Tidak ada cara mendapatkan makanan dan obat di Gaza selain melalui bantuan kemanusiaan. Kini, dalam bantuan itu ada oksidon yang memicu kecanduan.
29 Jun 2025 11:00 WIB · Internasional
GAZA, MINGGU — Proses distribusi bantuan di Gaza oleh Amerika Serikat dan Israel tidak hanya menewaskan ratusan orang. Kini, muncul dugaan paket bantuan diselipi obat pereda nyeri dosis tinggi.
Dalam pernyataan pada Minggu (29/6/2025) WIB, Gaza Humanitarian Foundation (GHF) menyangkal tudingan soal obat bernama oksidon itu. GHF menuding oksidon dalam paket bantuan di Gaza hanyalah kebohongan.
”Tepung yang kami distribusikan dikemas secara komersial dan tidak diproduksi atau ditangani staf GHF. Kami punya protokol keselamatan yang termasuk semua kotak bantuan yang terbuka sebelum didistribusikan tidak akan dibagikan. Semua paket yang terlihat tidak baik tidak akan didistribusikan,” demikian pernyataan lembaga bentukan AS itu.
AS membentuk GHF yang menjadi penyalur tunggal paket bantuan kemanusiaan di Gaza. Washington memberikan 30 juta dollar AS, 7 juta dollar AS di antaranya telah dicairkan, untuk GHF.
Israel, yang sedang menjajah Gaza, hanya menyetujui GHF sebagai penyalur tunggal bantuan kemanusiaan di Gaza. Israel melarang pihak lain, termasuk Perserikatan Bangsa-bangsa, mengantarkan paket bantuan ke Gaza.
Aparat dan warga Israel memblokade semua jalan yang bisa dipakai mengantar bantuan ke Gaza. Tidak ada cara mendapatkan makanan dan obat di Gaza selain melalui bantuan kemanusiaan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/b9c6e8a2-7bc0-4a09-b11a-d8600c311409_jpg.jpg)
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut, cara kerja GHF tidak aman dan menewaskan warga. ”Orang-orang tewas hanya karena mencoba mendapatkan makanan. Pencarian makanan seharusnya tidak menjadi hukuman mati,” katanya.
Ia menyoroti fakta 549 orang tewas ditembaki Israel pada Juni 2025 saja. Mereka ditembaki saat sedang atau berusaha masuk antrean mengambil jatah bantuan pangan.
Media Israel, Haaretz, menyebut, sejumlah tentara Israel mengaku diperintah menembaki pengantre. Sering kali, perintah dikeluarkan meski prajurit tidak melihat bahaya atau ancaman apa pun. Pokoknya, suka-suka komandan dan tidak boleh dibantah.
Kematian saat antre bukan satu-satunya masalah dari distribusi bantuan oleh GHF. Sejumlah dokter dan perawat di Gaza menemukan oksidon dalam tepung yang dibagikan GHF. Oksigon merupakan pereda nyeri dosis tinggi dan biasanya diberikan kepada penderita kanker.
Konsumsi oksidon bisa mengakibatkan kecanduan parah. Jika dikonsumsi tanpa resep, pengguna bisa berhalusinasi dan kesulitan bernapas. ”Ini wujud paling menjijikkan dari genosida,” kata Omar Hamad, apoteker di Gaza.
Ia salah satu yang memverifikasi kandungan oksidon dalam paket tepung dari GHF. Verifikasi juga dilakukan antara lain oleh Khalil Mazen, dokter di Gaza. Kandungan itu, kata Mazen, bertujuan menghancurkan kesadaran orang-orang Gaza.
Dinas Kesehatan Gaza menyebut, temuan oksidon adalah serangan nyata kepada kesehatan warga Gaza. ”Ini bagian dari genosida Israel ke Gaza. Penggunaan obat-obatan adalah wujud terburuk perang,” demikian pernyataan Dinkes Gaza.
Sejak Maret 2025, Israel kembali memblokade total Gaza. Segala hal, termasuk obat-obatan dan susu bubuk untuk anak balita, dilarang masuk. Israel hanya mengizinkan GHF menyalurkan bantuan ke Gaza.
Seluruh organisasi kemanusiaan, termasuk yang terafiliasi dengan PBB, menolak bekerja sama dengan GHF. Sebab, GHF menyalurkan bantuan tanpa mematuhi prinsip kemanusiaan universal.
Pensiunan marinir AS, Jake Wood, termasuk yang mempersoalkan ketidakpatuhan itu. Wood mundur sebagai pimpinan GHF ketika tahu GHF dilarang menyalurkan bantuan sesuai prinsip itu. ”Saya tidak mau berkompromi soal prinsip,” kata Wood.
Israel dan GHF berkilah, bantuan memang tidak dibagikan kepada semua pihak. Semua yang dianggap bagian dari Hamas atau kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina tidak akan diberi bantuan.
Titik distribusi juga terbatas. Lokasinya semakin mendekati tempat-tempat yang diduga akan dijadikan pelintasan mengusir warga Palestina keluar Gaza. Sejak kembali menyerbu Gaza, Israel menegaskan niat mengusir seluruh warga Palestina dari sana.
Sejak Maret 2025, warga Gaza harus memilih kelaparan atau mengambil bantuan di wilayah yang ditentukan Israel. Saat mengambil bantuan, kini ada dua risiko, yakni ditembaki tentara Israel atau mabuk oksidon. (AP/AFP)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari