Potensi Produksi Beras 2025 Tinggi, Musim Hujan Menghampiri

Potensi produksi beras nasional sepanjang 2025 melebihi target Kementerian Pertanian dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).

03 Nov 2025 12:55 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS — Potensi produksi beras nasional pada 2025 lebih tinggi ketimbang realisasi produksi beras pada 2024. Bahkan, potensi produksi beras pada 2025 melampaui target Kementerian Pertanian.

Namun, potensi produksi beras itu bisa tergerus kala musim hujan menghampiri pada November 2025-Februari 2026. Sepanjang periode tersebut, banyak daerah sentra beras nasional berada pada fase musim tanam (MT) I padi.

Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Padi Amatan September 2025, Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (3/11/2025), menyebutkan, potensi panen padi pada Januari-Desember 2025 seluas 11,35 juta hektar. Luas panen tersebut meningkat 1,3 juta hektar atau 12,98 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2025.

Dari potensi luas panen padi itu, produksi beras sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton. Volume produksi beras itu meningkat 4,15 juta ton atau 13,54 persen dibandingkan realisasi produksi beras pada 2024.

Potensi produksi beras sepanjang 2025 itu melampaui target Kementan dan perkiraan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang masing-masing sebesar 32 juta-34 juta ton dan 34,5 juta ton. Namun, potensi produksi tersebut masih lebih rendah dari perkiraan produksi beras Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang sebesar 35,6 juta ton.

Quote

Produksi beras sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton. Volume produksi beras itu meningkat 4,15 juta ton atau 13,54 persen dibandingkan realisasi produksi beras pada 2024.

Potensi produksi beras nasional pada Januari-Desember 2025 berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Amatan September 2025.

Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, potensi peningkatan luas panen padi itu disumbang oleh realisasi luas panen padi Januari-April 2025 yang meningkat 25,82 persen secara tahunan. Begitu pun dengan beras, potensi peningkatannya berkat meningkatkan produksi beras pada Januari-April 2025 yang mencapai 26,54 persen secara tahunan.

Namun, potensi luas panen dan produksi beras sepanjang 2025 itu masih dapat berubah bergantung pada kondisi tanaman padi pada Oktober-Desember 2025. Perubahan itu dapat dipengaruhi oleh serangan hama dan penyakit, kekeringan, banjir, serta waktu pelaksanaan panen.

Selain itu, lanjut Pudji, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi menguatnya La Nina pada pada September 2025. Fenomena itu bakal memicu curah hujan yang tinggi hingga Desember 2025.

”Prediksi itu perlu diwaspadai mengingat tingginya curah hujan di berbagai wilayah di Indonesia berpotensi memicu banjir sehingga dapat menyebabkan gagal panen,” katanya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta.

Banjir merendam sebagian sawah yang baru ditanami  di musim pancaroba di Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, Kamis (23/10/2025). Pada musim pancaroba ditandai dengan meningkatnya curah hujan disertai angin berpotensi membahayakan pertanian. Selain padi roboh bagi yang akan dipanen juga berpotensi menyebabkan lahan banjir. Untuk mengurangi resiko kerugian, sejumlah petani menunggu bertani saat musim hujan benr-benar tiba.

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Mewaspadai musim hujan

Pada 1 November 2025, BMKG memperkirakan musim hujan bakal berlangsung pada November 2025 hingga Februari 2026. BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan dan memitigasi potensi bencana hidrometeorologi.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengemukakan, dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat melanda sebagian besar wilayah Jawa bagian barat dan tengah. Beberapa wilayah itu antara lain Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Daerah Istimewa Yogyakarta.

”Hujan lebat hingga sangat lebat dengan curah hujan 80-150 milimeter per hari sudah terjadi di beberapa wilayah akibat dampak angin Monsun Asia. Kita harus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” ujarnya melalui konferensi pers yang digelar secara daring di Jakarta.

Quote

Fase puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada periode Desember 2025-Januari 2026. Pada periode tersebut, curah hujan yang tinggi berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi.

Menurut Dwikorita, saat ini, 43,8 persen wilayah Indonesia atau 306 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim hujan. Musim hujan tersebut akan terjadi secara bertahap mulai November 2025 hingga Februari 2026.

Namun, fase puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada periode Desember 2025-Januari 2026. Pada periode tersebut, curah hujan yang tinggi berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi.

”Di sisi lain, pada November 2025, periode siklon tropis di wilayah selatan Indonesia mulai aktif. Siklon tersebut berpotensi memicu hujan sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi, terutama di pesisir Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,” katanya.

Proses persiapan operasi modifikasi cuaca di Jawa Barat, Kamis (13/3/2025). Operasi modifikasi cuaca diharapkan menekan hujan ekstrem di daerah rawan bencana.

Ia juga mengungkapkan, BMKG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengantisipasi dan memitigasi bencana hidrometeorologi. Salah satunya dengan menerapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk wilayah sekitar Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Di Jawa Tengah, OMC dilakukan sejak 25 Oktober 2025 dan bakal berlanjut hingga awal November 2025. Adapun di Jawa Barat, OMC dilakukan sejak 23 Oktober 2025 dan bakal berlanjut sesuai situasi dan kondisi curah hujan.

”OMC tersebut dilakukan 60 kali menggunakan dua pesawat Cessna Caravan. Hasilnya cukup efektif dan signifikan menurunkan dan meredistribusi curah hujan di wilayah-wilayah sasaran,” katanya.

Dalam keterangan resmi yang dirilis Kementan, Dwikorita menyatakan, musim hujan juga menjadi peluang bagi peningkatan produksi pertanian. Musim hujan berperan besar dalam mengisi waduk sehingga ketersediaan air irigasi terjaga hingga tiga musim tanam.

Musim hujan juga menjamin keberlanjutan sawah tadah hujan yang selama musim kemarau mengalami keterbatasan pasokan air. Selain itu, musim hujan juga dapat meningkatkan luas tanam dan frekuensi panen, terutama di daerah dengan indeks pertanaman rendah.

Buruh tani menanam padi varietas Ciherang di Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (30/9/2025). Buruh tani mendapatkan upah borongan Rp 1,3 juta untuk luas lahan tanam padi satu hektar.

KOMPAS/AGUS SUSANTO
30-9-2025

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan Mochammad Arief Cahyono berpendapat, prediksi dan langkah mitigasi yang dilakukan BMKG merupakan bentuk sinergi ilmiah yang sangat strategis bagi pembangunan pertanian nasional. Melalui informasi iklim yang akurat, pemerintah dapat menyusun kalender tanam nasional berbasis cuaca.

Kementan juga dapat memastikan distribusi sarana produksi pertanian tepat waktu. Adapun melalui OMC, curah hujan dapat diturunkan dan diredistribusi secara lebih merata, termasuk di wilayah pertanian dan wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan air.

”Tentunya, Kementan akan memanfaatkan momentum puncak hujan ini untuk memperluas tanam dan mengamankan pasokan pangan nasional,” kata Arief.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan