masih bisa menjadi peserta turnamen Super 1000 hingga All England yang berlangsung Maret. Namun, rankingnya yang terus menurun—saat ini Chico di urutan ke-39—tak menjamin bahwa dia akan langsung mendapat tempat lagi pada babak utama BWF World Tour.

Sejak 2023, atlet berusia 26 tahun itu hanya tiga kali melewati babak kedua turnamen. Kekalahan pada babak pertama Kejuaraan Asia menjadi kekalahan ke-15 secara beruntun pada dua babak awal.

Performa Gregoria Mariska Tunjung masih naik-turun pada tahun ini. Dia bisa mencapai semifinal India Terbuka, tetapi kalah pada babak kedua di Kejuaraan Asia.

Usai Greysia Polii pensiun, ganda putri sempat menaruh harap pada Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Akan tetapi, perjalanan mereka tak mulus.

Apriyani/Fadia berlatih di Birmingham, Senin (10/3/2025)

Setelah Paris 2024, Apriyani baru bertanding lagi pada akhir Februari 2025, di Orleans Masters dan All England. Akan tetapi, pelatih menilai bahwa peforma Apriyani tak sesuai harapan. Fadia pun akan melanjutkan perjalanan bersama Lanny Tria Mayasari, sementara Apriyani akan dipasangkan dengan Febi Setianingrum dengan tujuan bisa membawa Febi untuk mengembangkan kemampuannya.

Mandeknya Apriyani/Fadia menaikkan Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi sebagai ganda putri nomor satu Indonesia dan mereka berada pada posisi sepuluh besar dunia sejak Desember 2024. Meski demikian, ganda putri ranking kedelapan dunia itu belum bisa mengalahkan pasangan top dunia dari China, Jepang, dan Korea Selatan.

Ganda campuran, bahkan, diruwetkan dengan pencarian pasangan yang pas untuk pemain-pemain paling senior di pelatnas utama. Setelah tak memanggil lagi Rehan Naufal Kusharjanto ke pelatnas untuk 2025, PP PBSI memasangkan Lisa Ayu Kusumawati dengan Rinov Rivaldy sejak awal 2025. Sementara, pasangan Rinov, yaitu Pitha Haningtyas Mentari diduetkan dengan pemain muda, Verrel Yustin Mulia.

Pelatih ganda campuran Rionny Mainaky berencana mengembalikan duet Rinov/Pitha sebagai lanjutan penampilan mereka di Kejuaraan Asia. Namun, nama mereka tak didaftarkan ke turnamen Taiwan Terbuka, Thailand Terbuka, dan Malaysia Masters, bagian dari Tur Asia yang berlangsung Mei.

Hal positif dari nomor ini adalah adanya potensi besar pada Jafar/Felisha, duet termuda di pelatnas utama. Berpasangan sejak Agustus 2024, mereka meraih beberapa pencapaian terbaik pada tahun ini, yaitu semifinal turnamen Super 300 di Thailand Masters, babak kedua Super 500 (Indonesia Masters), dan semifinal Kejuaraan Asia yang setara Super 1000.

Rionny menilai, jika bisa memperbaiki setiap kekurangan, tetap disiplin dan bekerja dalam berlatih, mempunyai rasa percaya diri, dan tak cepat puas atas setiap hasil, Jafar/Felisha siap bersaing pada level atas.

Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari memenangi babak pertama Kejuaraan Asia Bulu Tangkis di Ningbo, China, Selasa (8/4/2025).

Hasil mereka di Ningbo menjadi yang terbaik diantara empat wakil ganda campuran Indonesia, termasuk Rinov/Pitha sebagai yang paling senior. Tiga gelar juara dari turnamen international challenge dan Super 100 pada 2024 didapat setelah mengalahkan senior lain,  Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah dan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil.

Meski demikian, berdasarkan rekam jejak atlet-atlet besar di bulu tangkis dan cabang olahraga lain, proses untuk menjadi juara dan bertahan di level atas adalah proses sistematis dan panjang. Jafar/Felisha, dengan usia 22 dan 19 tahun, harus dibiarkan berkembang setahap demi setahap.

Putri Kusuma Wardani, tunggal putri nomor dua Indonesia di bawah Gregoria, menyadari banyak faktor yang harus dia punya untuk bisa bersaing dengan konsisten melawan atlet top dunia.

Berdasarkan pengalaman melawan atlet ranking kedua dunia, Wang Zhi Yi, pada babak pertama Kejuaraan Asia, Putri menilai bahwa dia belum bisa bermain konsisten dari satu poin ke poin yang lain. Menurut atlet berusia 22 tahun itu, dari lima perebutan poin, dia baru bisa bermain tanpa kesalahan dalam dua poin.

Walau telah mengeluarkan semua kemampuan dengan daya juang tinggi, Putri kalah tiga gim karena kekurangan itu. “Padahal, melawan atlet top dunia, bermain dengan kesalahan seminimal mungkin adalah faktor sangat penting,” katanya.

Selain tunggal putri dan ganda campuran, ganda putra sudah memiliki tabungan pemain untuk meneruskan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang semakin kesulitan bertahan di level atas. Fajar/Rian mengawali 2025 dengan kalah pada babak pertama Malaysia Terbuka, babak kedua India Terbuka, dan mencapai final Indonesia Masters. Setelah itu, mereka tersingkir pada babak kedua All England dan perempat final Kejuaraan Asia.

Juara bertahan All England, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, tersingkir pada babak kedua. Mereka kalah dari Kang Min-hyuk/Ki Dong-ju di Birmingham, Kamis (13/3/2025)

Ganda putra, bahkan, telah melahirkan pasangan potensial lebih dulu dengan keberadaan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana sejak 2021 yang berubah menjadi Leo/Bagas dan Fikri/Daniel pada Agustus 2024. Tahun ini, Leo/Bagas mencapai final All England dan semifinal Kejuaraan Asia.

Namun, tantangan mereka cukup besar mengingat ganda putra menjadi nomor dengan pesaingan paling ketat dan merata yang melibatkan banyak negara. Selain pasangan dengan formasi baru, banyak pemain lama yang masih bisa mempertahankan performa mereka, seperti Aaron Chia/Soh Wooi Yik, Goh Sze Fei/Nur Izuddin (Malaysia), serta pemain-pemain China dan Taiwan.

Target Piala Sudirman

Dengan situasi seperti dipaparkan di atas, bagaimana Indonesia menghadapi tantangan besar terdekat, yaitu Piala Sudirman? Kejuaraan dunia beregu campuran ini akan berlangsung di Xiamen, China, 47 April – 4 Mei.

Batas akhir pendaftaran pemain dari 16 tim peserta adalah Senin (14/4/2025). Meski PP PBSI belum mengumumkan anggota Tim Indonesia hingga Minggu sore WIB, daftar atlet bisa dipastikan telah disusun dan mungkin telah didaftarkan pada BWF.

Berdasarkan materi pemain dan peta persaingan saat ini, ada dua pilihan target yang bisa turut menentukan anggota tim, selain faktor kesiapan mereka. PBSI bisa menetapkan target juara dengan memprioritaskan atlet senior atas dasar memiliki pengalaman. Apalagi, Indonesia tak pernah menjuarai Piala Sudirman setelah penyelenggaraan pertama pada 1989 di Jakarta.

Pilihan kedua adalah membuat target berdasarkan realitas. Ketika para senior sudah kalah bersaing berdasarkan hasil turnamen 2025 yang telah berlangsung, bukan hal yang salah jika PBSI memberi kesempatan pada skuad muda untuk menjadi tulang punggung.

Ekspresi Jonatan Christie saat melawan tunggal putra Thailand Kunlavut Vitidsarn pada partai kedua laga terakhir Grup B Piala Sudirman 2023 di Suzhou, China, Kamis (18/5/2023).

Hal itu pernah dilakukan ketika penyelenggarakan Piala Thomas dan Uber 2022 di Thailand, 8-15 Mei, sangat berdekatan dengan persaingan bulu tangkis SEA Games Vietnam 2021 yang dimundurkan setahun karena pandemi Covid-19. Perebutan medali bulu tangkis berlangsung pada 16-22 Mei 2022.

Menyadari fakta bahwa sangat sulit untuk bisa melewati kekuatan China, Jepang, dan Korea Selatan di Piala Uber, tim putri Indonesia diperkuat pemain-pemain muda/pelapis berusia 17-21 tahun. Alih-alih memasukkan nama Gregoria dan Putri, tunggal putri mengandalkan atlet seperti Komang Ayu Cahya Dewi, Bilqis Prasista, dan Tasya Farahnailah yang ketika itu berusia 17 tahun.

Pada nomor ganda, Apriyani, Fadia, dan Ribka Sugiarto juga diturunkan di SEA Games. Adapun Tim Uber Indonesia diperkuat Febriana/Amalia, Lanny, dan Jesita Putri Miantoro.

Meski cukup ironis, mengingat atlet-atlet terbaik justru diturunkan dalam persaingan lebih rendah,  keputusan tersebut sangan realistis. Gregoria dan kawan-kawan diturunkan di SEA Games untuk mencapai target meraih medali emas dari pemerintah, sedangkan, skuad muda mendapat pengalaman berharga bermain di level Piala Uber.

Meski kalah dalam pengalaman bersaing dalam turnamen BWF World Tour, tim putri Indonesia lolos ke perempat final sebagai tim peringkat kedua Grup A di bawah Jepang. Komang dan kawan-kawan menang 5-0 atas Perancis dan Jerman serta kalah 1-4 dari Jepang.

China's players celebrate with the trophy after their victory over Korea in the 2023 Sudirman Cup world badminton championships in Suzhou in China's eastern Jiangsu province on May 21, 2023. (Photo by WANG Zhao / AFP)

Skuad muda itu tampil baik dengan tanpa beban hingga bisa mengalahkan lawan yang berperingkat lebih tinggi. Salah satu kejutan dibuat Bilqis yang mengalahkan Yamaguchi.

Pada perempat final, Indonesia kalah 0-3 dari China, tetapi setiap pemain yang diturunkan memiliki pengalaman berharga menghadapi kekuatan raksasa di sektor putri tersebut. Bilqis bisa memaksa He Bing Jiao bermain tiga gim.

Hal serupa seperti lima tahun lalu bisa saja diterapkan di Piala Sudirman 2025. Ketika statistik yang bisa dijadikan bahan analisis kekuatan menunjukkan bahwa peluang juara tak seberapa, tak ada salahnya menurunkan target dengan tujuan jangka panjang. Memprioritaskan atlet pelapis/muda bisa menjadi fondasi ketika pada saat ini dalam proses membangun kembali kekuatan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti