Orangtua siswa penerima MBG di Jateng protes dengan berbagai cara, mulai dari posting di media sosial hingga demonstrasi. Mereka berharap evaluasi MBG Ramadhan.
27 Feb 2026 07:00 WIB · Metropolitan
Kompas/Supriyanto
Munculnya roti kedaluwarsa, bubur kacang ijo basi, serta jeruk busuk pada menu Makan Bergizi Gratis yang diterima para pelajar di berbagai daerah di Jawa Tengah menuai kritik orangtua. Mereka mengkritiknya lewat unggahan di media sosial hingga turun ke jalan.
Sudah beberapa hari terakhir, Sariyatun (49), warga Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, resah dengan menu MBG kering di bulan Ramadhan yang dibawa pulang anaknya dari sekolah. Dia menganggap tidak semua makanan yang disajikan itu kondisinya layak makan.
Pada Rabu (25/2/2026), misalnya, anaknya yang duduk di bangku kelas VI SD membawa pulang roti kedaluwarsa di hari yang sama. Demi keamanan, Sriyatun melarang anaknya memakan roti itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/41b09d6d9cbf0b95c69e895362521371-WhatsApp_Image_2026_02_27_at_00.54.53_2.jpeg)
”Waktu mengecek di grup (percakapan) orangtua dan wali murid, saya kaget ternyata malah ada yang dapat (roti) kedaluwarsanya sehari dan dua hari sebelumnya. Langsung protes semua ke pihak sekolah,” kata Sariyatun, Kamis (26/2/2026).
Menu makanan seperti itu bukan kali pertama didapatkan anak Sariyatun. Sebelumnya, selama dua hari berturut-turut, anaknya mendapat jeruk dan salak busuk dari program MBG.
”Terus, pernah juga anak saya dapat bubur kacang hijau. Tapi, saat saya cium baunya, kecut, terus rasanya aneh, seperti sudah basi. Jadi, saya buang,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/002ea570030e5f7b91fe3a54eae9fc4c-20260224ron06.jpg)
Selama Ramadhan, para pelajar, termasuk anak Sariyatun, mendapat menu MBG kering. Dibagikan sepulang sekolah, makanan itu diharapkan bisa dikonsumsi saat berbuka puasa.
Akan tetapi, meski diklaim tahan lama, rentetan kejadian membuat Sariyantun cemas. Ia mewanti-wanti anaknya untuk tidak memakan MBG yang dibagikan sebelum dicek olehnya.
Menurut Sariyatun, ia dan orangtua lain sudah berulang kali protes ke pihak sekolah. Namun, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai MBG ke sekolah anaknya disebut tak kunjung berbenah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/25/20642bb4da38fb1360e300fc4c7a5987-20260225DRA014.JPG)
Sebagai bentuk protes, Sariyatun dan orangtua lainnya sepakat mengunggah foto atau video MBG yang diterima anak mereka di media sosial. Tak lupa, mereka menyelipkan kritikan dalam setiap postingan itu.
”Kalau menurut saya, daripada tidak bisa memberi makanan dan minuman yang layak, dihentikan dulu saja MBG-nya selama puasa. Daripada memaksakan ada, tetapi kualitasnya seperti itu, kasihan anak-anak,” ujar Sariyatun.
Anton (35), orangtua siswa di sebuah SD di Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, juga rajin protes di grup percakapan orangtua dan wali murid di sekolah anaknya. Sama dengan Sariyatun, Anton juga merasa tidak terima dengan menu MBG anaknya yang dinilai tak layak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/94b458548a6398735838ab356a3a9e43-WhatsApp_Image_2026_02_27_at_00.56.48.jpeg)
Pada Kamis, anak Anton mendapat dua potong singkong rebus, satu pisang, dan satu telur rebus. Namun, pisangnya masih mentah, sedangkan singkongnya sudah berlendir.
Selain dinilai tidak layak konsumsi, kandungan nutrisi dari beberapa menu tidak memenuhi kebutuhan gizi anak. Menunya disebut sering kali malah menu-menu yang biasa dilarangnya, seperti sosis dan kental manis
”Yang cukup sering dapat semacam martabak telur, tetapi isinya tepung dan minyaknya banyak banget,” kata Anton.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/966de34904c1058638ef45d344562c88-Screenshot_2026_01_20_112414.png)
Tak hanya itu, Anton juga menyoroti harga menu MBG yang menurut dia tidak sesuai spesifikasi. Harganya kerap tidak sampai Rp 10.000.
”Rata-rata Rp 6.000 sampai Rp 8.000 per hari. Mungkin itu juga yang jadi alasan kenapa kualitasnya buruk,” ucap Anton.
Anton berharap pihak-pihak yang bertanggung jawab dan terlibat dalam penyediaan MBG segera berbenah. Ia ingin, ke depan, tak ada lagi protes yang harus dilayangkan orangtua karena MBG anak mereka tidak layak.
Lain lagi dengan Muhammad Ali (31), warga Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Bersama ratusan orangtua siswa penerima MBG, dia bakal protes lewat aksi yang bakal digelar pada Jumat (27/2/2026). Lokasinya di depan salah satu SPPG di Tlogowungu.
Aksi itu diklaim bakal diikuti setidaknya 200 ibu. Mereka orangtua dari anak-anak penerima MBG di Kecamatan Tlogowungu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/6e37b309861db6b6c6b87603846710bc-WhatsApp_Image_2026_02_27_at_00.50.36.jpeg)
Keputusan untuk turun ke jalan, disebut Ali, yang merupakan salah satu koordinator lapangan dalam aksi itu, sebagai pilihan terakhir.
Sebelumnya, mereka sudah berulang kali melayangkan protes ke SPPG, melalui sekolah, mengenai menu-menu MBG tak layak konsumsi. Namun, protes itu disebut Ali tak didengarkan.
”Yang terbaru hari ini, anak-anak dapat jeruk busuk. Kami kesal sehingga kami mau menggelar aksi damai menuntut transparansi SPPG. Kenapa anggarannya besar, tetapi kualitas MBG yang diberikan ke anak-anak buruk?” ujar Ali.
Ali menyebut, massa aksi juga menuntut tanggung jawab para ahli gizi yang dipekerjakan di tiap-tiap SPPG. Menurut dia, para ahli gizi seharusnya amanah tugasnya, memastikan anak-anak mendapatkan menu MBG yang layak, sehat, dan bernutrisi tinggi. Jangan sampai mereka malah membiarkan makanan tidak layak didistribusikan ke anak-anak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/27/f3aa1c1ac262ef122bf42a817ab63afe-WhatsApp_Image_2026_02_27_at_00.54.53.jpeg)
Dalam beberapa hari terakhir, Ali dan para orangtua di wilayahnya sering mengunggah foto menu MBG di medsos mereka. Hal itu dilakukan untuk memberi tahu masyarakat mengenai kualitas MBG yang disajikan.
Namun, dalam aksinya di jagat maya itu, para orangtua mengaku mendapatkan intimidasi. Mereka diminta berhenti mengunggah menu-menu MBG.
”Jadi, kami sempat dapat pesan Whatsapp dari orang tidak dikenal, menyuruh untuk jangan posting. Waktu kami tanya dasarnya apa melarang posting, tidak dijawab, malah kami disuruh bersyukur dengan kondisi yang ada,” kata Ali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/15/a783745d054f0c65eaf3dfbd198cd4e1-20251015YGA04.jpg)
Intimidasi tak hanya terjadi karena unggahan mereka di medsos, tetapi juga karena adanya rencana aksi damai para orangtua. Menurut Ali, para koordinator aksi maupun koordinator lapangan sempat didatangi pihak SPPG. Mereka diminta membatalkan aksi itu dan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Kendati demikian, Ali dan para orangtua lainnya tidak gentar. Mereka mengaku akan tetap menggelar demonstrasi itu.
”Kami tidak takut, kami tidak mau mediasi. Kalau diselesaikan semudah itu terus perjuangan kami menuntut transparansi dan evaluasi SPPG ke depan bagaimana?” ucapnya.
Sekretaris Tim Percepatan MBG Jateng AR Hanung Triyono menyebut, pelaksanaan program MBG selama Ramadhan berpedoman pada Surat Edaran (SE) Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 3 Tahun 2026. Dalam edaran tersebut diatur terkait bentuk makanan selama Ramadhan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/29/766b0b0723f89b96792cb102d1d6af2e-20250929_OPINI_Reformulasi_Kebijakan_MBG.jpg)
Hanung mengatakan, paket makanan kemasan sehat MBG adalah makanan siap makan yang diproduksi dan dilakukan pengemasan di SPPG, menggunakan totebag dan dikemas oleh SPPG.
”Dengan tetap menerapkan SOP keamanan pangan, yakni pengecekan masa kedaluwarsa dan perizinan produk, seperti pangan industri rumah tangga atau PIRT, dan kaidah pemenuhan gizi seimbang,” ujar Hanung.
Hanung menyebut, dalam SE itu juga disebutkan arahan untuk tidak menyajikan makanan kemasan, seperti ultraprocessed food, sebagai menu utama. Menu yang direkomendasikan sesuai dengan SE tersebut, misalnya, telur asin, abon, dendeng kering, buah, atau makanan khas lokal lainnya, serta kurma.
Wakil Gubernur sekaligus Ketua Tim Percepatan MBG Jateng Taj Yasin Maimoen mengaku bakal mencatat keluhan masyarakat terkait menu MBG Ramadhan di wilayahnya. Dia akan menyampaikannya ke Badan Gizi Nasional. Menurut dia, sudah ada satuan tugas khusus yang ditugasi melakukan audit terhadap SPPG yang melanggar.
Yasin menyebut, apabila kedapatan melanggar, sanksi yang diberlakukan kepada SPPG bisa sampai pada tahap penutupan. ”Maka, saya berharap untuk SPPG-SPPG ditertibkan, diedukasi betul, cara pengemasannya, cara pengirimannya, dan lain sebagainya. Saya mengimbau kepada masyarakat juga, terkait SPPG di bulan Ramadan, kita atur lagi,” katanya.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra