Jelang lengser dari Gedung Putih, Presiden Joe Biden membunyikan alarm peringatan soal perselingkuhan pengusaha dan penguasa di AS pasca-era pemerintahannya.
16 Jan 2025 19:18 WIB · Internasional
WASHINGTON, KAMIS — Selama lebih kurang 20 menit, Rabu (15/1/2025) waktu Amerika Serikat atau Kamis (16/1/2025) dini hari WIB, Presiden AS Joe Biden tampil di layar televisi dan ruang digital gawai warga, memberikan ”salam perpisahan” setelah mengabdi lebih kurang empat tahun di Gedung Putih. Ada pencapaian, tetapi banyak juga tantangan serta kekhawatiran bagi bangsa AS. Presiden berusia 82 tahun itu mengutarakannya dengan gamblang.
”Saat ini, sebuah oligarki sedang terbentuk di Amerika dengan kekayaan, kekuasaan, dan pengaruh yang sangat besar yang secara harfiah mengancam seluruh demokrasi kita, hak-hak dasar dan kebebasan kita, dan kesempatan yang adil bagi semua orang untuk maju,” kata Biden.
Dia menekankan, ada upaya pemusatan kekuasaan di tangan segelintir orang ultrakaya dan konsekuensinya yang berbahaya, terutama jika penyalahgunaan kekuasaan dibiarkan begitu saja.
”Saya juga khawatir tentang potensi munculnya kompleks industri teknologi yang dapat menimbulkan bahaya nyata bagi negara kita juga,” kata Biden.
”Rakyat Amerika terkubur di bawah longsoran misinformasi dan disinformasi, yang memungkinkan penyalahgunaan kekuasaan. Pers bebas runtuh. Media sosial menyerah pada pengecekan fakta. Kebenaran diredam oleh kebohongan yang diceritakan demi kekuasaan dan keuntungan,” lanjut Biden.
Biden menyebut, sebagai negara penganut sistem demokrasi, AS juga masih jauh dari sempurna. Namun, sistem itu telah membawa AS menjadi penjuru bagi orang-orang atau negara yang meyakini kebaikan sistem tersebut.
”Sistem pemisahan kekuasaan, pengawasan, dan keseimbangan kita mungkin tidak sempurna. Akan tetapi, sistem ini telah mempertahankan demokrasi kita selama hampir 250 tahun, lebih lama daripada negara lain mana pun dalam sejarah,” kata Biden.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/6f0f1be558a56daa039c4e40c8400c91-063_2193530961.jpg)
Pernyataan Biden tersebut disampaikannya dari Ruang Oval, yang akan segera ditinggalkannya. Ia mengingatkan kembali peringatan salah satu mantan presiden AS paling masyhur, Dwight Eisenhower, tahun 1961. Saat itu Eisenhower mengingatkan kompleksitas industri-militer (industrial military complex), soal potensi kebangkitan kekuasaan yang salah dan kemudian membawa bencana yang lebih dahsyat bagi umat manusia.
Kini, Biden mengingatkan kembali soal itu, terutama ketika para pemilik perusahaan teknologi ”bersekutu” dengan penggantinya, Donald Trump. ”Enam dekade kemudian, saya juga khawatir tentang potensi kebangkitan kompleks industri-teknologi,” kata Biden. ”Itu juga dapat menimbulkan bahaya nyata bagi negara kita.”
Biden mengingatkan semua hal itu jelang peralihan kekuasaan dari dirinya ke Trump yang akan berlangsung pada Senin (20/1/2025), dan dijamin berlangsung aman. Berbeda dari peralihan kekuasaan sebelumnya yang anarkistis, ketika Trump kalah pada pemilu tahun 2020.
Dalam pidatonya, Biden tidak menyebut satu nama pun yang menggarisbawahi kekhawatiran ”perselingkuhan orang-orang kaya” dengan kekuasaan, dalam hal ini Partai Republik. Akan tetapi, sebagian besar sudah mengetahui bahwa peringatan itu ditujukan karena sepak terjang Elon Musk, pemilik Tesla, platform X hingga SpaceX, yang menjadi salah satu orang kepercayaan Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/90e511c3d7a1501bda4ef589f45a5a23-063_2193531144.jpg)
Musk mengucurkan lebih dari 100 juta dollar AS untuk membantu Trump terpilih lagi sebagai presiden. Setelah membawa Trump kembali ke Gedung Putih, Musk mencoba ”memengaruhi” pikiran rakyat Jerman dan Inggris atas pilihan politiknya, yakni terhadap Kanselir Olaf Scholz dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Menggunakan platform media sosial yang dibelinya, X, dia mencoba memengaruhi para pemilik suara di dua negara kekuatan utama ekonomi dunia tersebut.
Tak hanya kepada Musk, Biden juga mengarahkan sasaran pikirannya. Dia juga mengarahkannya kepada pemilik Meta, Mark Zuckerberg, dan Jeff Bezos, pemilik Amazon dan media The Washington Post.
Jelang pemungutan suara, The Washington Post yang biasanya memberikan dukungan penuh pada kandidat presiden asal Partai Demokrat, kini memilih abstain: tidak mendukung Trump ataupun Kamala Harris, calon Demokrat. Meski begitu, Bezos telah mengeluarkan dana besar mendukung komite pelantikan Trump dan berkunjung ke Mar A Lago, klub dan kediaman pribadi Trump.
Saat ini, sebuah oligarki sedang terbentuk di Amerika dengan kekayaan, kekuasaan, dan pengaruh yang sangat besar yang secara harfiah mengancam seluruh demokrasi kita, hak-hak dasar dan kebebasan kita, dan kesempatan yang adil bagi semua orang untuk maju. (Presiden Joe Biden)
Sementara itu, Zuckerberg, tak lama setelah Senat mengumumkan Trump sebagai pemenang pemilu, menghentikan program pengecekan fakta dalam platform medsos yang dikelolanya. Diduga para konglomerat ini mencoba mengambil hati pemerintahan Trump dan memengaruhi kebijakannya.
”Media sosial sudah tidak lagi melakukan pemeriksaan fakta. Kebenaran diredam oleh kebohongan yang disebarkan untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan,” kata Biden, yang tampaknya merujuk pada Meta yang mengakhiri program pemeriksaan faktanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/07/af8ff0f2-724b-4201-b5cb-628f50eac130_jpg.jpg)
Data Federal Reserve menunjukkan bahwa 0,1 persen orang terkaya di negara itu secara keseluruhan memiliki lebih dari lima kali kekayaan gabungan 50 persen orang termiskin AS.
Akhir tahun 2024, nilai total kekayaan orang-orang superkaya yang dicatat Bloomberg Billionaires Index mencapai 9,8 triliun dollar AS, Senin (30/12/2024). Nominal ini turun sedikit dari puncaknya, 11 Desember 2024, yakni 10,1 triliun dollar AS. Kekayaan mereka ini nyaris setara dengan gabungan produk domestik bruto (PDB) Jerman, Jepang, dan Australia tahun lalu, menurut data Bank Dunia.
Musk, sekondan Trump, menjadi orang terkaya di muka Bumi dengan total kekayaan mencapai 442,1 miliar dollar AS. Kekayaan Musk, yang kini menyebut dirinya dengan nama Kekius Maximus, naik 213 miliar dollar AS dibandingkan pada awal tahun 2024.
Biden mengkhawatirkan, konsentrasi kekuasaan di tangan penggantinya dan kelompok pendukungnya secara tidak terkendali akan menghapus upaya yang dilakukan oleh banyak orang, termasuk AS, untuk memperbaiki dunia. ”Kelompok yang kuat ingin menggunakan pengaruh mereka yang tidak terkendali untuk menghilangkan langkah-langkah yang telah kita ambil dalam mengatasi krisis iklim, untuk melayani kepentingan mereka sendiri: demi kekuasaan dan keuntungan. Kita tidak boleh diintimidasi untuk mengorbankan masa depan, masa depan anak-anak dan cucu-cucu kita,” kata Biden.
Dia juga mengingatkan, tidak ada satu orang pun kebal terhadap hukum, termasuk presiden. Juga dengan kekuasaannya. Presiden dan kekuasaannya tidak tak terbatas.
Juru Bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre mengatakan, apa yang disampaikan Biden tidak hanya terbatas pada kerja yang telah dilakukannya selama empat tahun terakhir di Gedung Putih, tetapi akhir kariernya dalam politik AS dan global. Substansinya lebih luas.
”Anda dapat membayangkan presiden memiliki banyak hal untuk dikatakan, banyak pemikiran yang ingin dia bagikan. Benar-benar menyentuh momen yang sedang kita alami saat ini,” kata Jean-Pierre.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/a133973d826b593c58d0a20c5bf84453-Biden_126716586.jpg)
Dalam lima dekade kariernya di dunia politik, Biden pernah menjadi senator termuda. Dalam usia 30 tahun, ia terpilih menjadi Senator Delaware, negara bagian tempat asalnya, tahun 1972.
Ia sempat berusaha mendapatkan kursi kepresidenan pada 1988 dan 2008, sebelum menjadi wakil presiden dari Barack Obama selama dua periode. Setelah itu, Biden tampak ingin pensiun dari dunia politik. Namun, ia kembali ke pusaran kekuasaan saat tampil sebagai kandidat presiden dari Demokrat pada 2020, dan mampu mendepak Trump dari Gedung Putih.
Meski ini menjadi akhir dari perjalanan karier Biden yang panjang, Vincent Rigby, mantan Penasihat Keamanan Nasional senior Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, mengatakan bahwa tidak mudah bagi banyak orang untuk mengenang segudang prestasi yang telah ditorehkan Biden sepanjang kariernya, terutama setelah masa jabatan pertama Trump.
Rigby mengatakan, Biden akan selamanya dikenang sebagai presiden ”sela” meski dia dipandang berhasil membangun kembali kepercayaan di AS pascamasa jabatan pertama Trump.
Pemerintahan Biden dan Partai Demokrat mendorong pemulihan pascapandemi Covid-19, mendanai kebangkitan infrastruktur, memicu produksi cip semikonduktor baru, dan mendorong kebijakan yang properubahan iklim. Dia meninggalkan ekonomi AS yang berkinerja lebih baik dan bisnis yang optimistis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/03/cf5fac18-4e67-45c0-ad8f-8aedfdf1374e_jpg.jpg)
Akan tetapi, Biden tidak dapat menyembuhkan perpecahan di negara itu seperti yang diharapkannya, atau menghentikan kemunduran demokrasi di seluruh dunia. Bahkan, Trump, telah bersumpah untuk membatalkan banyak hal yang dicapai pemerintahan Demokrat.
David Axelrod, mantan penasihat Presiden Barack Obama, mengatakan, sejarah mencatat bahwa Biden pernah mengalahkan Trump. Akan tetapi, terpilihnya kembali Trump menjadi penutup yang kurang mengenakkan bagi sejarah panjang karier politik Biden.
Senator Chris Coons, sekutu lama, mengatakan, saat didapuk menjadi presiden, Biden memikul tugas berat, mulai dari krisis ekonomi, krisis kesehatan masyarakat, dan krisis demokrasi. ”Negara ini berada di kedalaman krisis. Pemulihan dari pandemi itu merupakan satu-satunya pencapaian terbesarnya,” kata Coons.
Heidi Shierholz, presiden Economic Policy Institute Washington, mengatakan, tidak mudah membalikkan berbagai kebijakan yang telah mengakar lama. ”Salah satu hal paling mendasar yang dilakukan (pemerintahan Biden-Harris) adalah memberi pemulihan bantuan pada skala yang dibutuhkan untuk menghasilkan pemulihan pekerjaan yang kuat.” (AP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Muhammad Samsul Hadi