Dalam wawancara sejumlah pemred, Presiden Prabowo membeberkan sejumlah program yang sudah dijalankan di pemerintahannya.
08 Apr 2025 06:01 WIB · Politik & Hukum
Presiden Prabowo Subianto menjelaskan capaian dan rencananya dalam pembenahan di sektor sosial kepada sejumlah pemimpin redaksi media massa nasional di kediamannya, Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Minggu (7/4/2025). Sesi tanya jawab yang bertajuk ”Presiden Prabowo Menjawab” berlangsung di ruang perpustakaan, sekitar empat jam.
Presiden pun sempat berseloroh mengenai jajaran pemerintahannya yang sampai saat ini belum mengenal kata ’libur’. Dari 150 hari masa pemerintahannya, beberapa dari programnya yang disebut sudah berjalan, antara lain, ialah program Makan Bergizi Gratis (MBG), cek kesehatan gratis, dan penurunan biaya haji.
Khusus program MBG hingga kini sudah menjangkau lebih dari 3 juta penerima manfaat. Presiden Prabowo memperkirakan, sekitar Oktober atau November mendatang, penerima manfaat bisa mencapai 100 persen dari target 82,9 juta penerima.
Mengapa mengurusi masalah fundamental seperti MBG?
Kalau saya mau kasih makan ke anak yang lapar what’s wrong with that? Saya kampanye ke desa-desa, saya lihat anak ini umur 5 tahun. (Ketika) saya tanya, enggak, dia 10 tahun, badannya 5 tahun, kecil, stunting.
Stunting kita ini sekian puluh persen, what do we do? Saya enggak teoretis. Saya mau intervensi.
Yang sudah kaya, yang sudah lumayan, tidak mau makan, enggak apa-apa. Jatah makanmu kasih ke yang (lebih memerlukan).
Ini sesuatu yang tidak bisa saya terima di hati saya. Ada anak dikasih makan, telurnya dipotong, dibungkus. Guru tanya, kenapa? Untuk adik saya di rumah. Ada anak dikasih bingkisan, tidak dimakan, kenapa? Ibu saya di rumah, di rumah enggak ada nasi. Ini tidak bisa terjadi. Saya enggak terima. Saya sebagai pemimpin, saya sebagai patriot, bukan ini Republik yang saya bela dari sejak muda.
Jadi, saya akan berjuang keras supaya tidak ada orang lapar di Republik Indonesia. Saya akan kerja sekeras-kerasnya.
Bagaimana pengalihan belanja modal dan belanja barang di APBN yang mencapai Rp 300 triliun, supaya pertumbuhan ekonomi tidak melambat?
Dengan pengalihan, akan ada pelambatan. Tapi, nanti akan dikejar karena yang kita hemat, tetap kita kucurkan sepada sasaran yang kita inginkan. Yang kita hemat itu adalah hal-hal yang kita sudah yakin akan hangus, hangus oleh korupsi-korupsi kecil, menengah, dan besar.
Dalam arti begini, perjalanan dinas ke luar negeri, kalau yang perlu, harus (dihapus). Tapi, saya kirim Menteri Menko Airlangga ke Washington, kemudian Menteri Keuangan, kamu wakili kita (Indonesia) di G20, itu perlu. Tapi, kalau rombongan pergi untuk studi banding ini, studi banding itu, ya kan? Come on.
Kita bisa hemat berapa puluh triliun loh dari perjalanan dinas saja. Rp 22 triliun kita hemat. Untuk perbaikan sekolah, 17.000 sekolah, kalau tidak salah itu Rp 19 triliun. Jadi, dengan Rp 22 triliun, kita bisa perbaiki 19.000 sekolah.
Contoh (lain), saya canangkan bahwa tahun ini kita akan membuka 200 sekolah rakyat berasrama, boarding school dari SD sampai SMA khusus untuk golongan ekonomi yang paling bawah. Kalau tidak salah desil 10-11 atau desil 9-10. Ini untuk mematahkan mata rantai kemiskinan. Bapaknya miskin, ibunya miskin, anaknya tidak boleh miskin, apalagi cucunya. Anaknya, kita sekolahkan dan dia nanti akan angkat orangtuanya keluar dari kemiskinan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/07/9da34305-cf15-4dec-9c3a-ea6bd1e222ab_jpg.jpg)
That is our strategy. We are ambitious. Kita berpikir besar, grand karena Indonesia besar. Kalau kita berpikir kecil, kalau kita berhati kecil, hasilnya tidak (besar).
Satu sekolah kita hitung membutuhkan mungkin Rp 150 miliar dan kita minta pemda siapkan tanah. Kita akan bangun (dengan anggaran) dari (pemerintah) pusat, tetapi kabupaten cari tanah. Saya minta 20 hektar kalau bisa, minimal 5 (hektar), kalau bisa 20 hektar. Bupati-bupati mau karena dia tahu ini akan membantu rakyat dia yang paling bawah.
Di situ kalau anak yang lain yang masuk sekolah pagi dan (kemudian) pulang, dia akan makan sekali sehari yang dibiayai negara.
Anak yang paling bawah ini, dia berasrama, dia akan makan tiga kali. Dia akan hidup di alam yang tertib. Kita didik supaya dia confident, jangan kamu merasa inferior. Masa depanmu gak boleh patah oleh keadaan. We have to do that, we have to interfere. Kita harus berani bahkan, menurut saya, kita harus, ya, kadang-kadang, kita harus agak-agak nekat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/11/1460bf8e-4f8c-4eff-9e6b-c69d2e052689_jpeg.jpg)
Meski demikian, Presiden Prabowo belum bisa memastikan apakah akan mampu mencapai rencananya untuk mewujudkan 200 sekolah rakyat setiap tahun.
”Saya tidak tahu mampu atau tidak, tapi kita canangkan dulu. Biasanya kan gitu, Bung Karno (mengatakan), gantungkan cita-citamu setinggi langit. Kalau kau tidak sampai, minimal kau jatuh di antara bintang-bintang,” demikian Prabowo mengutip kalimat presiden pertama RI tersebut.
Presiden pun menyebutkan, makan bergizi gratis dilaksanakan juga di India, Brasil, dan Amerika Serikat. Hal ini bahkan sudah lama diterapkan di negara-negara tersebut.
Menurut Presiden, dari pengalaman negara-negara tersebut, memberi makan kepada anak-anak adalah instrumen demokratisasi. ”Karena melakukan itu berarti pemerataan. Dan, dapat mengurangi kemiskinan. So what is wrong?” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/10/43934624-f931-4f10-82ba-8285400b95c9_jpg.jpg)
Bagaimana pengawasan penerapan MBG supaya tak dikorupsi?
Pengawasan sangat penting. Karena itu, kita didik manajer. Dan karena itu, saya minta semua lembaga yang ada di sekitar itu mengawasi. Satu, saya minta Komandan Kodim mengawasi. Kepala polisi mengawasi, camat mengawasi, kabupaten mengawasi, kepala-kepala sekolah mengawasi. Jadi kepala sekolah, kalau dia lihat makannya enggak benar, cepat laporan. Ya kan?
Kadang-kadang kan ada, force majeure, pernah ada peristiwa mati listrik. Kamar pendingin, freezer, mati. Berapa jam, daging sudah gak bagus, ya kan? Tapi, karena ada manajer, begitu dikasih tahu, dia datang, langsung diganti makanan lain.
Dan, kita sudah tangkap beberapa peristiwa, ya wajarlah, ya kan? Yang bekerja di dapur, ketahuan itu bawa dibungkus. Kita sudah bisa tahu, ya kan, ayam itu dipotong berapa. Masalah telur. Ini pengalaman saya, kalau telur dadar (yang) diberi, nah ini enggak bagus. Karena (telur) dadar itu belum tentu kita yakin ini satu telur, (untuk) satu orang. Dadar itu bisa tiga orang, satu telur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/6976236d-7fe6-42fb-8399-4fa70b1041d2_jpg.jpg)
Bisa dikasih tepung, ya kan? Jadi, waktu saya periksa, ndilalah yang saya periksa hari itu, ada telur dadar. Jangan lagi, ya. Harus telur rebus atau telur ceplok. Jadi, utuh, ya? Utuh, satu. Ya kan? Ini kalau kecenderungan dapur-dapur, maunya dadar.
Kalau makanannya itu terlalu hitam, itu minyak gorengnya itu dipakai berkali-kali. Jadi, ini kita sidak. Saya itu gak bisa dibohongi. Saya prihatin. Tapi yang saya sedih, ya (kalau) saya datang ke suatu desa atau suatu daerah, nanti ada ibu-ibu datang, ’Pak, desa sebelah sudah dapat makan bergizi, desa kami belum’.
Aduh, sabar ya, Bu. Ini uang negara.
Kemarin ya, saya semangat lagi. Kenapa? Saya ketemu mantan Presiden Brasil, Ibu Dilma Rousseff. Dia cerita, Brasil untuk kasih makan anak-anak mereka, itu yang dikasih makan kalau tidak salah hanya 30 juta, butuh 11 tahun. Kita 82 juta dalam satu tahun. Iya kan?
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/25/36e56503-7cbd-4dac-a43b-cb38cd99edb1_jpg.jpg)
Apa mungkin program raksasa ini?
Bisa. Karena kita pakai asas organisasi. Organisasi itu kalau udah bagus, tinggal replikasi-replikasi. Dan kita ada satu lagi yang dianggap, diperhatikan orang. Kita antar makan kepada ibu hamil. We deliver food (untuk) ibu hamil.
Iya. Mungkin di seluruh dunia mungkin (hanya) kita. Saya enggak tahu di negara lain. Tapi, ini hebatnya tuh inisiatif Pak Dadan (Kepala Badan Gizi Nasional). Ternyata BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), dia punya petugas di desa. Penyuluh KB. Jadi, sekarang tugas tambahan penyuluh KB, dia ambil makan dari dapur, dia antar ke ibu hamil.
Bagaimana memastikan laporan yang masuk ke Bapak ini bukan laporan yang asal Prabowo senang gitu, Pak?
Kita punya manajer-manajer ini adalah sarjana yang kita sudah didik. Dan, BGN itu punya sistem. Tiap jam 4 sore, semua manajer laporan online. Ada koordinator. Tata-tata laporan. Tiap sore jam 4. Dan kita punya SPPI juga. SPPI-nya itu ternyata banyak perempuannya.
Jadi, mereka reaktif. Kita tanamkan, jangan kalau laporan ABS karena ini membahayakan. Karena ini nasib anak-anak.
Dan, Anda bayangkan ya, di antara mereka itu sempat bekerja tiga bulan belum dapat gaji. Iya. Kemarin. Aduh saya terharu. Tapi idealisme, bagi dia ini suatu yang mulia untuk mengabdi ke anak-anak. Jadi, ada yang tidurnya di dapur. Ada ruang di dapur. Kalau makan kan dia aman kan. Ada yang sampai, saya dengar, jual motor dia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/7d5034c3-6821-417e-9436-59ded40362eb_jpg.jpg)
Capaian lain yang disebut Presiden adalah program cek kesehatan gratis. Menurut Presiden, cek kesehatan akan lebih baik ketimbang menunggu warga sakit. Sebab, banyak penyakit lebih mudah diobati bila diketahui sejak dini. Biayanya pun lebih rendah.
Selain itu, capaian lainnya adalah data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN).
”Untuk pertama kali dalam sejarah, kita sekarang punya data tunggal, data tunggal sosial ekonomi nasional. Jadi, sekarang kita bisa tahu persis orang miskin itu rumahnya di mana, anggota keluarga di mana, by name by address. Kita sudah punya dan ini saya juga berharap nanti ini mungkin kita bisa verifikasi, bisa kita cek supaya bantuan-bantuan itu tepat sasaran,” tutur Presiden.
Penulis:
Nina SusiloEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .