Pembukaan Pusat Pelatihan Atletik Pangalengan untuk publik menuai respons atlet, seperti Odekta Naibaho. Upaya raih prestasi dan peningkatan industri harus sejalan.
15 Apr 2026 14:57 WIB · Olahraga
KOMPAS/MACHRADIN WAHYUDI RITONGA
Pertanyaan tentang eksklusivitas Pusat Pelatihan Atletik Pangalengan di Pangalengan, Jawa Barat, mengemuka ketika acara Running Summit 2026, yang diikuti peserta non-atlet, digelar kedua kalinya di sana. Atlet, seperti Odekta Elvina Naibaho, menyinggung tentang upaya untuk fokus mengejar prestasi, sedangkan Pengurus Besat Persatuan Atletik Seluruh Indonesia berpikir tentang pengembangan industri atletik. Keseimbangan antarupaya yang seharusnya bisa saling menopang ini diperlukan.
Dua hari jelang perhelatan Running Summit yang digelar 10-12 April 2026, Odekta baru mendapatkan kabar bahwa akan dilaksanakan acara di Pusat Pelatihan Atletik Pangalengan. Kabar itu justru didapatkan dari petugas keamanan di tempat Odekta dan para atlet nasional lain itu berlatih. Jadi, bukan dari Pengurus Besat Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI).
Bagi Odekta, perhelatan acara itu memantik pertanyaan tentang fungsi utama pusat pelatihan yang menurut dia eksklusif untuk atlet. Kebijakan membuka akses untuk publik, kata Odekta, berpotensi menimbulkan isu dalam pengelolaan fasilitas, terutama konsistensi fungsi utamanya sebagai sarana pelatihan untuk membentuk prestasi, mengasah potensi, dan mendorong performa setiap atlet.
”Karena namanya pusat pelatihan, berarti dikhususkan jadi pusat untuk pelatihan atlet. Kecuali memang sudah berganti nama dan fungsi sehingga memang bisa dijangkau oleh publik. Ini yang akhirnya menurut saya harus kembali dikaji karena sebetulnya ada pos atau sarana olahraga yang memang bisa dijangkau publik, ada yang memang difokuskan untuk atlet berlatih. Jadi, kita harus saling memahami dan memaklumi,” tutur Odekta, Selasa (14/4/2026), beberapa hari setelah mengutarakan pendapat di media sosial.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/24/796fa51979a1c65fa355432357fc671a-DSC03262_2.JPG)
Menurut Odekta, pembukaan akses pusat pelatihan untuk publik juga berpotensi mengganggu kenyamanan atlet. Terlebih, jika keputusan itu diambil tanpa melibatkan mereka dan praktisi olahraga lain di dalamnya.
Odekta mencontohkan, saat hari kedua perhelatan acara, para atlet merasa tidak nyaman ketika sedang makan karena ruangan juga diramaikan para peserta. Para atlet merasa jadi obyek observasi tanpa sebelumnya diberi tahu.
Running Summit, yang untuk kedua kalinya digelar di Pangalengan, menghadirkan tiga acara utama. Salah satu mata acara itu adalah Running Conference di Pusat Pelatihan Atletik Pangalengan. Adapun area yang digunakan ialah ruang pertemuan, ruang kelas, ruang kontrol, area gym, area pintu masuk, sebagian area ruang makan, dan trek utama.
Forum itu disebut mempertemukan 50 pakar industri untuk berbagi pengetahuan serta memperkenalkan fasilitas pelatihan kelas dunia kepada peserta terpilih. Tujuannya untuk meningkatkan dukungan bagi atlet nasional yang sedang berlatih tanpa mengganggu jadwal latihan mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/11/b182dc3d-cb50-441b-8ad2-3a4b41fc40b6_jpg.jpg)
Acara lainnya adalah Pangalengan Track Race, kompetisi lari jarak menengah untuk tingkat pelajar, di Lapangan Babakan Tanara. Selain itu, ada Walini Pangalengan Cross Country yang juga digelar di Lapangan Babakan Tanara dan Kawasan Perkebunan Teh Malabar.
Perwakilan penggagas Running Summit, Sara Lea Tunas, mengatakan, Pangalengan dipilih karena punya nilai historis. Di tempat itu, lahir legenda lari nasional dan pemecah rekor nasional. Adapun Running Summit diharapkan dapat berkontribusi mengukuhkan visi Pangalengan sebagai ”Kampung Pelari Indonesia” sekaligus menjadi media yang menciptakan integrasi antara komunitas, jenama, dan federasi serta pemangku kepentingan dalam pengembangan industri atletik.
”Setiap pemangku kepentingan tidak bisa berdiri sendiri. Kita perlu bergerak bersama agar industri ini tidak hanya besar secara angka, tetapi juga kuat secara prestasi. Fokus kami adalah memastikan atlet masa depan mendapatkan dukungan dan panggung yang layak,” kata Sara Lea.
Odekta menekankan, kritiknya bukan pada perhelatan acara, melainkan pada pemangku kebijakan yang memutuskan untuk membuka akses pada acara tersebut. Odekta memahami soal kebutuhan perawatan pusat pelatihan dan upaya meningkatkan eksposur terhadap atlet. Namun, menurut pemilik rekor nasional maraton putri ini, seharusnya ada cara-cara lain yang bisa diambil untuk memenuhi tujuan tersebut.
Untuk itu, penting adanya komunikasi dan diskusi dengan para praktisi olahraga agar tujuan itu tercapai tanpa mengorbankan upaya meraih prestasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/10/45d1b27e-b062-47d4-88ea-2fad34fdb73c_jpg.jpg)
”Saya memahami bahwa industri juga harus jalan, tetapi kita juga harus memahami mana pos-pos yang memang diperuntukkan. Kami, sebagai atlet, tugasnya bukan untuk menghidupkan industri saja, melainkan juga meraih prestasi. Itu yang utama dan menuntut pertanggungjawaban,” ucap Odekta.
”Bagi kami, ini juga pekerjaaan, bukan sekadar menghidupkan industri, kesehatan, atau mencari eksposur. Jadi, kami berharap berikanlah ruang buat lami latihan dengan tenang, dengan fokus, tanpa ada gangguan psikologis, apalagi ada even besar di depan mata, Asian Games,” ujarnya lagi.
Odekta mengatakan, respons itu juga merupakan klimaks dari kekesalan para atlet, khususnya dirinya, terhadap komunikasi yang kurang terjalin, baik di dalam pelatnas selama beberapa bulan terakhir. Ia mencontohkan, perubahan rencana pemusatan latihan dan uji coba disampaikan secara mendadak kepada atlet.
Sebelumnya, Odekta dan beberapa atlet lain yang berhasil meraih medali emas di SEA Games Thailand 2025 direncanakan akan melanjutkan pemusatan latihan di luar negeri. Namun, karena alasan finansial, rencana itu belum menemui kejelasan hingga saat ini.
Begitu juga dengan rencana untuk uji coba di luar negeri. Beberapa atlet batal dikirim uji coba karena alasan yang sama. Akibatnya, program latihan pun diubah. Motivasi dan semangat atlet, kata Odekta, turut terdampak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/5715277c44f8233a2df52b8b35bfa104-DSC02963.jpg)
Pelari yang meraih hattrick juara maraton SEA Games di Thailand 2025 ini berharap PB PASI membuka ruang diskusi guna membicarakan hal-hal tersebut. Dengan demikian, upaya meraih prestasi dan meningkatkan industri bisa berjalan berbarengan.
Wakil Sekretaris Umum PB PASI Singgih Widiyastono mengamini ada kendala keuangan untuk membiayai program-program pelatnas. Selama empat bulan terakhir, PB PASI membiayai pelatnas untuk Asian Games secara mandiri. Dana itu, salah satunya, berasal dari sponsor.
”Kami menyadari memang tidak bisa sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Untuk itu, kami juga mengupayakan cara-cara untuk menarik perhatian publik, untuk mereka bisa pertama-tama merasakan atmosfer pelatihan atlet, lalu harapannya mereka bisa peduli dan akhirnya mendukung dengan menjadi sponsor kami,” papar Singgih.
Singgih menuturkan, alasan-alasan itu pula yang akhirnya membawa pada keputusan untuk membuka Pusat Pelatihan Atletik Pangalengan melalui acara seperti Running Summit. Menurut Singgih, Ketua Umum PB PASI Luhut Binsar Pandjaitan mempunyai misi agar publik mengetahui, mengenal, serta bisa merasakan atmosfer pusat pelatihan yang punya fasilitas lengkap tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/21/0d78f5a3af6dd85f422a85da2e6470f9-WhatsApp_Image_2025_02_21_at_06.16.19.jpeg)
”Akses yang kami buka pun sebenarnya terbatas. Kami tetap berupaya menjaga marwah pusat pelatihan sebagai tempat atlet berlatih. Maka, ketika membuka sedikit akses untuk publik, sebisa mungkin tidak mengganggu kenyamanan atau ketentraman atlet,” ujar Singgih.
Meski begitu, Singgih mengakui bahwa dalam pelaksanaannya ada komunikasi yang tidak berjalan lancar. Hal itu akan menjadi bahan evaluasi PB PASI ketika menggelar acara-acara serupa.
Evaluasi juga akan dilakukan terhadap efektivitas acara dalam menggaet perhatian publik dan meningkatkan eksposur terhadap atletik. ”Sebenarnya, dari tahun yang lalu, ada dampak yang signifikan. Kami mendapatkan cukup banyak eksposur, terutama beberapa atlet,” ucap Singgih.
”Jadi, mereka akhirnya punya sponsor mandiri sehingga bisa ikut uji coba. Itu jadi momentum yang cukup baik. Tinggal nanti kami lihat pelaksanaan yang kedua dan kami lakukan evaluasi, termasuk evaluasi dari komunikasi kami,” ucapnya lagi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra