Presiden Prabowo menginginkan gedung-gedung permanen Sekolah Rakyat dipercepat pembangunannya. Kemudahan akses pendidikan menjadi jalan menyejahterakan masyarakat.
07 Jun 2026 16:55 WIB · Politik & Hukum
BPMI SEKRETARIAT PRESIDEN/CAHYO
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto meyakini akses pendidikan layak menjadi jalan untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia. Selain berkomitmen menambah jumlah Sekolah Rakyat yang didirikan khusus bagi para warga paling miskin, ia menginstruksikan segenap jajaran pemerintah pusat ataupun daerah agar membantu keberlangsungan pendidikan anak-anak keluarga tidak mampu.
Pernyataan itu diutarakan Presiden Prabowo sewaktu meninjau pelaksanaan open house Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, di Bali, Minggu (7/6/2026). Turut hadir pejabat negara lain mendampingi, yaitu Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
”Sekolah Rakyat kita wujudkan untuk membantu mereka yang paling susah. Mereka yang paling kurang berdaya. Jadi, pembangunan kita sebagai bangsa, tujuannya adalah untuk membuat seluruh rakyat Indonesia hidupnya layak, hidupnya baik,” kata Presiden Prabowo saat memberikan arahan kepada kepala sekolah, menteri, dan siswa dari sekolah tersebut.
Keberadaan sekolah itu, ujar Presiden, menjadi bagian dari usahanya menyejahterakan rakyatnya. Baginya, kemudahan akses pendidikan mampu mengakselerasi rakyatnya mencapai kesejahteraan. Pendidikan harus bisa diakses semua kalangan, termasuk warga yang paling lemah ekonominya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/92edf529e2a18cd6da60ea2c642d2204-IMG_20260607_WA0107.jpg)
Usaha besar itu, lanjut Presiden Prabowo, membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Ia menyatakan, jajaran pemerintahannya bekerja keras guna memenuhi keperluan itu. Sebisa mungkin anggaran juga dihemat sembari sekuat tenaga menjaga kekayaan negara yang banyak bersumber dari alam itu.
”Jadi, saya gembira melihat perkembangan Sekolah Rakyat. Tentunya usaha masih sangat besar karena yang butuh sekolah ini masih sangat banyak, ya,” kata Presiden Prabowo.
Saking banyaknya kebutuhan, Presiden Prabowo menginstruksikan penambahan jumlah Sekolah Rakyat sesegera mungkin. Ia mendorong agar jajaran bupati untuk ikut serta melakukan percepatan itu. Bahkan, ia menjanjikan pemerintah bakal membantu menyediakan lahan atau sekadar mencari tanah.
Ia juga menugasi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya agar menjalin koordinasi dengan jajaran kementerian atau lembaga pemerintah lainnya. Fasilitas-fasilitas milik instansi itu yang tidak dimanfaatkan dan bisa dipinjam sementara dapat difungsikan sebagai Sekolah Rakyat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/df0b484ad48cb4bcae34e352de241f69-IMG_20260607_WA0076.jpg)
”Cari fasilitas mereka yang mungkin kurang dimanfaatkan dan bisa dipinjam sampai sekolah permanen (untuk Sekolah Rakyat) itu jadi. Ini harus diupayakan,” kata Presiden Prabowo.
Kepada para murid, Presiden Prabowo berpesan supaya mereka terus bekerja dan belajar keras sepanjang menempuh pendidikan. Kegigihan belajar, bekerja, serta kedisiplinan yang nantinya akan mengantarkan mereka menuju kesuksesan. Segenap murid juga diminta tidak berkecil hati gara-gara berasal dari keluarga miskin. Sebaliknya, ia meminta para murid supaya mencintai orangtua mereka sepenuh hati.
”Selalu cintai orangtuamu. Orangtuamu sudah bekerja keras untuk kamu. Apa pun pekerjaannya sangat mulia. Kamu harus angkat orangtuamu. Kamu harapan orangtuamu. Belajar dengan baik. Hormati guru, cintai orangtua, dan selalu rukun sama kawan,” kata Presiden Prabowo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/02f7839162034d1bf2798d24b7e347c8-IMG_20260607_WA0123.jpg)
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan, saat ini, proses pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat terus berjalan di seluruh Indonesia. Total ada 93 gedung yang pembangunannya tengah berjalan. Salah satunya termasuk yang berlokasi di Kabupaten Karangasem, Bali, yang progres pembangunannya mencapai 80 persen dan dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Menurut rencana, tahun depan jumlah gedung permanen akan ditambah 100 unit lagi. Pemerintah menargetkan agar kelak satu kabupaten/kota mempunyai satu unit gedung permanen Sekolah Rakyat.
Satu gedung permanen memiliki kapasitas 1.000 siswa yang jenjangnya terentang dari SD, SMP, dan SMA. Kelengkapan fasilitasnya antara lain perpustakaan, laboratorium, lapangan olahraga, dan fasilitas ekstrakulikuler lainnya, serta asrama guru.
”Ini tidak mudah, tetapi kami ingin sekuat tenaga bisa mewujudkan cita-cita Bapak Presiden dalam rangka mengeksekusi Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945. Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara,” kata Saifullah.
Ihwal jumlah siswa, Saifullah melaporkan, angkanya sudah menyentuh lebih dari 15.000 orang untuk tahun ajaran 2025/2026. Tahun ajaran 2026/2027, pihaknya mengalokasikan akan ada lebih dari 32.000 siswa. Artinya, tahun ini akan terdapat lebih dari 45.000 siswa Sekolah Rakyat. Jumlah siswa akan bertambah mencapai 100.000 orang pada tahun ajaran 2027/2028 sesuai perencanaan yang sudah disusunnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/08/be5945b4959a911533edbc2c4513238a-73731.jpg)
Sesuai arahan Presiden, di sini dilarang suap-menyuap, tidak boleh ada yang membayar, tidak boleh ada titipan dari siapa pun. Ini sudah kami sampaikan ke para pendamping dan pemerintah daerah yang turut terlibat dalam penjangkauan siswa.
Saifullah juga memastikan semua siswa yang mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat tidak perlu mendaftarkan diri. Kementerian Sosial proaktif menyasar para warga yang masuk dalam daftar Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Apabila belum termuat dalam data itu, ia akan melakukan pemutakhiran data hingga peninjauan lapangan mengenai kondisi ekonomi para calon siswa.
”Sesuai arahan Presiden, di sini dilarang suap-menyuap, tidak boleh ada yang membayar, tidak boleh ada titipan dari siapa pun. Ini sudah kami sampaikan ke para pendamping dan pemerintah daerah yang turut terlibat dalam penjangkauan siswa,” kata Saifullah.
Selama ini, jelas Saifullah, hasil penjaringan selalu tepat sasaran dan sesuai kriteria yang ditentukan. Para siswa yang akhirnya tergabung dalam Sekolah Rakyat itu kebanyakan belum pernah sekolah, putus sekolah, dan pernah berpotensi putus sekolah. Bahkan, ada yang usianya sudah belasan tahun, tetapi belum pernah sekali pun merasakan bangku sekolah.
”Kami menemukan apa yang disebut Pak Presiden sebagai bagian dari the invincible people,” kata Saifullah.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto