Minat saja tidak cukup untuk memilih program studi di perguruan tinggi negeri. Butuh strategi untuk mengamankan kursi di PTN idaman.
25 Mar 2026 08:45 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
KOMPAS
Saat menemani ibunya yang dirawat di rumah sakit, Olivia Charlota Lein (18) tersentuh melihat banyaknya pasien yang membutuhkan perawatan dokter.
Peran tenaga medis sangat vital bagi mereka yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Karena itu, Olive, panggilannya, ingin melanjutkan studi di bidang kedokteran. Ia ingin ikut berkontribusi sebagai tenaga medis.
”Saya merasa punya rasa empati yang tinggi terhadap sesama,” ujar siswi kelas XII SMAN 1 Bajawa, Nusa Tenggara Timur, ini, Selasa (17/3/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/23/58ea1766d48eba85f9c913d82339e10c-oliv.jpeg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/23/56260a10f0d837d965e620919c8b15fb-WhatsApp_Image_2026_03_23_at_12.44.00.jpeg)
Kampus idaman Olive sebetulnya di Malang, Jawa Timur. Udara di kota itu sejuk dan biaya hidupnya tidak terlalu mahal bagi pelajar daerah seperti dirinya. Namun, dia sadar fakultas kedokteran kampus negeri di sana peminatnya banyak sehingga persaingan pun sangat ketat.
Karena itu, ia bersikap realistis saat memilih kampus pada Ujian Tulis Berbasis Komputer pada Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) yang pendaftarannya dimulai pada 25 Maret 2026. Ia menjatuhkan pilihan pertama pada Program Studi (Prodi) Kedokteran di Universitas Nusa Cendana (Undana), Nusa Tenggara Timur. Pilihan berikutnya adalah Prodi Farmasi di universitas yang sama.
”Kebanyakan orang memilih kampus top. Saya pilih Undana saja yang persaingannya tidak seketat yang lainnya,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Untuk memberi gambaran tingkat keketatan dan peluang mendapatkan prodi di perguruan tinggi negeri (PTN), Tim Jurnalisme Data Harian Kompas mengolah data dari laman Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menjadi serangkaian artikel tentang tren peminat, daya tampung, rasio penerimaan, dan tingkat keketatan di lebih dari 5.000 prodi di PTN, politeknik negeri, dan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri.
Pada SNBT 2025, Prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Sebelas Maret (UNS) di Solo, Jawa Tengah, meraup jumlah pendaftar paling banyak untuk kelompok sarjana dan sarjana terapan, yakni 5.660 orang.
Jumlah peminat K3 UNS lebih tinggi ketimbang Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (4.975 peminat) dan Ilmu Hukum Universitas Indonesia (4.434 orang). Prodi K3 UNS juga paling tinggi kenaikan jumlah peminatnya dibandingkan pada SNBT 2021, yakni 4.525 orang.
Secara umum, tren minat ke bidang K3 meningkat paling besar (830 persen), yakni dari 2.118 peminat pada 2021 menjadi 19.688 peminat pada 2025 yang tersebar di beberapa PTN.
Ketua Prodi K3 Sekolah Vokasi UNS Haris Setyawan menjelaskan, prospek kerja lulusan sarjana terapan K3 sangat luas. Mulai dari ahli K3 di industri, rumah sakit, manufaktur, konstruksi, pertambangan, hingga sektor minyak dan gas. Selain itu, lulusan K3 juga banyak diterima sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Kesehatan.
Besarnya minat calon mahasiswa K3 UNS, lanjut Haris, tak lepas dari reputasi K3 UNS sebagai prodi K3 pertama di Indonesia. Prodi ini sudah berstatus akreditasi unggul dari Perkumpulan Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (Perkumpulan LAM-PTKes).
”Tren peminat sarjana terapan K3 kami setiap tahun meningkat, baik lewat SNBP, SNBT, maupun ujian mandiri,” ujar Haris, Senin (16/3/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/17/65adfb29752d5057b5b93ad5e7a3750f-20251017AGS_6.jpg)
Selain prodi K3, terdapat pula sejumlah prodi lain yang juga meningkat drastis peminatnya hingga 561 persen selama 2021-2025, yakni di bidang Teknik Energi, seperti Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan, Teknik Pembangkit Energi, dan Teknologi Rekayasa Konversi Energi.
Peningkatan juga terlihat di bidang Ilmu Perpajakan, seperti Perpajakan dan Akuntansi Perpajakan, yang mencapai 548 persen. Dari segi jumlah nominal peminat, bukan persentasenya, gugus Ilmu Akuntansi peningkatannya terbesar selama 2021-2025, yakni 31.233 orang. Posisi kedua adalah Teknik Mesin (24.604 orang), disusul Teknik Elektro (24.174 orang), Teknik Industri (23.146 orang), Teknik Sipil (22.880 orang), dan Teknik Informatika (22.078 orang).
Sementara itu, sejumlah prodi populer justru mengalami penurunan peminat. Meskipun pada SNBT 2025 peminatnya masih paling besar, 104.995 orang, bidang Ilmu Manajemen mengalami penurunan paling besar, yakni 15.298 orang, dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan besar juga terjadi pada Sosiologi, turun 7.767 orang, dan Hubungan Internasional turun 5.896 orang, serta Matematika turun 4.786 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/7f4d0533-7cce-4826-87ad-8641388e4339_jpg.jpg)
Menurut konsultan pendidikan dan karier, Ina Liem, minat hendaknya jangan dijadikan pegangan utama dalam memilih prodi karena bisa menipu (misleading). Dari ribuan mahasiswa yang pernah berkonsultasi dengannya, beberapa gagal studi karena salah persepsi terhadap minatnya.
Ia memberi contoh tentang seorang mahasiswa Teknik yang gagal di tahun ketiga. Ia memilih bidang Teknik karena berminat pada Matematika dan mengira bidang ini masih banyak bergulat dengan ”hitung-hitungan”. Namun, setelah dijalani, tidak sepenuhnya demikian sehingga ia kehilangan motivasi dan studinya terhenti di tengah jalan.
Alih-alih minat, Ina menekankan pentingnya faktor kepribadian dalam menentukan prodi karena bersifat bawaan sejak lahir. Ketika kepribadian sudah diidentifikasi, calon mahasiswa tinggal mengikuti kegiatan yang selaras. Dari situ, minat dan bakat yang sesungguhnya akan terlihat.
Selanjutnya, calon mahasiswa perlu membahas nilai atau value tentang arti sukses dan apa yang dicari dengan berkuliah. Jika kepribadian, minat, bakat, dan value sudah sejalan, barulah menentukan prodi pilihan.
Faktor peluang kerja juga penting, tetapi bisa menyusul setelah calon mahasiswa mengenal dirinya. Misalnya, anak yang people oriented bisa diarahkan ke bidang Sosiologi dan dijelaskan spektrumnya agar mantap dengan pilihannya.
”Ibarat masuk jalan tol, kalau kita tahu exit-nya di mana, berarti kita punya tujuan. Perkara di tengah ada yang menarik, dan mau berhenti dulu, enggak masalah. Lain hal masuk jalan tol tanpa tahu mau keluar di mana,” ujarnya menjelaskan.
Ina memprediksi, bidang komunikasi masih akan digemari beberapa tahun ke depan, seiring munculnya profesi, seperti pemengaruh, kreator konten, dan afiliator yang menawarkan fleksibilitas kerja. Karena itu, prodi komunikasi dan periklanan akan tetap ketat persaingannya.
Dari sisi kemudahan kerja, bidang ini relatif mudah dimasuki karena lowongannya banyak, tetapi prospek kariernya cenderung stagnan. ”Cari kerjanya gampang, tetapi gajinya mungkin tidak tinggi,” katanya.
Jika melihat perkembangan industri, Ina melihat prodi yang akan bersinar adalah bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics), terutama terkait industri makanan, kesehatan, dan perikanan.
Namun, untuk menangkap peluang ini, kampus perlu berani membuka prodi yang lebih spesifik dan selaras kebutuhan industri. Sayangnya, pertumbuhan prodi baru di Indonesia dinilainya cenderung lambat, antara lain karena keterbatasan tenaga pengajar dan resistensi perguruan tinggi.
Ina melihat PTN cenderung bermain aman dan kurang berani membuka prodi baru karena khawatir sulit menarik mahasiswa. Selain itu, prodi yang mengangkat tema green economy dan blue economy juga masih minim. Padahal, kebutuhan ke arah itu terus meningkat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/16/b65ee33a-9225-4dad-9af8-90a9814930b3_jpg.jpg)
Ia juga mengkritisi materi S-1 yang terlalu umum dan lebih berorientasi akademis sehingga banyak mencetak konseptor. Padahal, menurut dia, banyak anak Indonesia lebih cocok sebagai ”doer” yang belajar dari hal spesifik baru ke gambaran besar. Karena itu, menurut dia, tidak semua siswa harus masuk S-1. Pendidikan vokasi bisa jadi alternatif, seperti di Swiss. Namun, jalur ini di Indonesia masih dianggap buntu sehingga orang masih banyak mengejar gelar S-1.
Masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI), menurut Ina, akan mendorong semua prodi beradaptasi. Bidang teknik komputer, arsitektur dan kesehatan pun bisa tertinggal jika tidak mengikuti perkembangan teknologi.
Selain itu, kemampuan analisis data saat ini juga menjadi keterampilan penting di hampir semua bidang, termasuk psikologi. Misalnya, dalam peran people analytics yang menuntut kemampuan membaca data manusia dalam organisasi.
”Mau enggak mau sekarang kita harus bisa analisis data meskipun bidang kita, katakanlah, psikologi. Karena di psikologi ada jabatan yang disebut people analytics, harus bisa analisis data manusia di sebuah perusahaan, tidak sekadar menjalankan fungsi HRD,” katanya menambahkan.
Penulis:
Satrio Pangarso Wisanggeni, Insan Alfajri, Sri RejekiEditor:
Sri RejekiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra