LATIHAN PERANG

Iran Tutup Sebagian Hormuz

IRGC menembakkan rudal darat ke sasaran di laut. Iran menggunakan skenario pengacakan elektronika kala melancarkan rudal tersebut.

17 Feb 2026 19:31 WIB · Internasional

AFP PHOTO/US NAVY/Petty Officer 3rd Clas

Oleh Kris Mada

TEHERAN, SELASA — Garda Revolusi Iran menutup sebagian Selat Hormuz. Penutupan terjadi kala delegasi Iran dan Amerika Serikat sedang berunding.

Kantor berita di Iran, FARS melaporkan, penutupan pada Selasa (17/2/2026) berlaku beberapa jam. Penutupan itu bagian dari pengamanan keselamatan berlayar di selat penting tersebut. Diumumkan pada Senin, Garda Revolusi Iran (IRGC) berlatih perang di selat itu. Latihan itu disebut ”Kendali Cerdas” oleh IRGC.

Dilaporkan Tasnim News, Kepala Staf Angkatan Laut IRGC Laksamana Muda Alireza Tangsiri mengatakan, siap menutup Selat Hormuz kapan saja. IRCG tinggal menanti perintah dan siap bergerak.

Penutupan, kata Tangsiri, kemungkinan penutupan jalur air strategis tersebut bahwa keputusan berada di tangan para pejabat tinggi Iran. Sebagai prajurit, IRGC siap melaksanakan perintah itu. Latihan sejak Senin adalah bukti kesiapan tersebut.

Selat itu menjadi alur pengantaran hingga 25 persen komoditas energi global. Selat itu satu-satunya pintu masuk dan keluar Teluk Persia, tempat pelabuhan utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Timur Tengah.

Dalam latihan itu, IRGC memamerkan sejumlah pesawat nirawak dan rudal. IRGC mengklaim pesawat dan rudal itu bisa menyerang sasaran di udara dan laut.

Latihan dipusatkan di sekitar Pusat Abu Musa, Pulau Tnub Besar, Pulau Tnub Kecil, dan Pulau Sirri. IRGC menggunakan skenario mempertahankan daerah dan menangkal serangan lawan dalam latihan itu. Marinir Iran ditempatkan di pulau-pulau tersebut.

Dalam latihan, IRGC menembakkan rudal darat ke sasaran di laut. Iran menggunakan skenario pengacakan elektronika kala melancarkan rudal tersebut.

An EA-18G Growler, attached to Electronic Attack Squadron (VAQ) 133, makes an arrested landing on the flight deck of Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln (CVN 72) on Jan. 24, 2026. The Abraham Lincoln Carrier Strike Group is underway conducting routine operations in the U.S. 7th Fleet area of operations. Units assigned to 7th Fleet conduct regular Indo-Pacific patrols to deter aggression, strengthen alliances and partnerships, and advance peace through strength. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist Seaman Apprentice Cesar Zavala)

Skenario itu penting karena dalam perang modern, pengacakan sinyal menjadi salah satu bagian pertahanan dan penyerangan. Kala menyerbu Venezuela pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat terlebih dulu melancarkan serangan elektronika.

Serangan itu melumpuhkan sinyal komunikasi, mengacau fungsi radar, hingga mengganggu pasokan listrik. Dampaknya, pasukan Venezuela tak bisa mengoordinasikan pertahanan.

Di sejumlah palagan lain, pengacakan sinyal menjadi bagian standar operasi. Pesawat nirawak, pesawat konvensional, dan rudal mengandalkan sinyal elektronika untuk beroperasi.

IRGC, menurut laporan Tasnim dan FARS, tidak memperincikan skenario perang elektronika dalam latihan tersebut. IRGC hanya menjelaskan latihan itu sesuai dengan kebutuhan untuk persiapan menghadapi perkembangan di lapangan.

Perang elektronika

Sekitar 700 kilometer dari pesisir Iran kini ada kapal induk AS, USS Abraham Lincoln. Di geladak kapal itu, antara lain, ada pesawat EA-18 Growler dan E-2D Hawkeye. Selain menjadi perangkat pengintai, kedua pesawat itu juga menjadi pelantar utama perang elektronika.

AS tengah mengirimkan kapal induk kedua untuk mendekati Iran, USS Gerald Ford. Kapal induk terbesar di Bumi itu bergerak dari Karibia menuju Laut Arab sejak akhir pekan lalu. Dengan kecepatan maksimum 56 kilometer per jam, kapal itu ditaksir tiba dekat USS Abraham Lincoln paling cepat akhir Februari 2026.

Di geladak kedua kapal itu terdapat hampir 150 pesawat dan sejumlah helikopter. Sejumlah kapal perusak berpeluncur rudal juga menjadi bagian dari gugus tempur laut kedua kapal induk itu.

Apabila kedua kapal induk tiba, di sekitar Iran total ada hingga 600 peluncur rudal Tomahawk. Rudal laut ke darat itu jadi andalan AS menyerang berbagai lokasi.

An E-2D Hawkeye aircraft, attached to Airborne Command and Control Squadron 124, takes off from the flight deck of the world’s largest aircraft carrier, Ford-class aircraft carrier USS Gerald R. Ford (CVN 78), while underway in the Caribbean Sea, Jan. 16, 2026. U.S. military forces are deployed to the Caribbean in support of the U.S. Southern Command mission, Department of War-directed operations, and the president’s priorities to disrupt illicit drug trafficking and protect the homeland. (U.S. Navy photo)

AS mengerahkan armada perangnya bersamaan dengan upaya diplomasi. Di Geneva, Swiss, delegasi AS-Iran kembali berunding pada Selasa siang waktu Geneva.

AS diwakili Steve Witkoff dan Jared Kushner. Selain dengan Iran, Witkoff-Kushner dilaporkan melanjutkan perundingan soal Ukraina.

Di Geneva, delegasi Iran dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. FARS melaporkan, sejumlah staf hukum, ekonomi, dan bidang teknis lain mendampingi Araghchi.

Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, kehadiran tim penuh menunjukkan kesiapan Iran mencari terobosan untuk mencapai kesepakatan. Delegasi Iran telah menyampaikan pesan kepada AS. Isinya soal posisi Teheran mengenai isu nuklir, pencabutan sanksi, dan kerangka kerja untuk setiap potensi kesepahaman.

Pesan disampaikan melalui Oman, fasilitator perundingan itu. Menlu Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, telah bertemu delegasi AS dan Iran. Delegasi Oman-Iran bertemu pada Senin.

”Terobosan di Geneva dimungkinkan. Akan tetapi, hanya jika kedua pihak masuk perundingan dengan pemahaman bersama soal tujuan yang realistis,” kata analis senior pada Institut Kajian Keamanan Nasional (INSS) Israel, Danny Citrinowicz.

Mantan Kepala Bagian Israel di Intelijen Pertahanan Israel itu mengatakan, target realistis bagi AS-Iran adalah kesepakatan terbatas untuk mencegah perang. Kesepakatan itu juga untuk mencegah ketegangan nuklir.

”Kesepakatan menstabilkan keseimbangan regional—bahkan jika hal itu meninggalkan perselisihan yang lebih besar tanpa penyelesaian. Jika para pihak mencoba untuk mengamankan lebih dari itu, eskalasi hampir tidak dapat dihindari,” ujarnya.

Baqaei mengatakan, delegasi Iran telah menyampaikan pesan kepada AS. Isinya soal posisi Teheran mengenai isu nuklir, pencabutan sanksi, dan kerangka kerja untuk setiap potensi kesepahaman.

Pesan disampaikan melalui Oman, fasilitator perundingan itu. Menlu Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, telah bertemu delegasi AS dan Iran. Delegasi Oman-Iran bertemu pada Senin. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul