Presiden Prabowo akan mempercepat transisi energi nasional. Presiden Prabowo bahkan sudah menargetkan angka yang ambisius.
11 Nov 2024 19:27 WIB · Ekonomi
BAKU, KOMPAS - Presiden RI Prabowo Subianto berkomitmen untuk mempercepat transisi energi fosil ke energi terbarukan secara nasional.
Komitmen itu disampaikan Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo, yang juga adik Prabowo, saat membuka Paviliun Indonesia di Stadion Baku, Azerbaijan, Senin (11/11/2024). Hashim menyampaikan sambutan tanpa teks. Naskah pidato hanya dipegangnya sebagai acuan.
Konferensi Para Pihak Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2024 yang ke-29 atau COP29 UNFCCC diadakan di Baku Stadium, Azerbaijan pada 11-22 November 2024. COP29 mengambil tema Solidaritas untuk Dunia Hijau.
Hadir juga, Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni, dan Utusan Khusus Presiden RI untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/11/64fe01ef537afba18178353d9ae9028d-IMG_0486.jpeg)
Menurut Hashim, Presiden Prabowo berkomitmen penuh untuk melanjutkan komitmen Pemerintah Indonesia sebelumnya, bahkan mempercepatnya.
Hingga tahun 2040, Presiden Prabowo menargetkan tambahan 75 GW sumber energi terbarukan—termasuk tenaga air, panas bumi, tenaga surya, dan angin—bersamaan dengan 5 GW energi nuklir dan jalur transmisi sepanjang 70.000 kilometer. Inisiatif yang ambisius ini memerlukan investasi sekitar 235 miliar dollar AS. Saat ini, kapasitas energi terbarukan terbangun baru berkisar 13 GW.
Hashim juga menegaskan bahwa menjaga ekosistem hutan sangat penting dan diperlukan. Karena itu, Hashim pun menekankan pentingnya reforestasi. Hutan di Indonesia perlu direvitalisasi.
Ketahanan pangan juga sangat penting. Pengalaman Indonesia menghadapi pandemi Covid 19 dan Perang Ukraina yang memotong mata rantai pangan dan energi menjadi pembelajaran berharga.
Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni sebelum Hashim berpidato, menyampaikan bahwa Hashim yang juga pebisnis, bisa menjembatani isu bisnis dan lingkungan. Sejak lama, Hashim bahkan aktif dalam penyelamatan lingkungan hidup, misalnya, penyelamatan orang utan di pulau Kalimantan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/11/56909c684cebe15d96e31cdcfada4467-IMG_0463.jpeg)
Raja Juli mendorong semua pihak untuk berkolaborasi bersama pemerintah guna bersama-sama membangun ekosistem hutan.
Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, semangat transparansi dan kolaborasi dengan semua pihak, baik itu bisnis maupun masyarakat sipil.
Indonesia merupakan ekosistem penting bagi dunia, tapi juga rentan terhadap perubahan iklim. Melalui inisiatif ini, Indonesia bisa berkontribusi besar di tingkat global.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Julfi Hadi yang juga hadir di sana mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo yang disampaikan Hashim.
Menurut dia, Indonesia mempunyai peran besar untuk mengembangkan energi terbarukan. Potensi tenaga uap di Indonesia, dicontohkan, merupakan 40 persen potensi dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/11/3183a52d8e46ccc4f62752a570c00c26-IMG_0504.jpeg)
Kemarin, Pertamina mendeklarasikan secara resmi dukungan Pertamina terhadap inisiatif Bank Dunia tentang zero pembakaran, zero routine flaring (ZRF).
Pertamina meyakini pentingnya menghilangkan pembakaran gas rutin selaras dengan aspirasi untuk mencapai Emisi Nol Bersih pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Sejak mulai berlaku pada tahun 1994, UNFCCC telah menjadi dasar bagi negosiasi iklim internasional, termasuk perjanjian penting seperti Protokol Kyoto (1997) dan Perjanjian Paris (2015). Konferensi Para Pihak (COP) pertama diadakan di Berlin, Jerman, pada 1995.
COP29 bertujuan membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celcius, dengan menekankan kebutuhan mendesak untuk investasi dalam aksi iklim.
Pendekatan ini melibatkan peningkatan ambisi melalui rencana nasional dan transparansi sambil mendorong aksi dengan pembiayaan yang efektif untuk mengurangi emisi dan mengatasi dampak iklim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/11/f0fcd949f992cbf103746c79f5caea41-IMG_0458.jpeg)
Presidensi COP29 menekankan pentingnya mengoperasionalkan Dana Kerugian dan Kerusakan untuk mendukung masyarakat yang rentan, khususnya di Negara-negara Kepulauan Kecil Berkembang (SIDS) dan Negara-negara Kurang Berkembang (LDC).
Presidensi ini menyerukan peningkatan Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) sejalan dengan target 1,5°C dan mendesak penyerahan NDC pada tahun 2025, dengan fokus pada penghentian bahan bakar fosil, peningkatan energi terbarukan, dan penanganan emisi nonkarbon dioksida seperti metana.
Penulis:
Sutta Dharmasaputra dari Baku, AzerbaijanEditor:
Antonius Tomy Trinugroho