PAN merupakan partai yang tidak pernah absen mendukung Prabowo Subianto dalam tiga pilpres berturut-turut. Dukungan PAN akan dilanjutkan dalam Pilpres 2029.
18 Sep 2026 22:12 WIB · Politik & Hukum
Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretar
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Partai Amanat Nasional merupakan kawan sejati yang tidak pernah meninggalkan dirinya, baik di saat berkuasa maupun ketika menghadapi masa sulit. Persahabatan terjalin berkat kesamaan nilai untuk menggunakan seluruh sumber daya bangsa demi mewujudkan kemakmuran rakyat serta demokrasi.
”Saudara-saudara, memang benar kita berkawan karena nilai perjuangan. Nilai perjuangan membutuhkan ketabahan, ketegaran, dan kesetiaan,” kata Presiden Prabowo dalam pidatonya pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun Ke-28 PAN di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (18/9/2026) malam.
Selain Prabowo, acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming dan para menteri Kabinet Merah Putih. Pimpinan partai politik, baik yang berada di koalisi pemerintahan maupun tidak, juga hadir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/190a3c27279cccfb45a59252f5d58fca-IMG_20260918_WA0035.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/8318a143ff56de6936c6d08a2ff60ad5-IMG_20260918_WA0036.jpg)
Prabowo menegaskan, tidak mudah memiliki kawan sejati yang bersedia mendampingi di masa sulit. Namun, PAN membuktikan itu. Sejak Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, 2019, dan 2024, partai berlambang matahari itu selalu memberikan dukungannya kepada Prabowo. PAN tidak meninggalkan dirinya kendati kalah di Pilpres 2014 dan 2019 dan baru bisa memenangi Pilpres 2024.
Ia menilai, kesetiaan PAN untuk mendukung dirinya terjadi karena keduanya memiliki kesamaan nilai untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Tak hanya itu, Prabowo juga menyebut bahwa dirinya memiliki kesamaan semangat dengan PAN yang berdiri di era Reformasi 1998.
”Tokoh-tokoh PAN memimpin reformasi. Cita-cita kita sama, kita ingin demokrasi, jangan salah. Saya di tentara, saya (pun) mendukung demokrasi, saya mendukung reformasi,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/fb1fbf87e51aceb15c3ffe15dbb651cc-IMG_20260918_WA0032.jpg)
Oleh karena itu, Presiden merasa terharu berada di tengah-tengah kader PAN hingga ingin menitikkan air mata. Kedekatan emosional dan personal Prabowo baik dengan PAN sebagai institusi maupun dengan para tokohnya membuat dia merasa tidak hanya sebagai teman, tetapi juga saudara. Ia pun ingin memiliki panggilan khusus.
”Aku suka kalau kau panggil saya Bang Bowo. Awas kalau lu manggil gue Mbah Bowo atau Eyang Bowo. Gue enggak bakal kembali ke PAN kalau begitu,” ujarnya sambil berkelakar.
Senada, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan juga menggarisbawahi persahabatan dan dukungan PAN kepada Prabowo. Ia menegaskan, kebersamaan keduanya telah melewati sejarah yang panjang dan berliku. Akan tetapi, kesamaan nilai yang diusung membuat persahabatan itu bertahan hingga saat ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/18/b859ba5db07c4f724a4eab76929b04d9-IMG_20260918_WA0034.jpg)
Kesamaan nilai yang dimaksud tidak lain merupakan keinginan untuk mewujudkan cita-cita konstitusi, khususnya mewujudkan kemakmuran rakyat sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. Dalam puncak perayaan HUT ke-28 pun, partai tersebut mengundang sejumlah pihak yang dinilai merepresentasikan kalangan yang ingin diperjuangkan, antara lain nelayan, petani, pengemudi ojek, serta pengusaha kecil.
Di tengah kesamaan itu, PAN juga menyatakan komitmen untuk kembali mendukung Prabowo maju dalam Pilpres 2029. Dukungan itu, menurut Zulkifli, tidak hanya dari PAN, tetapi juga sejumlah partai koalisi pemerintah. Salah satunya adalah Partai Golkar.
”Pak Bahlil, jadi ketua umum partai itu berat juga ya. Apalagi jadi presiden. Jadi, saya kira Pak Bahlil sama saya sepakat, presiden biar Pak Prabowo saja, ya, cocok?” kata Zulkifli dalam pidatonya sembari menyapa Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang hadir malam itu.
Selain itu, Zulkifli juga menekankan bahwa pembangunan bangsa membutuhkan kerja sama banyak pihak. Indonesia terlalu besar untuk dibangun oleh satu partai dan terlalu kompleks untuk dipimpin oleh satu kalangan saja. Ia pun mengajak semua elemen bangsa, terutama partai politik, untuk terus bersatu membangun Indonesia.
”Walaupun partai kita berbeda-beda, warna kita berbeda-beda, warna merah putih harus lebih besar dari warna kita masing-masing,” ujarnya.
Penulis:
Kurnia Yunita RahayuEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti