Sebanyak 57 biksu dari sejumlah negara peserta ajang Walk of Peace melakukan tradisi pindapata di pusat kota Klaten sembari menyebarkan semangat perdamaian.
25 Mei 2026 13:01 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Kompas/Ferganata Indra Riatmoko
Sinar matahari pagi menerpa tubuh para biksu yang melangkah keluar dari Wihara Bodhivamsa di Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (25/5/2026). Mereka berjalan dalam senyap menyusuri Jalan Mayor Kusmanto yang pagi itu berangsur ramai oleh kendaraan.
Sejumlah umat Buddha dan beberapa warga yang berkeyakinan lain telah menunggu rombongan biksu peserta kegiatan Walk of Peace itu di tepi jalan tersebut. Mereka telah menyiapkan makanan dan minuman untuk disampaikan kepada para biksu yang menjalani tradisi pindapata itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/49e1b19893dce6370246a052853424a2-20260525DRA12.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/1682cfd1d7ed39f0f8808598fab8ace4-20260525DRA14.JPG)
Pindapata merupakan tradisi yang dilakukan para pertapa Buddha pada masa lampau dan terus dilestarikan hingga kini. Tradisi itu memberikan kesempatan kepada umat untuk melakukan perbuatan baik kepada para rohaniwan Buddha tersebut.
Satu per satu biksu menerima sedekah dari warga yang telah menanti dengan sikap penuh hormat di tepi jalan. Angkim (50), seorang dayaka, mendampingi biksu yang berada di baris terdepan dan bertugas memastikan perjalanan 57 biksu pada pagi itu berjalan lancar. Dayaka adalah umat Buddha dari kalangan awam yang bertugas mendampingi atau mendukung kegiatan sehari-hari para biksu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/b4902ba10647be03f9f0e4afc6498e98-20260525DRA32.JPG)
”Pindapata memberikan kesempatan kepada warga untuk bersedekah dan berbuat baik,” ujar Angkim. Perjalanan Walk of Piece dari Bali menuju Candi Borobudur pada tahun ini diikuti oleh 57 biksu.
Rombongan biksu tersebut terdiri dari 43 biksu dari Thailand, 4 biksu dari Malaysia, 3 biksu dari Laos, dan 7 biksu dari Indonesia. Menurut Angkim, dalam sehari para biksu melakukan perjalanan sejauh lebih dari 30 kilometer.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/b47834072c67252ceda2f808de5f451b-20260525DRA05.JPG)
Selama perjalanan menuju Candi Borobudur untuk merayakan Waisak, para biksu melaksanakan pindapata di sejumlah daerah yang mereka singgahi. Makanan dan minuman yang diberikan ke dalam mangkuk yang dibawa para biksu lalu dikumpulkan pada sebuah kendaraan pengangkut khusus. Menurut Sudiyatno, salah satu anggota panitia acara tersebut, sebagian sedekah dari umat dibawa oleh para biksu sebagai bekal dan sisanya dibagikan kepada masyarakat sekitar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/374309c3aaaad8a821f950084ab58786-20260525DRA22.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/7ca001a7c423b4d81844ea29c8792560-20260525DRA31.JPG)
Walk of Piece merupakan ajang untuk menyebarkan semangat perdamaian di sepanjang rute yang dilalui. Ajang ini juga untuk mengobarkan semangat persatuan dan toleransi antarumat beragama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/fdf43a9dd17f342f4fb60f7d8300340a-20260525DRA09.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/5d1aa0c1fe8863755dd3681cc7dc57ff-20260525DRA08.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/668e592be04f715bf5811ccc5526b296-20260525DRA19.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/6f7628a67325505b5297429218f93b03-20260525DRA07.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/cc864761f86078716909587a532df14e-20260525DRA16.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/bf90c216838aa2dcdf5b519cb52a0f67-20260525DRA23.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/ce4f3bcec529e066055501cd89dbd3c1-20260525DRA24.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/99268dad649a3b291f7118c1eb815bac-20260525DRA26.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/ccd8492f58c43305d361f78d231ba445-20260525DRA28.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/25/610a4c351277ecf0ef2ad10ae4fa951e-20260525DRA30.JPG)
Penulis:
Ferganata Indra RiatmokoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji