Japinda sampaikan harapan proyek Blok Masela mulai berjalan tahun depan dan diharapkan selesai beberapa tahun ke depan. Juga kelanjutan proyek "Great Giant Sea Wall"
05 Des 2024 21:48 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan sekitar 20 orang delegasi Japan-Indonesia Association atau Japinda di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (5/12/2024). Pertemuan membahas berbagai inisiatif kerja sama, termasuk investasi, irigasi, pengelolaan lahan, hingga proyek energi strategis, di antaranya kelanjutan proyek ”Great Giant Sea Wall” dan Blok Masela.
Pembangunan proyek Tanggul Laut Raksasa atau Great Giant Sea Wall digagas pertama kali oleh Pemerintah DKI Jakarta di bawah kepemimpinan mantan Gubernur Fauzi Bowo pada 2007, hingga kini belum terwujud. Adapun Blok Masela di Maluku yang diteken pada 1998 dan dipegang oleh Inpex, perusahaan asal Jepang, kini juga Pertamina dan Petronas sebagai operator blok gas tersebut. Namun, hingga kini proyek belum berproduksi sejak Presiden Joko Widodo pada Maret 2016 memutuskan lokasi eksplorasi dilakukan di darat (onshore), buka di laut (off shore).
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani ketika memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, menyatakan, Presiden mendorong keterlibatan perusahaan Jepang dalam proyek Great Giant Sea Wall, sebuah inisiatif besar untuk melindungi Jakarta dari banjir dengan panjang hingga 600 kilometer dan kelanjutan proyek Blok Masela.
”Itu juga diharapkan partisipasi dari perusahaan-perusahaan Jepang ini karena mereka juga perusahaan construction-nya juga kita harapkan bisa berpartisipasi,” ucap Rosan.
Rosan yang mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa diskusi berjalan produktif. Bahkan, Presiden Prabowo mengapresiasi kontribusi jangka panjang perusahaan Jepang di Indonesia.
Dalam pertemuan itu, Presiden pertama-tama mengapresiasi perusahaan-perusahaan besar Jepang yang sudah cukup lama dan cukup panjang di Indonesia. ”Mereka tadi juga meng-update beberapa investasi yang sedang dan rencana yang akan mereka lakukan,” ujarnya.
Mereka tadi juga meng-update beberapa investasi yang sedang dan rencana yang akan mereka lakukan.
Rosan juga menjelaskan bahwa salah satu topik utama dalam pertemuan tersebut adalah kelanjutan proyek Blok Masela, yang telah direncanakan sejak tahun 2000. JAPINDA menyampaikan harapan agar proyek tersebut dapat mulai berjalan tahun depan dan diharapkan selesai beberapa tahun ke depan. ”Karena itu juga akan menjadi dampak yang sangat besar buat Indonesia,” ungkapnya.
Selain sektor ekonomi, diskusi juga mencakup pendidikan dan kesehatan. Presiden Prabowo mengusulkan pendirian sekolah dan universitas Jepang di Indonesia sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia.
Salah satu topik utama dalam pertemuan adalah kelanjutan proyek Blok Masela, yang telah direncanakan sejak 2000. Japinda menyampaikan harapan agar proyek dapat mulai berjalan tahun depan dan diharapkan selesai beberapa tahun ke depan.
Presiden juga mengundang untuk dibukanya sekolah-sekolah Jepang dan universitas Jepang di Indonesia. ”Karena kita juga sudah membuka ada beberapa universitas yang kita ketahui bersama akan membuka kampusnya tahun depan di Indonesia baik itu dari Amerika dan juga dari Inggris. Sehingga diharapkan juga dari Jepang bisa ikut berpartisipasi dan responsnya juga positif," tutur Rosan.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut adalah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/05/73f45915-d1cb-49f1-bb8b-f1d0bd2de63a_jpg.jpg)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan, ada tiga hal yang dibahas antara Presiden Prabowo dengan para investor Jepang. Pertama, Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JAICA) melaporkan beberapa proyek yang telah difasilitasi, antara lain proyek MRT, pengembangan Pelabuhan Patimban, serta proyek-proyek lain terkait dengan irigasi.
”Tentu ada beberapa proyek lain, termasuk pengembangan proyek kereta MRT untuk fase East-West, dan masih ada beberapa proyek lain yang meminta dukungan bapak Presiden,” katanya.
Tentu ada beberapa proyek lain, termasuk pengembangan proyek kereta MRT untuk fase East-West, dan masih ada beberapa proyek lain yang meminta dukungan bapak Presiden.
Kedua, Sumitomo Forestry juga melaporkan penanganan penanganan lahan gambut, terutama reforestrasi dan perbaikan lahan gambut di Kalimantan Barat. Mereka juga melaporkan adanya tambahan penugasan di wilayah Kalimantan Tengah. Selain mengembalikan fungsi hutan, proyek tersebut juga akan masuk ke tanaman-tanaman pangan.
Terakhir, terkait proyek yang dilaksanakan perusahaan minyak Jepang, Inpex, di Blok Masela. Proyek ini cukup mendapat perhatian karena nilai investasi mendekati 21 miliar dollar AS. Sejumlah investor otomotif Jepang menyampaikan dukungan untuk pengembangan industri di Indonesia, salah satunya Toyota Tsusho.
”Bapak Presiden juga menyampaikan bahwa ke depannya pengembangan kerja sama otomotif itu juga untuk mendorong agar kemampuan mobil nasional bisa didorong dan juga untuk bisa mendapatkan pasar yang cukup baik,” kata Airlangga. (WKM/SYA)
Penulis:
Mawar Kusuma Wulan, Iqbal BasyariEditor:
Suhartono .Penyelaras Bahasa:
Apolonius Lase