TNI akan mengutamakan keselamatan prajurit dengan tetap meningkatkan kewaspadaan sesuai standar operasi UNIFIL setelah tiga prajuritnya gugur di Lebanon.
31 Mar 2026 14:07 WIB · Politik & Hukum
PUSAT PENERANGAN TNI
JAKARTA, KOMPAS — TNI kembali berduka setelah dua prajuritnya yang ditugaskan di United Nations Interim Force in Lebanon atau UNIFIL, gugur di tengah meningkatnya serangan Israel di Lebanon. Peristiwa ini hanya berselang sehari setelah gugurnya seorang prajurit TNI, yang juga bertugas di UNIFIL, akibat serangan Israel.
Saat ini, Markas Besar TNI masih terus memonitor perkembangan situasi serta menyiapkan langkah kontingensi dalam menghadapi dinamika yang terjadi di Lebanon.
Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasrullah, dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (31/3/2026), menyampaikan, TNI kembali berduka atas gugurnya dua prajurit TNI di daerah penugasan UNIFIL di Lebanon Selatan, Senin (30/3/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/dc1c20bde2a8ade912137eb6c6eee14c-20260224ut07.JPG)
”Insiden terjadi di tengah eskalasi konflik tinggi, di mana terjadi ledakan pada kendaraan yang mengakibatkan gugurnya prajurit TNI atas nama Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan serta dua lainnya mengalami luka, yaitu Letnan Satu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Prajurit Kepala Deni Rianto yang sudah dievakuasi dan dalam penanganan medis di Rumah Sakit St George Beirut, Lebanon,” tutur Aulia.
Berdasarkan laporan dari daerah penugasan, insiden tersebut terjadi saat Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) melaksanakan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU) untuk memberikan dukungan dari Mako Sektor Timur UNIFIL United Nations Post (UNP) 7-2 menuju Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1.
Menurut Aulia, TNI akan tetap mengutamakan keselamatan prajurit dengan tetap meningkatkan kewaspadaan sesuai prosedur operasi standar (SOP) UNIFIL. Untuk mengetahui penyebab insiden tersebut, UNIFIL saat ini sedang melaksanakan investigasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/30/b4c64f196a9f6315e775cd6b03e8c18a-20260330_H01_ADI_TNI_mumed.png)
”TNI juga terus memonitor perkembangan situasi serta menyiapkan langkah-langkah kontingensi dihadapkan pada dinamika di daerah misi Lebanon,” ujar Aulia.
Sehari sebelumnya, seorang prajurit TNI gugur di Lebanon, yakni Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon. Selain itu, terdapat tiga orang luka, yakni Prajurit Kepala Rico Pramudia yang mengalami luka berat, serta Prajurit Kepala Bayu Prakoso dan Prajurit Kepala Arif Kurniawan yang mengalami luka ringan.
Berdasarkan laporan dari daerah penugasan, insiden tersebut menimpa prajurit TNI yang tergabung dalam Kompi C UNP 7-1 Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL.
Secara terpisah, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengonfirmasi kembali gugurnya prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian UNIFIL di Lebanon.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/10/ec0addc2220d754459db57156c9383c8-20180831WAK6.JPG)
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait menyampaikan, situasi keamanan di wilayah penugasan di Lebanon dilaporkan mengalami eskalasi dalam beberapa hari terakhir.
Perkembangan terbaru diterima pada 30 Maret 2026, terjadi insiden di wilayah Lebanon Selatan yang berdampak pada personel Satgas TNI yang saat itu sedang melaksanakan tugas pengawalan untuk mendukung kegiatan operasional UNIFIL.
”Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI dilaporkan gugur, sementara dua prajurit lainnya mengalami luka berat. Para prajurit yang mengalami luka saat ini telah mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut,” tutur Rico.
Menurut Rico, Insiden terjadi di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di wilayah tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/ef807191954c6fb12b10f509e2b380eb-IMG_4384.jpeg)
Menurut Rico, insiden terjadi di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di wilayah tersebut. Hingga saat ini, penyebab pasti kejadian masih dalam proses investigasi oleh pihak UNIFIL sesuai mekanisme yang berlaku.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dan TNI terus berkoordinasi dengan markas besar UNIFIL untuk memastikan keselamatan seluruh personel serta menjamin penanganan terbaik bagi para korban. Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis juga telah dilaksanakan secara cepat sesuai SOP Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kemenhan, kata Rico, menegaskan bahwa keselamatan pasukan perdamaian harus menjadi prioritas utama. Seluruh pihak yang terlibat dalam konflik diharapkan menghormati hukum humaniter internasional serta menjamin keamanan personel penjaga perdamaian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/11/73ed35905d82bdfffc363c8e3675bfbe-cropped_image.jpg)
”Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan mendukung stabilitas kawasan melalui partisipasi dalam misi perdamaian PBB,” ujarnya.
Dalam pernyataan pada Senin (30/3/2026) malam waktu Beirut, Komando Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) mengumumkan, dua anggota UNIFIL gugur. Mereka gugur kala kendaraan mereka meledak di dekat Bani Hayyan pada Senin siang. ”Ini kejadian fatal kedua dalam 24 jam terakhir,” demikian isi pernyataan itu.
UNIFIL menegaskan, serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi Dewan Keamanan 1701. ”Dapat dianggap sebagai kejahatan perang,” lanjut pernyataan itu.
Penulis:
Norbertus Arya Dwiangga MartiarEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra