Pemerintah RI belum berencana mengubah penawaran kepada AS untuk menurunkan pengenaan tarif impor 32 persen karena sudah sesuai dengan tuntutan.
11 Jul 2025 16:26 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Istana Kepresidenan menyebut ada kemungkinan Presiden Prabowo Subianto menemui langsung Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk negosiasi tarif resiprokal. Negosiasi langsung oleh Presiden diharapkan dapat menurunkan pengenaan Tarif Trump sehingga memberikan keuntungan bagi perdagangan Indonesia.
Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden Prabowo, Prasetyo Hadi, mengatakan, ada kemungkinan Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk melobi pengenaan tarif impor. Namun, ia belum bisa memastikan waktu pertemuan karena jadwalnya belum ditentukan.
”Ada (rencana bertemu Trump), tetapi saya belum bisa memastikan kapan,” ujarnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (11/7/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/05/3a793c6c-040c-4a95-ac29-050d11d12084_jpg.jpg)
Menurut Prasetyo, negosiasi yang akan dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo menjadi salah satu upaya agar Pemerintah AS meninjau kembali pengenaan tarif resiprokal terhadap barang-barang dari Indonesia. Dengan demikian, perdagangan di antara kedua negara tetap memberikan keuntungan bagi Indonesia.
Saat ini, lanjutnya, tim negosiasi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sedang berada di Washington DC, AS. Tim ekonomi tersebut terus berupaya menjalin negosiasi dengan AS sebelum penerapan Tarif Trump yang akan berlaku mulai 1 Agustus mendatang.
Prasetyo menilai langkah Indonesia yang menjadi anggota penuh dari BRICS juga tidak berpengaruh terhadap negosiasi yang sedang berlangsung.
Indonesia juga belum akan mengubah penawaran yang disampaikan ke AS untuk menurunkan pengenaan tarif impor 32 persen. Sebab, tawaran-tawaran yang disampaikan sejatinya sudah menjawab apa yang menjadi tuntutan dari Pemerintah AS.
Di sisi lain, Prasetyo menilai langkah Indonesia yang menjadi anggota penuh dari BRICS juga tidak berpengaruh terhadap negosiasi yang sedang berlangsung. Hal itu lantaran pengenaan tarif impor 32 persen sudah ditetapkan sebelum Indonesia resmi bergabung dengan organisasi kerja sama ekonomi antarnegara yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.
”Kami betul-betul berharap Pemerintah Amerika Serikat dapat mempertimbangkan. Makanya kita tunggu, mohon doanya dari seluruh masyarakat Indonesia supaya tim negosiator dapat memberikan hasil yang terbaik bagi bangsa dan negara kita,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/10/af9a78025ae500ac30db6bacc53d1e62-Airlangga.jpeg)
Sebelumnya, Pemerintah RI dan AS sepakat mempercepat perundingan tarif dalam tiga pekan ke depan demi tercapainya kesepakatan jalan tengah. Langkah ini dinilai sejalan dengan langkah Indonesia yang memilih pendekatan nonretaliasi kendati strategi tersebut masih bisa diperkuat demi hasil negosiasi yang optimal.
Kesepakatan percepatan pembahasan tarif dicapai dalam pertemuan delegasi Pemerintah Indonesia yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Ambasador Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer, di Washington DC, AS, Rabu (9/7/2025) waktu setempat.
Airlangga turut didampingi Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Prio Pambudi, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Ali Murtopo, serta Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Bilateral Irwan Sinaga.
Pertemuan ini menjadi tindak lanjut pengumuman Presiden AS Donald Trump pada 7 Juli 2025 terkait kebijakan tarif resiprokal yang akan dikenakan AS pada produk-produk Indonesia sebesar 32 persen mulai 1 Agustus 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/74b85614f307d2cf4fe7a4bb872f5262-publikasi_1752160676_686fd9a4aa5f5.jpeg)
”Kita sudah memiliki pemahaman yang sama dengan AS terkait progress perundingan. Dalam tiga minggu ke depan, kita akan terus berupaya menuntaskan negosiasi ini dengan prinsip saling menguntungkan,” kata Airlangga dalam keterangan resmi yang diterima Kompas, Kamis (10/7/2025).
Perundingan Indonesia-AS mencakup isu tarif, hambatan nontarif, ekonomi digital, keamanan ekonomi, serta kerja sama komersial dan investasi. Airlangga menegaskan, hubungan baik Indonesia-AS harus terus diperkuat melalui peningkatan transaksi bisnis di berbagai sektor.
Pada pekan sebelumnya, perusahaan-perusahaan Indonesia di bidang pertanian dan energi telah menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah perusahaan AS untuk pembelian produk unggulan AS dan peningkatan investasi.
Hubungan baik Indonesia-AS harus terus diperkuat melalui peningkatan transaksi bisnis.
Selain itu, kedua negara juga melihat potensi besar kerja sama di sektor strategis, seperti pengolahan mineral kritis. Airlangga menyebutkan, AS menunjukkan minat kuat pada cadangan nikel, tembaga, dan kobalt Indonesia.
”Pemerintah memastikan negosiasi lanjutan akan dijalankan dengan iktikad baik agar manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh kedua belah pihak,” ujar Airlangga.
Penulis:
Iqbal BasyariEditor:
Madina NusratPenyelaras Bahasa:
Retma Wati