Polda DIY melakukan penyelidikan internal terkait meninggalnya mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama. Sebanyak 10 saksi diperiksa.
02 Sep 2025 15:51 WIB · Politik & Hukum
YOGYAKARTA, KOMPAS — Bidang Profesi dan Pengamanan Kepolisian Daerah DI Yogyakarta melakukan penyelidikan internal terkait meninggalnya mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, yakni Rheza Sendy Pratama (21). Sebanyak 10 saksi telah diperiksa dalam perkara tersebut.
Kepala Bidang Humas Polda DIY Komisaris Besar Ihsan menyatakan, Polda DIY berkomitmen menangani peristiwa meninggalnya Rheza secara profesional dan prosedural.
”Total 10 saksi telah dimintai keterangan sebagai bagian dari proses pendalaman terhadap peristiwa yang terjadi pada Minggu lalu,” kata Ihsan melalui keterangan tertulis, Selasa (2/9/2025).
Rheza Sendy Pratama meninggal dunia pada Minggu (31/8/2025) pagi. Saat itu, pihak keluarga mendengar kabar bahwa Rheza dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Kabupaten Sleman, DIY. Namun, saat keluarga sampai di sana, Rheza telah meninggal dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/63b7c2e5b29e4bdd38d69902ad7f5aaf-20250831eng02.jpeg)
Menurut penuturan ayah korban, terdapat bekas kekerasan di tubuh Rheza. Bekas kekerasan itu antara lain terdapat di bagian leher, perut, kepala, punggung, tangan, dan kaki.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Amikom Yogyakarta menyebut, Rheza hadir dalam aksi unjuk rasa pada Sabtu (30/8/2025) malam hingga Minggu pagi di sekitar Markas Polda DIY. Aksi tersebut kemudian diwarnai kericuhan. Namun, kronologi meninggalnya Rheza belum terungkap jelas.
Ihsan menyatakan, pada Senin (1/9/2025), Propam Polda DIY telah meminta keterangan dari delapan saksi serta mengumpulkan informasi untuk mengungkap duduk perkara kejadian tersebut.
Adapun pada Selasa ini, Propam Polda DIY meminta keterangan dari dua saksi lain. Oleh karena itu, total sudah ada 10 saksi yang dimintai keterangan terkait kasus tersebut. Namun, Polda DIY belum membeberkan siapa saja saksi yang diperiksa itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/c1f5d88ff24ce51dd584c03964989e30-20250831eng01.jpeg)
Ihsan menambahkan, proses penyelidikan kasus itu masih akan terus berlanjut. Polda DIY juga berjanji menyampaikan informasi lebih lanjut terkait perkembangan penyelidikan tersebut.
”Propam Polda DIY masih terus melakukan pendalaman dan akan memanggil saksi-saksi lain yang diperlukan,” ujarnya.
Sementara itu, ayah Rheza, yakni Yoyon Surono, mengatakan bahwa pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergian Rheza.
”Kami dari pihak keluarga memang benar-benar sudah ikhlas, sudah merelakan anak tersebut. Dan itu semua di luar kendali kita semua,” ujar Yoyon saat ditemui di rumahnya, di Sleman, Selasa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/6b05d999-a82d-4d14-bdde-bef1667c3b25_jpg.jpg)
Yoyon menambahkan, pihak keluarga juga tetap pada pendirian awal untuk tidak menuntut adanya proses hukum terkait kematian Rheza. Keluarga juga tidak menghendaki dilakukan otopsi terhadap jenazah Rheza.
”Kita sudah tidak tega melihat anak kita nanti, misalnya diotopsi, dibongkar-bongkar,” katanya.
Yoyon juga mengakui, pihak keluarga telah menandatangani surat pernyataan saat mengambil jenazah Rheza. Surat itu menyatakan bahwa keluarga menerima kejadian yang menimpa Rheza sebagai musibah.
Dia menyebut, penandatanganan surat pernyataan itu bukan atas paksaan pihak mana pun. ”Kami sudah menerima ini sebagai musibah. Di awal, kami sudah berkomitmen tidak akan diotopsi. Tidak ada (yang memaksa),” ungkapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/b5bd07cd20c30c86ffb5002288af4ad5-20250829DRA33.jpg)
Yoyon menuturkan, kematian anaknya diharapkan bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Dia juga berharap Rheza menjadi korban terakhir dari kericuhan dalam aksi unjuk rasa.
”Kejadian ini, kan, buat pembelajaran kita semua. Mudah-mudahan anak saya menjadi yang terakhir. Mudah-mudahan keadaan segera kondusif,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/ae9606fe-f7ba-3d6e-aadf-2a0ee06dbd0f_heic.jpg)
Penulis:
Haris FirdausEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto