PM Anwar Peringatkan Ancaman Fragmentasi bagi Masa Depan ASEAN

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memperingatkan ancaman fragmentasi global yang berpotensi melemahkan pencapaian tujuan bersama ASEAN.

29 Jul 2025 19:26 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

JAKARTA, KOMPAS — Di tengah tatanan internasional yang terpolarisasi dan penuh tekanan, negara-negara anggota ASEAN harus terus memperjuangkan kohesivitas, persatuan, dan otonomi. Piagam ASEAN dan sejumlah janji yang pernah ditorehkan seluruh anggota ASEAN menjadi kompas dalam perjalanan organisasi.

Hal itu disampaikan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat menyampaikan pidato kebijakan di Sekretariat ASEAN di Jakarta, Selasa (29/7/2025). Anwar berkunjung selama dua hari ke Jakarta sebagai bagian dari konsultasi tahunan Pemerintah Malaysia sebagai Ketua ASEAN 2025 dengan Pemerintah Indonesia.

”Kita tidak boleh membiarkan ASEAN menjadi lemah, terpecah-pecah, atau saling bertentangan. Nasib nasional kita akan naik atau turun bersama kawasan ini. Di masa yang semakin terpolarisasi ini, ASEAN harus terus memanfaatkan kekuatan pertemuan untuk memajukan dialog, diplomasi, dan kepercayaan strategis, sekaligus membuka ruang bagi kerja sama yang bermakna,” katanya.

Presiden Prabowo Subianto menyambut kedatangan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (27/6/2025).

Anwar menekankan, sentralitas, persatuan, dan otonomi bukan hak yang begitu saja bisa dinikmati, melainkan harus diupayakan terus-menerus serta dipertahankan di tengah situasi global yang semakin tidak mudah. Di saat seperti inilah, menurut dia, sentralitas dan persatuan di antara negara-negara anggota ASEAN menjadi lebih penting dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.

Anwar menambahkan, fragmentasi tatanan internasional saat ini belum pernah terjadi sejak Perang Dunia atau berakhirnya Perang Dingin. Kekuatan besar yang bersaing satu sama lain telah mendorong menjauhnya multilateralisme yang menjadi landasan kerja bersama selama beberapa dekade terakhir. Dunia semakin kompleks, kacau, bahkan kontradiktif.

Menghadapi lanskap strategis yang penuh ketidakpastian, Anwar menyatakan, ASEAN harus menavigasi dengan kejelasan tujuan dan visi bersama ASEAN. Ia terus menyerukan komitmen ASEAN terhadap regionalisme dan multilateralisme sebagai jangkar bersama untuk menjaga kestabilan dan kemajuan kolektif di kawasan.

”Kita harus terus menjadi suara akal sehat dan komunitas tangguh yang berkomitmen pada perdamaian dan kemakmuran bersama,” katanya.

Dia menambahkan, sangat penting bagi ASEAN untuk menjunjung tinggi norma-norma yang telah disepakati bersama, bahkan ketika pihak lain memilih mundur.

infografik Pendorong Perekonomian di Sejumlah Negara ASEAN Tahun 2023

Anwar menyatakan, di tengah situasi di luar kawasan yang terfragmentasi, ASEAN harus fokus membangun perekonomian bersama. Dengan jumlah penduduk lebih dari 660 juta jiwa, potensi perekonomian yang bisa dikembangkan sangat besar.

Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Di antaranya masalah kesenjangan pembangunan, hubungan ekonomi, dan perdagangan yang lebih kuat dan adil.

”Kita sekali lagi menunjukkan komitmen kolektif untuk meningkatkan arus barang tanpa hambatan di kawasan. Melalui upaya baru untuk mengurangi hambatan tarif dan nontarif, kita perlu mengambil langkah-langkah signifikan menuju terciptanya komunitas ekonomi ASEAN yang lebih terintegrasi dan dinamis, yang bermanfaat bagi semua, bukan hanya sebagian,” ujar Anwar.

Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn sepakat dengan Anwar. Berbagai situasi global menjadi tantangan riil bagi ASEAN. Perhimpunan ini mesti menghadapi persaingan geopolitik yang semakin intensif, tekanan besar terhadap multilateralisme, pergeseran menuju unilateralisme, proteksionisme, dan pemisahan ekonomi.

”Tantangan global ini menekankan kebutuhan mendesak untuk menjaga persatuan, memperkuat ketahanan, dan memproyeksikan arah ASEAN yang jelas,” katanya.

Kao mengatakan, kemampuan ASEAN berkembang dan menyejahterakan warganya di tengah situasi global yang terfragmentasi bergantung pada kemauan dan kemampuan seluruh anggota ASEAN. ASEAN diharapkan bersatu dan tidak ikut dalam arus perpecahan global.

”Sebagaimana Perdana Menteri Anwar telah mengamati dan saya kutip, ’Jika ASEAN dapat mempertahankan ketenangannya—tetap terbuka, pragmatis, dan kohesif—ASEAN mungkin akan menjadi salah satu kumpulan negara yang paling percaya pada dunia, yang akan bekerja lebih baik ketika bekerja bersama’,” katanya.

Kamboja-Thailand

Pada saat yang sama, Anwar menyinggung soal ketegangan di perbatasan dua negara anggota ASEAN, yaitu Kamboja-Thailand. Ketegangan telah bergeser menjadi konflik terbuka.

Anwar mengungkapkan, keterlibatan konstruktif dua mitra dialog ASEAN, yakni Amerika Serikat dan China, berperan dalam membawa Kamboja dan Thailand ke meja perundingan.

Anak-anak bermain di dekat peringatan ranjau darat dan kuil Buddha di Perbatasan Desa Baru, Kamboja, 10 Maret 2005, di sepanjang perbatasan Thailand.

Anwar mengatakan, konflik perbatasan antara Kamboja dan Thailand terjadi tidak lama setelah delegasi ASEAN berbicara soal nilai tambah kawasan ASEAN, salah satunya adalah kawasan yang damai dan tak bergejolak. ”Tiba-tiba situasi ini mencuat dan hal itu menjadi keprihatinan semua pihak,” katanya.

Terlepas dari situasi bahaya di perbatasan kedua negara dan eskalasinya, Anwar menilai, sangat penting berbicara kepada para pihak. Tujuannya untuk meletakkan landasan pijak bersama yang bisa membawa mereka ke meja perundingan.

”Saya dalam posisi lebih banyak sebagai pendengar dari perspektif mereka dan mencari titik temu, pijakan bersama, demi tidak ada lagi korban jiwa,” katanya.

Dia memuji Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Penjabat PM Thailand Phumtham, serta mitra dialog, yakni AS dan China, atas keterlibatan konstruktif.

Anwar menyatakan, dialog Kamboja-Thailand menjadi bukti penegasan vitalnya nilai-nilai yang tercantum dalam Piagam ASEAN dan Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama (TAC). Nilai-nilai itu selama ini menjadi landasan interaksi sesama anggota dan negara-negara mitra dialog.


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto