Martinez hampir pasti tetap menurunkan Ronaldo di laga versus Uzbekistan. Dampak dari keputusannya itu akan sangat negatif jika Portugal kembali tampil mengecewakan.
22 Jun 2026 15:05 WIB · Olahraga
AFP PHOTO/FILIPPO MONTEFORTE
TEXAS, SENIN — Gagal sekali mungkin masih bisa dimaafkan. Namun, sifat keras kepala Pelatih Portugal Roberto Martinez untuk memprioritaskan Cristiano Ronaldo pasti bakal jadi sasaran kritik.
Kritik itu terutama bakal hadir jika Portugal kembali meraih hasil mengecewakan kontra Uzbekistan. Mau tidak mau, Martinez harus membuktikan pilihannya tidak keliru agar bisa lolos dari hari ”penghakiman”.
Laga menentukan Portugal di Grup K Piala Dunia 2026 itu akan dihelat di Stadion Houston, Texas, Amerika Serikat, Rabu (24/6/2026), pukul 00.00 WIB. Portugal sangat butuh tiga poin untuk menebus kesalahan pada laga pertama ketika ditahan imbang Republik Demokratik Kongo.
Selain gagal mempertahankan kemenangan hingga harus puas dengan hasil imbang, Portugal diterjang isu keretakan di internal tim akibat perlakuan istimewa Martinez kepada Ronaldo.
Meski Ronaldo tidak dapat berbuat banyak sepanjang laga sebelumnya, Martinez tetap tidak mau menarik Ronaldo. Ia hendak menjadikan tim Portugal sebagai semesta yang harus mendukung Ronaldo dalam mencetak gol. Akibatnya, keseimbangan tim jadi terganggu.
Momen paling mengecewakan fans ialah saat Ronaldo menyambar umpan silang Francisco Conceicao yang lebih berpeluang berbuah gol jika dieksekusi oleh Bruno Fernandes.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/18/8883ed71-a80d-4191-882e-128bde11e4a4.jpg)
Alhasil, sepanjang laga itu, Ronaldo terkesan hanya menumpang tampil di atas lapangan, tetapi minim kontribusi. Ada semacam momentum yang meleset antara Ronaldo dan rekan setimnya. Ketika peluang datang, umpan yang datang sangat buruk. Sebaliknya, ketika umpannya bagus, momentum lari Ronaldo sedikit meleset.
Usia tidak bisa berbohong. Menginjak usia 41 tahun, eksplosivitas Ronaldo menurun drastis. Jika dulu ia sering menciptakan peluang dari manuver serta trik ajaibnya, Ronaldo sekarang lebih sering menunggu umpan matang di kotak penalti. Pengkritiknya menilai Ronaldo harus mawas diri serta tidak terlalu mengedepankan ambisi pribadi di atas kepentingan tim.
Komentar-komentar yang datang menyiratkan pesan bahwa keberadaan Ronaldo sudah tidak terlalu dibutuhkan Portugal lagi. Namun, Martinez bergeming. Dia mengatakan sulit menegasikan Ronaldo sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Portugal dengan koleksi 127 gol dari 229 penampilan internasional.
Tugas kami ialah mencoba melakukan segala yang mungkin untuk mengacaukan pertahanan mereka.
Martinez boleh saja tetap pada pendiriannya menjadikan Ronaldo sebagai jawaban dari dahaga kemenangan Portugal. Namun, jika pilihannya terbukti keliru dengan kembali menuai hasil mengecewakan kontra Uzbekistan, dampak yang akan ia terima tidak akan main-main.
Penggemar fanatik Portugal tentu akan menghakimi Martinez, apalagi jika Portugal pada akhirnya sampai gagal melangkah ke fase gugur.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/943e9c4440bd076af6495015fc05faa8-20260614_H03_ADI_Prediksi_Final.jpg)
Dengan dua laga tersisa, tidak ada pilihan bagi Portugal selain menang. Pada laga pamungkas penyisihan grup, mereka akan ditantang Kolombia yang jadi salah satu favorit lolos ke fase gugur. Dengan begitu, laga melawan Uzbekistan yang di atas kertas kualitasnya tidak sebaik Kolombia pantang berakhir mengecewakan.
Di tengah pendapat yang menyebut para pemain Portugal lainnya harus ”melayani” Ronaldo di atas lapangan, Conceicao tidak merasa demikian. Baginya, setiap pemain Portugal punya kebebasan untuk mengoper bola ke mana saja, terutama kepada pemain dengan penempatan posisi serta peluang mencetak gol lebih tinggi.
”Soal mencetak gol, tidak ada (pemain) yang seperti dia (Ronaldo). Namun, kami tidak merasa harus selalu mengoper bola kepadanya. Saya mengoper kepada siapa pun yang menurut saya berada di posisi terbaik untuk membuka ruang. Saya tidak punya waktu untuk memikirkan wajah rekan setim di sebelah saya. Kami melakukan semuanya berdasarkan insting. Itu hanya masalah milidetik,” tutur Conceicao dalam konferensi pers menjelang laga itu seperti dikutip dari laman Federasi Sepak Bola Portugal, Senin (22/6/2026).
Conceicao melihat Uzbekistan sebagai tim yang solid dalam bertahan. Hal itu tidak lepas dari sentuhan sang pelatih, Fabio Cannavaro, yang merupakan mantan bek tangguh asal Italia.
Ketika takluk dari Kolombia, Uzbekistan menggunakan formasi lima bek yang menyulitkan lawan melakukan penetrasi. Jika bukan karena visi dan ketangguhan Luis Diaz dalam duel satu lawan satu, Kolombia bisa saja hanya meraih hasil imbang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/01fa796ffe5753b55a8785478d5ee9a1-Colombia_Uzbekistan_WCup_Soccer.jpg)
Pertahanan solid Uzbekistan jadi tantangan terberat Portugal yang belum sepenuhnya bisa menajamkan kreativitas dalam menyerang. ”Itu salah satu aspek yang telah kami latih, yaitu masuk ke kotak penalti dan menciptakan peluang mencetak gol. Tugas kami ialah mencoba melakukan segala yang mungkin untuk mengacaukan pertahanan mereka,” ujar Conceicao.
Di sisi lain, Cannavaro mengakui nama besar Ronaldo dan Portugal memberikan tekanan tersendiri bagi para pemainnya yang baru pertama kali tampil di panggung sebesar Piala Dunia. Cannavaro menggarisbawahi kecenderungan Portugal yang gemar menguasai bola dalam waktu lama, membatasi kebebasan bergerak dari lawan, dan mengontrol tempo permainan melalui umpan-umpan pendek.
Meskipun punya kelebihan dalam pertahanan, Cannavaro tidak ingin timnya hanya terjebak dalam bertahan sepanjang laga. Ia turut mendorong para pemainnya untuk berani menguasai bola dan melepaskan umpan-umpan progresif demi menciptakan masalah untuk Portugal.
”Portugal sangat suka menguasai bola. Mereka mengatur permainan melalui umpan-umpan pendek dan berbahaya dalam setiap situasi. Oleh karena itu, kami harus sangat disiplin dalam bertahan. Pada saat yang sama, ketika bola dikuasi, kami harus berusaha untuk menciptakan masalah bagi mereka,” ucap Cannavaro dalam wawancara bersama tim media Uzbekistan.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji