PM Albanese Menang, Kembali Menjabat Periode Kedua

Albanese dari Partai Buruh yang berhaluan kiri berhasil mengalahkan pesaingnya, Partai Liberal yang konservatif.

03 Mei 2025 21:38 WIB · Internasional

Oleh Fransisca Romana Ninik W

SYDNEY, SABTU — Perdana Menteri Australia Anthony Albanese memenangi pemilu Australia. Ia menjadi perdana menteri pertama yang menjabat dua kali berturut-turut dalam kurun 21 tahun terakhir.

”Australia telah memilih untuk menghadapi tantangan global dengan cara Australia, menjaga satu sama lain sembari membangun masa depan,” kata Albanese dalam pidato kemenangan di hadapan pendukungnya di Sydney, Sabtu (3/5/2025).

”Kita tidak perlu mengemis atau meminjam, atau meniru dari tempat lain. Kita tidak mencari inspirasi di luar negeri. Kita menemukannya di sini, dalam nilai-nilai kita dan dalam diri orang-orang kita,” ujarnya menambahkan.

Albanese dari Partai Buruh yang berhaluan kiri tengah berhasil mengalahkan pesaingnya, Partai Liberal yang konservatif. Partai Buruh meraih kemenangan tipis dengan 78 kursi di parlemen yang beranggotakan 151 orang.

Pemerintah Australia biasanya dipilih untuk dua kali masa jabatan selama masing-masing tiga tahun. Namun, kerap kali mereka kehilangan kekuasaan pada pemilihan kedua. Namun, Partai Buruh telah berada di jalur yang tepat untuk menambah suara mayoritas dalam masa jabatan kedua ini.

TOPSHOT - Australia's Prime Minister Anthony Albanese speaks onstage after winning the general election at the Labor Party election night event in Sydney on May 3, 2025. Australia's left-leaning Prime Minister Anthony Albanese claimed victory in a general election on May 3, vowing to steer the nation through a rough patch of global uncertainty. (Photo by Saeed KHAN / AFP)

Selama masa kampanye, kedua pihak mengedepankan dua isu utama, yakni kebijakan energi dan inflasi. Keduanya sepakat bahwa Australia tengah menghadapi krisis biaya hidup.

Albanese telah berjanji untuk merangkul energi terbarukan, mengatasi krisis perumahan yang memburuk, dan menggelontorkan uang ke dalam sistem perawatan kesehatan. Sementara Dutton ingin memangkas imigrasi, menindak kejahatan, dan mencabut larangan lama terhadap tenaga nuklir.

Pemimpin oposisi, Peter Dutton, mengakui aliansi partai konservatif kalah dalam pemilu. Ia pun kehilangan kursi di parlemen yang telah didudukinya selama 24 tahun.

Pemilu Australia kali ini dibayangi dampak tarif yang dijatuhkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Para pemilih, terutama pemilih muda, khawatir dampak tarif impor pada inflasi dan resesi. Salah satunya adalah mandeknya transisi ke energi terbarukan.

Terkait hal ini, Albanese menjanjikan pembangunan lebih banyak pembangkit listrik tenaga surya dan angin. Ia menargetkan Australia bisa niremisi pada 2050. Sebaliknya, Dutton ingin membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Menurut dia, pembangkit nuklir lebih murah dan tidak tergantung alam.

Menurut para analis, kepemimpinan Albanese lambat, tetapi mantap. Hal itu turut bergema saat terjadi pergolakan global, dengan para pemilih meninggalkan pemimpin oposisi. ”Di masa ketidakstabilan, kita berharap orang-orang akan kembali ke semacam petahana yang stabil,” kata dosen politik Universitas Sydney, Henry Maher.

Tawaran kebijakan Dutton untuk memangkas layanan publik membuat banyak orang kesal. Sebab, pemotongan serupa di AS yang dipimpin Elon Musk membawa kekacauan di AS.

”Kami tidak melakukan dengan cukup baik selama kampanye. Itu sangat jelas malam ini dan saya menerima tanggung jawab penuh,” kata Dutton kepada para pendukungnya dalam pidato pengakuan kekalahan.

Cans of "Willie the Boatman ALBO Pale Ale" beer, a craft beer named after Australia's Prime Minister Anthony Albanese, are displayed after he won the general election at the Labor Party election night event in Sydney on May 3, 2025. Australia's left-leaning Prime Minister Anthony Albanese claimed victory in a general election on May 3, vowing to steer the nation through a rough patch of global uncertainty. (Photo by Saeed KHAN / AFP)

Sejumlah jajak pendapat sebelum pemungutan suara menunjukkan Dutton kehilangan dukungan karena memuji Trump. Ia menyebut Trump sebagai ”pemikir besar” dengan daya tarik di panggung global. Albanese mengecam tarif Trump sebagai tindakan membahayakan diri sendiri secara ekonomi dan bukan tindakan seorang teman.

Kekhawatiran ekonomi mendominasi isu bagi banyak rumah tangga Australia yang berjuang untuk membayar harga susu, roti, listrik, dan bensin yang melambung. ”Biaya hidup saat ini sangat tinggi. Jadi, pajak juga hal yang sangat besar. Harga bahan bakar, semua kebutuhan pokok,” kata Robyn Knox, seorang manajer di Brisbane.

Hal serupa dikatakan pemilih usaha kecil, Jared Bell. ”(Harga) toko-toko kelontong kami jadi jauh lebih mahal daripada beberapa tahun lalu,” tuturnya.

(AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul