Semifinal menjadi hasil terbaik Indonesia dalam Kejuaraan Asia Bulu Tangkis. Indonesia pun tanpa gelar juara dalam tiga penyelenggaraan terakhir.
12 Apr 2025 22:45 WIB · Olahraga
NINGBO, SABTU — Indonesia lagi-lagi tak kebagian gelar juara. Hasil dua semifinal tak hanya membuat Indonesia gagal meraih gelar dalam Kejuaraan Asia Bulu Tangkis, tetapi pada hampir semua turnamen yang telah berlangsung selama 2025.
Kepastian tanpa gelar juara dalam Kejuaraan Asia di Ningbo, China, itu didapat setelah dua semifinalis kalah. Dalam pertandingan pertama dan terakhir yang berlangsung di Ningbo Olympics Sports Gymnasium, Ningbo, China, Sabtu (12/4/2025), kekalahan dialami Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu dan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana.
Jafar/Felisha kalah dari Hiroki Midarikawa/Natsu Saito (Jepang) dengan skor 21-15, 21-23, 11-21. Meski tersingkir, pasangan termuda di pelatnas utama ganda campuran itu memperlihatkan penampilan baik selama di Ningbo dengan mengalahkan pemain unggulan, salah satunya pasangan ranking ketiga dunia, Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie (Malaysia), pada perempat final.
Leo/Bagas, sebagai harapan terakhir Indonesia membawa gelar juara Asia, akhirnya mendapat hasil yang sama. Mereka bermain baik pada gim pertama, melakukan beberapa kesalahan menjelang akhir gim kedua, lalu tak bisa mengimbangi permainan powerful lawan hingga kalah 21-13, 18-21, 12-21 dari Chen Bo Yang/Liu Yi (China).
Kekalahan Leo/Bagas dan Jafar/Felisha, yang melangkah paling jauh dibandingkan dengan rekan-rekannya itu, tak hanya membuat Indonesia tanpa gelar juara Asia dalam tiga penyelenggaraan terakhir. Hasil tersebut juga membuat tim bulu tangkis Indonesia tak kebagian gelar dari sebagian besar turnamen 2025.
Dari sembilan turnamen level Super 100, 300, 500, 750, dan 1000 yang telah berlangsung, hanya satu wakil Indonesia yang juara, yaitu Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari. Mereka juara di Thailand Masters Super 300 pada akhir Januari. Setelah itu, atlet-atlet bulu tangkis Indonesia kalah bersaing dengan banyak negara, seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan Korea Selatan.
Hasil lebih baik didapat pemain-pemain muda yang masih bersaing pada tingkat international series/challenge. Momen terbaik ada dalam turnamen Singapura International Challenge, Februari, ketika Indonesia menjuarai empat nomor.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/12/db49e0a7a77f9f6330510a6ffc756d3c-JafarFelisha2_SF_BAC2025_PBSI_20250412.jpg)
Di Ningbo, China menjadi negara yang paling banyak memiliki finalis. Mereka menempatkan lima wakil di final meski lebih banyak pemain yang kalah di semifinal, yaitu enam wakil. Tiga kekalahan dialami oleh mereka yang berhadapan dengan atlet negara lain, sementara tiga lainnya terjadi dalam pertandingan sesama atlet China.
Dalam lima final yang akan berlangsung Minggu, satu-satunya nomor yang tak diwakili pemain China adalah ganda campuran. Midorikawa/Saito akan berebut gelar dengan Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong). Sementara gelar tunggal putri dipastikan menjadi milik salah satu atlet tuan rumah dalam final antara Chen Yu Fei dan Han Yue.
Pada tiga nomor lain, atlet-atlet tuan rumah akan ditantang Nami Matsuyama/Chiharu Shida (Jepang) di ganda putri, Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia/ganda putra), dan Kunlavut Vitidsarn (Thailand/tunggal putra).
Dari performa yang ditunjukkan saat semifinal, Leo/Bagas belum bisa memperlihatkan konsistensi permainan level tinggi mereka dalam satu turnamen, bahkan, pada satu pertandingan. Saat lawan mengubah pola permainan, mereka belum bisa beradaptasi dengan cepat.
Pada gim kedua, misalnya, pasangan China lebih banyak menerapkan pola permainan menyerang balik setelah sabar dalam bertahan. Cara ini membuahkan hasil ketika mereka pun bisa mengubah ritme dan arah pukulan yang membuat Leo/Bagas terkecoh.
Hal lain yang menguntungkan Chen/Liu pada poin-poin akhir gim kedua adalah kesalahan yang dibuat Leo/Bagas. Ketika berusaha meraih poin dari drive, misalnya, kok dari Bagas jatuh di luar lapangan. Padahal, Leo/Bagas bisa berbalik unggul 16-14 setelah tertinggal 11-14.
Chen/Liu mempertahankan momentum tersebut pada awal gim ketiga hingga mereka langsung unggul 4-0. Ini menjadi awal ketertinggalan mereka sepanjang gim ketiga.
Kesulitan mengantisipasi serangan dari Chen/Liu pada hampir setiap perebutan poin, Leo/Bagas hanya bisa mendekat dengan selisih satu poin, yaitu pada skor 3-4 dan 8-9. Seusai interval, mereka tertinggal semakin jauh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/12/7a451bb5eb064db6b44e38751b4d7b8a-LeoBagas5_QF_BAC2025_PBSI_20250411.jpg)
Stadion yang tadinya lebih sering hening pada gim pertama hingga pertengahan gim kedua berubah menjadi ramai oleh sorakan penonton yang mendukung ganda putra nomor tiga China tersebut.
”Lawan bermain sangat bagus, terutama pada gim kedua dan ketiga. Mereka jarang melakukan kesalahan, sangat rapat dan solid. Kami sudah mencoba berbagai cara, berbagai pola, berbagai pukulan, tetapi sulit untuk menembus,” komentar Bagas.
Sementara Leo berterima kasih karena Bagas telah berupaya keras untuk menutup gerakannya yang tak maksimal. Ini terjadi karena Leo merasa tidak nyaman pada lutut kiri setelah terpeleset pada gim ketiga.
Selain itu, Leo juga mengatakan bahwa permainannya di depan net tak begitu mematikan. ”Lawan pun bermain sangat baik. Pertahanan mereka jauh lebih rapat dibandingkan dengan pertemuan tahun lalu,” kata Leo yang mengalahkan Chen/Liu pada turnamen Kumamoto Masters 2024.
Target Leo/Bagas untuk bisa tampil konsisten di Kejuaraan Asia bisa dinilai tercapai dilihat dari sisi hasil. Termotivasi pencapaian final All England, sebulan sebelumnya, mereka meraih hasil yang tak berbeda jauh. Apalagi, meski hanya menjadi kejuaraan kontinental, Kejuaraan Asia memperebutkan poin ranking sama seperti All England, turnamen Super 1000 BWF World Tour.
Namun, persaingan ganda putra, sebagai yang paling ketat di antara semua nomor, membuat ganda putra ranking ke-14 dunia itu harus mencapai tahap konsistensi dalam penampilan. Pada turnamen level tinggi, seperti Super 750 dan 1000, kesalahan kecil bisa menjadi pembeda hasil.
Final Kejuaraan Asia, Minggu (13/4/2025)
Ganda campuran: Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong/5) - Hiroki Midorikawa/Natsu Saito (Jepang/8)
Tunggal putri: Chen Yu Fei (China) - Han Yue (China/2)
Ganda putri: Liu Sheng Shu/Tan Ning (China/1)-Nami Matsuyama/Chiharu Shida (Jepang/3)
Tunggal putra: Kunlavut Vitidsarn (Thailand/3)-Lu Guang Zu (China)
Ganda putra: Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia/6)-Chen Bo Yang/Liu Yi (China)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
FX Sukoto