”Polyworking”, Gen Z Punya Banyak Pekerjaan demi Bertahan Hidup

”Polyworking” adalah praktik memiliki beberapa pekerjaan tetap. Ini merupakan salah satu gambaran dunia kerja pada era sekarang.

18 Mei 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Susah mencari pekerjaan? Permasalahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi seluruh dunia. Bagi sebagian generasi Z, solusinya adalah polyworking alias melakoni beberapa pekerjaan tetap sekaligus.

Jajak pendapat Capital One menemukan 36 persen Gen Z di Kanada punya pekerjaan sampingan. Seperti dikutip The Financial Post pada 15 Mei 2025, lembaga keuangan di Amerika Serikat dan Kanada itu juga menemukan 45 persen respondennya mempertimbangkan mencari pekerjaan sampingan.

Lebih dari 70 persen responden Capital One mengaku, kerja sampingan karena perlu uang lebih banyak untuk kebutuhan sehari-hari. Energi dan sumber daya mereka difokuskan ke sana, bukan perhatian pada isu-isu tertentu atau mengejar renjana (passion).

Gianluca Russo, pekerja generasi Z dari Arizona, Amerika Serikat, adalah anggota tim komunikasi LinkedIn. Ia juga bekerja sebagai pelatih sepeda di dalam ruangan, koreografer tari, penulis lepas, dan pengarang.

Profesi sebanyak itu sudah biasa untuknya. Sejak masih muda, ia menonton banyak video perempuan pekerja kreatif dengan bejibun profesi di New York berseliweran di Instagram.

”Kebebasan finansial yang diberikan oleh banyak pekerjaan kepada saya sungguh luar biasa. Satu-satunya cara saya dapat menangani begitu banyak pekerjaan sekaligus adalah karena saya hanya mengerjakan pekerjaan yang saya sukai,” ujar Russo kepada Harper’s Bazaar edisi Senin (21/4/2025).

Sebuah pengumuman yang mempromosikan manfaat bekerja di McDonald's tergantung di jendela restoran di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, Selasa (13/5/2025). Selama konferensi pers dengan Menteri Tenaga Kerja AS Lori Chavez-DeRemer kemarin, McDonald's mengumumkan rencana untuk mempekerjakan 375.000 pekerja pada musim panas ini.

Selama beberapa tahun terakhir, polyworking ramai di dunia kerja. Anak muda berusaha membentuk kembali makna membangun karier di antara ketidakstabilan ekonomi, sedikitnya kesempatan, dan ambisi.

Fenomena ini tidak muncul dalam sekejap. Dunia kerja berubah, antara lain, gara-gara pandemi Covid-19, pasar kerja yang tidak stabil, dan situasi ekonomi. Generasi Z menjadi salah satu yang terdampak karena baru memasuki dunia kerja selama atau setelah pandemi.

Di Singapura, situasi serupa menimpa Germaine (25). Perempuan ini bekerja di bidang layanan pelanggan penuh waktu di dua perusahaan secara daring. Dia membutuhkan dana lebih untuk membayar kuliah.

”Saya tidak ingin mengambil pinjaman biaya kuliah untuk itu. Bekerja di dua tempat membantu saya melakukannya dan di masa mendatang, dengan gelar saya, saya bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik,” ucapnya kepada The Strait Times pada November 2024.

Melelahkan memang. Germaine biasanya selesai bekerja pada pukul 18.00, lalu lanjut kuliah. Agar tetap waras, dia menghabiskan sedikitnya tiga malam seminggu untuk berolahraga, makan bersama keluarga, dan bertemu kawan-kawan.

Seorang pekerja kantoran melewati gambar kartun yang menggambarkan orang membaca koran The Straits Times di sebuah stasiun MRT, Singapura, Kamis (8/5/2025). SPH Media merupakan induk dari surat kabar The Straits Times dan Berita Harian.

Motivasi pekerja

Polyworking berbeda dengan side hustle. Side hustle adalah situasi seseorang mempunyai pekerjaan penuh waktu, tetapi juga mempunyai pekerjaan sampingan. Sementara itu, Forbes pada 2023 menjabarkan, polyworking adalah praktik memiliki beberapa pekerjaan penuh waktu.

Di banyak negara, seperti AS, pekerja muda tercatat banyak melakukan polyworking. Studi Academized pada 2025 mendapati 52 persen generasi milenial bekerja di lebih dari satu pekerjaan. Dari jumlah tersebut, 24 persen berjibaku dengan tiga profesi dan 33 persen memegang empat profesi atau lebih.

Fenomena serupa telah terjadi pada generasi yang lebih muda. Jajak pendapat Paychex pada 2023 mengungkapkan, hampir setengah gen Z punya beberapa pekerjaan. Sebanyak 47 persen bahkan mempunyai tiga atau lebih pekerjaan. Angka-angka ini masih terus meningkat.

Seorang warga bersama anaknya mengamati para pengunjuk rasa dari kalangan pekerja konstruksi yang turun ke jalanan kota Melbourne, Australia saat mengikuti aksi protes terhadap peraturan Covid-19, Selasa (21/9/2021). AFP/William WEST 21-09-2021 Construction workers and demonstrators attend a protest against Covid-19 regulations in Melbourne on September 21, 2021. (Photo by William WEST / AFP)

Mengapa semakin banyak orang yang melakukan polyworking? Jawabannya: umumnya demi keamanan finansial.

”Saat ini, tidak ada jaminan kerja. Lihat apa yang terjadi dengan sektor federal. Pekerjaan yang Anda pikir tidak akan pernah hilang ternyata hilang. Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang dianggap sangat aman oleh orang-orang,” ujar konsultan karier Lynn Berger di New York.

Dave Rabin, psikiater di San Francisco yang mempelajari stres manusia, menyebutkan, peluang kerja penuh waktu juga menurun drastis. Selain itu, perusahaan besar dan kecil juga tidak lagi memberi penawaran yang banyak demi penghematan.

Di Australia, polyworking turut muncul akibat perkembangan lanskap ekonomi seusai pandemi. ”Faktor-faktor seperti meningkatnya biaya hidup, inflasi, dan berkembangnya ekonomi serabutan mendorong lebih banyak warga Australia, khususnya pekerja muda, mengambil lebih dari satu pekerjaan,” ucap Ben Thompson, CEO Employment Hero, kepada News.com.au.

Namun, ada pula pekerja yang melakukannya demi kepuasan pribadi, pengembangan keterampilan, dan pertumbuhan intelektual. Polyworking turut memberi seseorang rasa otonomi, fleksibilitas, dan kesempatan memperluas jejaring.

<p>People walk past a man sleeping on a street in Tokyo&#8217;s Shinjuku area on December 15, 2020. (Photo by Charly TRIBALLEAU / AFP)</p>

Waspada dampak

Bersiaplah untuk menghadapi beberapa tantangan saat melakukan polyworking. Sebanyak 26 persen responden dalam studi Academized melaporkan, pekerjaan mereka berdampak negatif pada hubungan pribadi. Di samping itu, waktu untuk mengejar hobi atau minat lain juga berkurang.

Punya banyak pekerjaan tetap juga bisa menjadi jalan cepat menuju burnout atau kelelahan mental dan fisik. Apabila burnout terjadi, Rabin mengingatkan, pekerja tidak bisa bekerja sama sekali untuk sementara waktu.

”Kelelahan dapat mengakibatkan konsekuensi hubungan, perceraian, atau orang-orang kehilangan pasangan mereka karena bekerja terlalu keras dan mudah tersinggung sepanjang waktu di rumah mereka. Ada konsekuensi yang tidak terucapkan, tidak terukur, dan nonfinansial,” ujar Robin.

Apakah melakukan banyak pekerjaan penuh waktu sepadan? Bagi sebagian anak muda, jawabannya adalah ya.

Pada akhirnya, polyworking bukanlah sekadar tren. Ini adalah kalibrasi ulang terhadap definisi pekerjaan di era modern. Pesannya jelas, satu pekerjaan sering kali tidak cukup di situasi ekonomi saat ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul