Jarak antara derbi sebelumnya dan terbaru hanya empat bulan, tetapi kualitas laga terpisah bagai bumi dan langit. Perpisahan De Bruyne menjadi kurang bermakna.
07 Apr 2025 06:06 WIB · Olahraga
MANCHESTER, MINGGU — Ketika duel Manchester United versus Manchester City sebelumnya berlangsung sangat intens dan dramatis, laga derbi teranyar berakhir senyap tanpa gol. Kedua tim memperlihatkan masalah serius yang serupa, yaitu ketiadaan sosok pembeda di kotak penalti lawan.
Laga di Stadion Old Trafford pada Minggu (6/4/2025) malam WIB itu merupakan derbi terakhir untuk gelandang veteran City, Kevin de Bruyne. Mirisnya, dia harus menjadi saksi duel derbi terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Tidak ada momen istimewa yang patut dikenang.
Skor akhir 0-0 cukup untuk menggambarkan betapa ”kering” laga tersebut. ”Kurang kualitas dan intensitas. Tidak ada energi di dalam stadion. Atmosfer derbi tidak terasa. Ini derbi rasa laga persahabatan,” kata Roy Keane, mantan kapten MU, saat menjadi komentator di acara Sky Sports.
Ada kesimpulan masing-masing untuk kedua tim yang masih satu benang merah. City terbukti sangat merindukan sang penyerang andalan Erling Haaland yang harus absen akibat cedera paha. MU terlalu mengandalkan magis dari gelandang serang Bruno Fernandes.
City, bermain tanpa penyerang tengah, memang mendominasi penguasaan bola sampai 58,5 persen. Namun, itu tidak berarti tanpa sosok ”pembunuh” di kotak penalti. Tidak ada yang mampu menggantikan peran Haaland, pemain paling produktif City di Liga Inggris musim ini (21 gol).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/82554e72fb052f1d2d32f7494a5e199d-Britain_Soccer_Premier_League_13_.jpg)
MU tampak lebih berbahaya dengan strategi transisi serangan balik. Serangan cepat dari sisi sayap, lewat Patrick Dorgu dan Alejandro Garnacho, beberapa kali mengancam. Masalahnya, tim tuan rumah kembali mengalami problem produk akhir yang sudah terjadi sepanjang musim.
Ketergantungan ”Setan Merah” terhadap Fernandes sudah mencapai titik jenuh. Sejak awal Maret, sang kapten tim terlibat dalam 8 dari 10 gol MU di seluruh kompetisi. Oleh karena itu, MU seperti kebingungan saat Fernandes tidak mampu menghadirkan momen magis di laga tadi.
”Kami butuh naluri pembunuh di depan gawang untuk mendapatkan gol. Ketika bermain lawan City, Anda tahu mereka akan mengontrol bola lebih banyak. Insting pembunuh itu yang belum ada. Padahal, kami menciptakan banyak peluang,” ujar Fernandes.
Masalah ketajaman tim asuhan Pelatih Ruben Amorin itu tecermin dalam data Opta. MU merupakan tim ketiga terburuk di liga dalam hal konversi peluang. Mereka hanya mencetak 8,8 persen gol dari total 418 tembakan. Tanda tanya pun tertuju kepada penyerang Joshua Zirkzee dan Rasmus Hojlund.
Adapun MU hanya mampu menciptakan dua tembakan tepat sasaran ke gawang City dari 13 percobaan. Tim tamu justru bisa lebih efektif dengan mencatat lima tembakan tepat sasaran dari sembilan percobaan. ”Kami harus meningkatkan umpan terakhir dan tembakan terakhir,” kata Amorim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/f83a9eb471d26853069a0b2427382405-wires_photo_64_.jpg)
Akibat persoalan efisiensi itu pula, MU gagal mengulang kemenangan dalam derbi seperti di Stadion Etihad pada Desember lalu. Fernandes dan rekan-rekan ketika itu menang 2-1 hanya dengan tiga tembakan tepat sasaran. Mereka bangkit dari ketinggalan dalam tiga menit terakhir waktu normal.
Selain kehilangan Haaland, menurut Manajer City Josep Guardiola, mereka gagal menang karena terlalu bermain aman dan statis. ”Masalah satu-satunya adalah kami memindahkan bola terlalu banyak. Kami harus berada di posisi tepat (untuk mencetak gol) dan kami tidak melakukan itu,” katanya.
City harus mulai terbiasa hidup tanpa Haaland. Sang mesin gol kemungkinan absen sampai akhir musim. Guardiola perlahan mencari formula baru di lini depan. Seperti di Stadion Old Trafford, City bermain dengan formasi 4-1-2-1-2. De Bruyne menyokong penyerang Phil Foden dan Omar Marmoush.
Pergerakan tiga pemain City itu sangat dinamis. Meskipun ditempatkan sebagai gelandang serang, De Bruyne sering kali sejajar dengan Foden dan Marmoush saat penguasaan bola. Foden sedikit ke kanan, sementara Marmoush ke kiri. Masalahnya, eksperimen tersebut jauh dari kata berhasil.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/7d3944a93d6a1ff3d35773309a686867-wires_photo_65_.jpg)
Guardiola berkata akan terus beradaptasi sampai akhir musim tergantung dari situasi tim sendiri dan lawan. ”Kami akan menaruh pemain yang punya naluri mencetak gol, seperti Omar dan Phil (sebagai penyerang). Kami sudah terbiasa dengan cara seperti itu (saat Haaland absen) selama bertahun-tahun,” pungkasnya.
Adapun derbi Manchester tadi menjadi yang pertama kali berakhir imbang tanpa gol setelah terakhir pada Desember 2020. Sebanyak 12 laga derbi sebelumnya selalu diramaikan dengan gol. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yovita Arika