Presiden Amerika Serikat Donald Trump dihadapkan pada dilema berat. Ia harus memilih membiarkan harga minyak tetap tinggi atau menurunkannya dengan membuka peluang Angkatan Laut AS jadi sasaran. Ada dampak luar biasa atas apa pun pilihannya.
CNN mengulas dilema itu dalam laporan yang ditayangkan pada Senin (9/3/2026) siang waktu Atlanta atau Selasa (10/3/2026) dini hari WIB. Gedung Putih dan Departemen Pertahanan AS mengikuti dengan gelisah lonjakan harga minyak dan komoditas lain.
Dalam pernyataan di Florida, Trump menyinggung soal lonjakan harga minyak. Untuk menurunkan harga, ia menyebut opsi mengawal tanker keluar dari Teluk Persia. Bisa juga lewat pencabutan sebagian sanksi walau tak dijelaskan sanksi yang mana.
Sebelum menyatakan itu, ia menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin. AS menjatuhkan begitu banyak sanksi untuk mencegah Rusia menjual minyaknya. Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkap kemungkinan AS mengendurkan sanksi atas sektor perminyakan Rusia.
AS bersama mitranya di G7 atau kelompok tujuh negara industri dan 32 anggota Badan Energi Internasional (IEA) juga mempertimbangkan cadangan strategis. Dilaporkan Financial Times, anggota IEA punya 1,2 miliar barel cadangan minyak yang 700 juta barel di antaranya dimiliki AS dan Jepang.
Selepas pernyataan Trump, harga minyak terkoreksi. Dari hampir 110 dolar AS per barel pada Senin siang waktu New York menjadi 90 dolar AS per barel. Walakin, dengan tiadanya kepastian akhir serangan AS-Israel ke Iran, harga minyak dan komoditas lain tetap rentan.
Risiko
Membiarkan harga minyak tetap tinggi buruk bagi Trump dan miliaran penduduk Bumi. Partai Republik gelisah karena kenaikan itu bisa memangkas suara mereka di pemilu sela pada November 2026.
Namun, menurunkan harga minyak tak akan mudah. Opsi mengawal tanker keluar dari Teluk Persia amat berisiko.
CNN menulis, kapal-kapal perang AS kini berjarak ratusan kilometer dari pesisir Iran. Jika harus mengawal tanker keluar Teluk Persia, berarti kapal-kapal perang AS hanya beberapa kilometer saja dari pesisir Iran.
Kondisi itu membuat kapal AL AS maupun tanker yang dikawalnya lebih terjangkau oleh rudal dan aneka senjata Iran. Sejak AS-Israel menyerang Iran, Teheran praktis menutup Selat Hormuz. Selat itu satu-satunya pintu keluar dari Teluk Persia.
Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menyatakan tak akan membiarkan seliter pun minyak dibawa keluar Selat Hormuz. Kalau negara-negara Teluk mau membawa minyak keluar dari Teluk Persia, ada syarat dari IRGC: usir duta besar AS dan Israel.
Opsi pengawalan oleh AL AS disetujui para pemimpin perusahaan minyak AS. Kepada CNN, seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap menyatakan, opsi itu sedang dipelajari. Pejabat lain yang dihubungi CNN mengatakan, Gedung Putih sadar harus ada solusi atas masalah harga minyak.
Namun, para pejabat AS juga sadar Selat Hormuz adalah ”perairan kematian” yang dikendalikan Iran. IRGC dan militer reguler Iran, Artesh, punya berbagai alternatif untuk menjaga selat tetap tertutup.
IRGC atau Artesh bisa menebar ranjau laut. Mereka bisa juga menggerakkan kapal nirawak berpeledak. Pilihan lain, menembak dengan rudal dari pantai.
Hal lain, intelijen AS menyimpulkan serangan tidak akan dilancarkan waktu kapal masuk ke Teluk Persia. Serangan dilancarkan saat kapal akan keluar dan lambungnya penuh dengan minyak atau gas bumi.
Serangan seperti itu akan menghasilkan ledakan besar, apalagi kalau lambung kapal berisi gas.
Tanpa rencana
Mantan Kepala Bagian Iran di Intelijen Pertahanan Israel, Danny Citrinowicz, memaparkan, sejak awal strategi Iran menghadapi serangan AS-Israel sudah jelas. Iran akan memastikan semua akan terdampak.
Tekanan pada sektor energi menjadi inti strategi Iran. ”Selama konflik berlanjut, Iran akan terus memanfaatkan titik-titik strategis yang rawan, terutama Selat Hormuz, sambil mempertahankan tekanan pada produksi minyak dan gas di seluruh wilayah,” ujarnya.
Iran tidak dapat menandingi kekuatan militer AS dan Israel. Namun, luas dan posisi geostrategisnya adalah aset yang tidak dapat diremehkan. ”Jika Washington ingin menjamin kebebasan navigasi di Hormuz, kemungkinan besar mereka harus menggunakan kekuatan untuk melakukannya,” lanjutnya.
Ia juga kembali menyebut serangan AS-Israel ke Iran didasarkan pada asumsi salah. AS-Israel tak paham soal sejarah, cara pengambilan keputusan, dan sistem politik Iran. Washington-Tel Aviv juga salah menaksir kemampuan militer.
Dalam serangan sejak 28 Februari 2026, AS-Israel mencatat beberapa hal penting. Walakin, semua itu tak bisa disebut sepenuhnya sebagai kemenangan strategis atas Iran.
AS-Israel menyerang Iran tanpa kejelasan soal cara mengakhirinya. Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran adalah salah satu tanda ketidakjelasan itu. Mojtaba lebih keras pada AS-Israel dan lebih dekat ke IRGC.
”Lebih mengkhawatirkan lagi, pada tahap ini tampaknya tidak ada jalan realistis untuk mengakhiri perang melalui kesepakatan yang mempertahankan pencapaian operasional yang telah dibuat,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengungkapkan, AS-Israel semakin kehilangan arah. Permukiman dan aneka fasilitas serta infrastruktur sipil diserang. ”Saya tidak melihat tujuan yang masuk akal yang mereka ikuti. Mereka gagal mencapai tujuan mereka di awal, dan sekarang, setelah 10 hari, saya pikir mereka tidak memiliki tujuan,” ujarnya dalam wawancara dengan PBS News.
Ia juga mengatakan, perundingan dengan AS tak lagi dipikirkan Iran. Hal itu setelah AS setidaknya dua kali menyerang Iran di tengah proses perundingan.
”Mereka berjanji kepada kami bahwa mereka tidak memiliki niat untuk menyerang kami dan mereka ingin menyelesaikan masalah nuklir Iran secara damai dan menemukan solusi yang dinegosiasikan. Namun, mereka memutuskan untuk menyerang kami,” tutur Araghchi.
Soal serangan ke tetangga Iran, ia mengulangi penjelasan. ”Kami telah memperingatkan semua orang di wilayah ini bahwa jika AS menyerang kami, karena kami tidak dapat mencapai wilayah Amerika, kami harus menyerang pangkalan mereka di wilayah ini, fasilitas mereka, instalasi mereka, aset mereka,” katanya.
”Apa yang kami lakukan hanyalah membela diri. Kami menghadapi tindakan agresi, yang sama sekali ilegal,” ujarnya. (AP/AFP)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dihadapkan pada dilema berat. Ia harus memilih membiarkan harga minyak tetap tinggi atau menurunkannya dengan membuka peluang Angkatan Laut AS jadi sasaran. Ada dampak luar biasa atas apa pun pilihannya.
CNN mengulas dilema itu dalam laporan yang ditayangkan pada Senin (9/3/2026) siang waktu Atlanta atau Selasa (10/3/2026) dini hari WIB. Gedung Putih dan Departemen Pertahanan AS mengikuti dengan gelisah lonjakan harga minyak dan komoditas lain.
Serial Artikel
Harga Minyak Dunia Dipengaruhi Kata-kata Trump
Harga minyak melonjak seiring perang memanas. Begitu Trump beri sinyal perang segera berakhir, harga minyak turun lagi. Energi masih efektif jadi alat geopolitik.
Dalam pernyataan di Florida, Trump menyinggung soal lonjakan harga minyak. Untuk menurunkan harga, ia menyebut opsi mengawal tanker keluar dari Teluk Persia. Bisa juga lewat pencabutan sebagian sanksi walau tak dijelaskan sanksi yang mana.
Sebelum menyatakan itu, ia menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin. AS menjatuhkan begitu banyak sanksi untuk mencegah Rusia menjual minyaknya. Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkap kemungkinan AS mengendurkan sanksi atas sektor perminyakan Rusia.
AS bersama mitranya di G7 atau kelompok tujuh negara industri dan 32 anggota Badan Energi Internasional (IEA) juga mempertimbangkan cadangan strategis. Dilaporkan Financial Times, anggota IEA punya 1,2 miliar barel cadangan minyak yang 700 juta barel di antaranya dimiliki AS dan Jepang.
Selepas pernyataan Trump, harga minyak terkoreksi. Dari hampir 110 dolar AS per barel pada Senin siang waktu New York menjadi 90 dolar AS per barel. Walakin, dengan tiadanya kepastian akhir serangan AS-Israel ke Iran, harga minyak dan komoditas lain tetap rentan.
Risiko
Membiarkan harga minyak tetap tinggi buruk bagi Trump dan miliaran penduduk Bumi. Partai Republik gelisah karena kenaikan itu bisa memangkas suara mereka di pemilu sela pada November 2026.
Namun, menurunkan harga minyak tak akan mudah. Opsi mengawal tanker keluar dari Teluk Persia amat berisiko.
CNN menulis, kapal-kapal perang AS kini berjarak ratusan kilometer dari pesisir Iran. Jika harus mengawal tanker keluar Teluk Persia, berarti kapal-kapal perang AS hanya beberapa kilometer saja dari pesisir Iran.
Serial Artikel
Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Naik, Armada Tanker Hentikan Operasi
Dampak serangan AS-Israel, Iran menutup Selat Hormuz. Harga minyak dunia merambat naik. Armada kapal tanker terhadang dan terpaksa sandar di Teluk Persia.
Kondisi itu membuat kapal AL AS maupun tanker yang dikawalnya lebih terjangkau oleh rudal dan aneka senjata Iran. Sejak AS-Israel menyerang Iran, Teheran praktis menutup Selat Hormuz. Selat itu satu-satunya pintu keluar dari Teluk Persia.
Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menyatakan tak akan membiarkan seliter pun minyak dibawa keluar Selat Hormuz. Kalau negara-negara Teluk mau membawa minyak keluar dari Teluk Persia, ada syarat dari IRGC: usir duta besar AS dan Israel.
Opsi pengawalan oleh AL AS disetujui para pemimpin perusahaan minyak AS. Kepada CNN, seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap menyatakan, opsi itu sedang dipelajari. Pejabat lain yang dihubungi CNN mengatakan, Gedung Putih sadar harus ada solusi atas masalah harga minyak.
Namun, para pejabat AS juga sadar Selat Hormuz adalah ”perairan kematian” yang dikendalikan Iran. IRGC dan militer reguler Iran, Artesh, punya berbagai alternatif untuk menjaga selat tetap tertutup.
IRGC atau Artesh bisa menebar ranjau laut. Mereka bisa juga menggerakkan kapal nirawak berpeledak. Pilihan lain, menembak dengan rudal dari pantai.
Hal lain, intelijen AS menyimpulkan serangan tidak akan dilancarkan waktu kapal masuk ke Teluk Persia. Serangan dilancarkan saat kapal akan keluar dan lambungnya penuh dengan minyak atau gas bumi.
Serangan seperti itu akan menghasilkan ledakan besar, apalagi kalau lambung kapal berisi gas.
Tanpa rencana
Mantan Kepala Bagian Iran di Intelijen Pertahanan Israel, Danny Citrinowicz, memaparkan, sejak awal strategi Iran menghadapi serangan AS-Israel sudah jelas. Iran akan memastikan semua akan terdampak.
Tekanan pada sektor energi menjadi inti strategi Iran. ”Selama konflik berlanjut, Iran akan terus memanfaatkan titik-titik strategis yang rawan, terutama Selat Hormuz, sambil mempertahankan tekanan pada produksi minyak dan gas di seluruh wilayah,” ujarnya.
Iran tidak dapat menandingi kekuatan militer AS dan Israel. Namun, luas dan posisi geostrategisnya adalah aset yang tidak dapat diremehkan. ”Jika Washington ingin menjamin kebebasan navigasi di Hormuz, kemungkinan besar mereka harus menggunakan kekuatan untuk melakukannya,” lanjutnya.
Serial Artikel
Iran Tutup Sebagian Hormuz
IRGC menembakkan rudal darat ke sasaran di laut. Iran menggunakan skenario pengacakan elektronika kala melancarkan rudal tersebut.
Ia juga kembali menyebut serangan AS-Israel ke Iran didasarkan pada asumsi salah. AS-Israel tak paham soal sejarah, cara pengambilan keputusan, dan sistem politik Iran. Washington-Tel Aviv juga salah menaksir kemampuan militer.
Dalam serangan sejak 28 Februari 2026, AS-Israel mencatat beberapa hal penting. Walakin, semua itu tak bisa disebut sepenuhnya sebagai kemenangan strategis atas Iran.
AS-Israel menyerang Iran tanpa kejelasan soal cara mengakhirinya. Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran adalah salah satu tanda ketidakjelasan itu. Mojtaba lebih keras pada AS-Israel dan lebih dekat ke IRGC.
”Lebih mengkhawatirkan lagi, pada tahap ini tampaknya tidak ada jalan realistis untuk mengakhiri perang melalui kesepakatan yang mempertahankan pencapaian operasional yang telah dibuat,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengungkapkan, AS-Israel semakin kehilangan arah. Permukiman dan aneka fasilitas serta infrastruktur sipil diserang. ”Saya tidak melihat tujuan yang masuk akal yang mereka ikuti. Mereka gagal mencapai tujuan mereka di awal, dan sekarang, setelah 10 hari, saya pikir mereka tidak memiliki tujuan,” ujarnya dalam wawancara dengan PBS News.
Ia juga mengatakan, perundingan dengan AS tak lagi dipikirkan Iran. Hal itu setelah AS setidaknya dua kali menyerang Iran di tengah proses perundingan.
”Mereka berjanji kepada kami bahwa mereka tidak memiliki niat untuk menyerang kami dan mereka ingin menyelesaikan masalah nuklir Iran secara damai dan menemukan solusi yang dinegosiasikan. Namun, mereka memutuskan untuk menyerang kami,” tutur Araghchi.
Soal serangan ke tetangga Iran, ia mengulangi penjelasan. ”Kami telah memperingatkan semua orang di wilayah ini bahwa jika AS menyerang kami, karena kami tidak dapat mencapai wilayah Amerika, kami harus menyerang pangkalan mereka di wilayah ini, fasilitas mereka, instalasi mereka, aset mereka,” katanya.
”Apa yang kami lakukan hanyalah membela diri. Kami menghadapi tindakan agresi, yang sama sekali ilegal,” ujarnya. (AP/AFP)