PLTN Bushehr milik Iran dihantam proyektil. Bencana radiasi nuklir dari PLTN Bushehr dapat mengancam keselamatan Arab Saudi dan negara-negara Teluk.
19 Mar 2026 07:00 WIB · Internasional
AP Photo/Mehr News Agency/Majid Asgaripo
Sebuah proyektil diduga menghantam lahan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr di Iran. Tidak dilaporkan adanya pelepasan material radioaktif. Namun, insiden itu kembali mencuatkan kekhawatiran lama negara-negara tetangga Iran: PLTN di tepi Teluk Persia itu bisa saja terkena serangan atau gempa bumi dan memicu bencana nuklir.
Baik Iran, Rusia, maupun Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi serangan itu. ”IAEA telah diberi tahu oleh Iran bahwa sebuah proyektil menghantam lahan di PLTN Bushehr pada Selasa malam. Tidak ada kerusakan pada PLTN atau staf yang terluka,” sebut pernyataan IAEA, Rabu (18/3/2026).
Pada Selasa malam, kantor berita Rusia, TASS, mengutip pernyataan Alexey Likachev, CEO Rosatom, badan usaha nuklir milik Pemerintah Rusia. Ia mendesak dihentikannya serangan terhadap PLTN Bushehr demi menghindari bahaya nuklir.
”Serangan itu menghantam area yang berdekatan dengan gedung layanan metrologi yang terletak di lokasi PLTN Bushehr, sangat dekat dengan unit daya yang beroperasi,” kata Likachev.
Teknisi Rusia dari Rosatom mengoperasikan PLTN tersebut, yang menggunakan uranium yang diperkaya tingkat rendah buatan Rusia. ”Tidak ada korban jiwa di antara personel Rosatom. Situasi radiasi di lokasi tersebut normal,” lanjutnya.
Dalam laporan TASS pada 20 November 2025 disebutkan, ada 3.000 teknisi bekerja di PLTN Bushehr. Ada 700 teknisi Rusia yang turut bekerja di PLTN itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/03/12/3bef70d9-2ee1-48cd-88fb-0aa2f5ed1900.jpg)
Belum jelas apa sebenarnya proyektil yang menghantam kompleks PLTN Bushehr. Komando Tengah AS, yang bertanggung jawab atas pasukan yang melancarkan seranan udara di wilayah Iran bagian selatan, tidak menanggapi permintaan komentar.
Sejak serangan AS-Israel ke Iran dimulai pada 28 Februari lalu, pecahan peluru dari pencegatan rudal dan tembakan pertahanan udara lainnya turut menyebabkan kerusakan.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menekankan kembali seruannya agar pihak yang berkonflik menahan diri guna menghindari risiko apa pun akibat kecelakaan nuklir. Selama bertahun-tahun, IAEA menginspeksi secara terbatas program nuklir Iran, terutama setelah Presiden AS Donald Trump dalam masa jabatan pertamanya (2017-2021) secara sepihak menarik AS dari kesepakatn nuklir pada 2015.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/05/df03a28d11de6bc3a4b00d6ec31bcb21-20260205_ANU_AFP_Instalasi_Nuklir_Iran_mumed.jpg)
PLTN Bushehr terletak di Iran barat daya, sekitar 750 kilometer dari Teheran. Kota Bushehr menjadi rumah bagi pangkalan Angkatan Laut Iran dan bandara sipil-militer dengan sistem pertahanan udara yang melindungi wilayah tersebut.
Pada 1970-an, Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi mengumumkan rencana pembangunan 23 reaktor nuklir. Ia berambisi memiliki kendali penih atas siklus bahan bakar nuklir, yang memungkinkan pembangunan senjata nuklir.
Hal itu membuat para pejabat AS khawatir. Mereka pun memberlakukan pembatasan pada perusahaan-perusahaan AS untuk menjual barang ke Iran.
PLTN Bushehr merupakan PLTN pertama di Timur Tengah, hasil kerja sama Iran dan Rusia pada 1995. Perusahaan Jerman, Kraftwerk Union, memulai pembangunan PLTN Bushehr pada 1975 sebagai bagian dari kesepakatan senilai 4,8 miliar dolar AS untuk empat reaktor.
Namun, meletusnya Revolusi Islam pada 1979 menghentikan proyek tersebut. Selama Perang Iran-Iraq selama delapan tahun pada 1980-an, Irak berulang kali mengebom fasilitas itu guna menghentikan program Iran.
Rusia akhirnya masuk ke dalam proyek tersebut dan mulai membuat PLTN itu terhubung ke jaringan listrik Iran pada 2011. PLTN Bushehr mengoperasikan reaktor air bertekanan yang menghasilkan daya hingga 1.000 megawatt dan memasok listrik ke ratusan ribu rumah tangga, bisnis, serta industri lainnya. Namun, PLTN itu baru menyumbang 1 persen-2 persen dari total kebutuhan listrik Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/016cbc8b-08de-44c6-83fb-01c0658df31f.jpeg)
Iran telah berupaya memperluas PLTN Bushehr menjadi beberapa reaktor. Pada 2019, Iran memulai proyek untuk menambahkan dua reaktor ke PLTN tersebut, berkapasitas masing-masing 1.000 megawatt. Citra satelit pada Desember 2025 dari Planet Labs PBC menunjukkan konstruksi masih berlangsung di lokasi tersebut, dengan derek berdiri di atas kedua lokasi.
Reaktor yang saat ini beroperasi di PLTN Bushehr menggunakan uranium dari Rusia yang diperkaya hingga 4,5 persen. Ini tingkat rendah yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik.
Sebagai fasilitas nuklir sipil yang beroperasi, PLTN Bushehr tidak tersentuh selama perang 12 hari pada Juni 2025 antara Iran dan Israel. Selama perang itu, AS mengebom tiga lokasi pengayaan nuklir Iran, menghancurkan sentrifugal dan kemungkinan menjebak persediaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi hingga 60 persen di bawah tanah. Sejak itu, Teheran menghalangi inspeksi IAEA di lokasi-lokasi tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/18/b9e42b9b61e6fd00c6af4b0b692b75d5-Iran_US_1_.jpg)
Kemungkinan serangan terhadap PLTN dapat menyebabkan kebocoran radiasi ke lingkungan. Ini menjadi kekhawatiran utama dalam beberapa tahun terakhir setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022. PLTN Zaphorizhia milik Ukraina berada di tengah medan pertempuran Rusia-Ukraina.
Kebocoran radiasi nuklir ke Teluk Persia akan menjadi krisis eksistensial bagi negara-negara Arab Teluk. Negara-negara seperti Kuwait, Arab Saudi, Irak, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman bergantung pada pabrik desalinasi di Teluk Persia untuk pasokan air mereka.
Sejauh ini belum ada pakar nuklir yang memantau serangan tersebut. Iran dan Rusia juga belum merilis gambar terkait serangan di kompleks PLTN Bushehr. Namun, kekhawatiran sudah mulai merayapi kawasan sekitarnya. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim