Lumpur di lokasi banjir bandang di Palembayan, Agam, bisa lebih dari satu meter dan luas areal bencana di satu titik ada yang lebih luas dari lapangan bola.
02 Des 2025 19:04 WIB · Lingkungan
KOMPAS/YOLA SASTRA
PADANG, KOMPAS — Memasuki hari keenam, upaya pencarian korban hilang dalam banjir bandang di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terkendala dalamnya lumpur dan luasnya areal bencana. Sedikitnya, 60 orang tengah dicari tim SAR gabungan di kawasan itu.
Hatta Priono, koordinator lapangan operasi SAR di Kecamatan Palembayan, Selasa (2/12/2025), mengatakan, tim SAR gabungan melakukan penyisiran di tiga nagari, yaitu Salareh Aia, Salareh Aia Timur, dan Tigo Koto Silungkang.
”Dari laporan yang kami terima, hingga Selasa pagi, ada 60 orang dalam pencarian, yaitu 19 orang di Salareh Aia, 39 orang di Salareh Aia Timur, dan 2 orang di Tigo Koto Silungkang,” kata Hatta ketika dijumpai di Posko Basarnas, Nagari Salareh Aia Timur.
Menurut Hatta, ada 90 orang tim SAR gabungan yang diturunkan mencari korban. Petugas mengikuti aliran Sungai Alahan Anggang (disebut juga Nanggang) dan menyisir titik-titik yang diduga ada korban. Alat berat juga digunakan di lokasi tertentu.
”Kendala di lapangan, pertama, lumpur yang ketinggiannya mencapai lebih dari 1 meter. Kedua, areal bencana yang sangat luas dan terpecah-pecah,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/09d7f1fa277adaa4360850111f6fa992-DSC05393_1.JPG)
Salah satu titik paling luas, kata Hatta, adalah Jorong Kayu Pasak. Hampir seluruh wilayah jorong itu dilanda banjir bandang.
”Arealnya lebih dari luas lapangan bola,” katanya.
Secara terpisah, Kepala Polres Agam Ajun Komisaris Besar Muari mengatakan, sebagian besar korban yang ditemukan di Palembayan baru yang ada di permukaan. Korban yang hilang kemungkinan tertimbun lumpur.
Muari menyebut, lumpur di lokasi bencana di Palembayan masih lunak dan dalam sehingga membahayakan. ”Orang akan berpikir (dua kali) untuk mencari ke sana,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/72b13542119f4adf95b77143831ddf21-DSC05513.JPG)
Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Agam mencatat, hingga 1 Desember 2025 pukul 20.00, jumlah korban jiwa dalam banjir bandang dan longsor di Agam mencapai 130 orang dan korban hilang 71 orang.
Dari total korban jiwa dan korban hilang itu, korban terbanyak berasal dari banjir bandang di Palembayan dengan jumlah 106 korban jiwa dan 61 korban hilang.
Kemudian, di Malalak ada 12 korban jiwa dan 6 korban hilang, Tanjung Raya (9 korban hilang dan 3 korban hilang), Matur (1 korban jiwa), Palupuh (1 korban jiwa), Ampek Nagari (1 korban jiwa), dan Lubuk Basung (1 korban hilang).
Adapun di Sumbar, hingga 1 Desember 21.00 WIB, jumlah korban mencapai 166 korban jiwa dan 111 korban hilang. Lebih dari separuh korban jiwa dan hilang berasal dari bencana di Agam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/1d386067787ef7897ddb3a982dcb8bb3-DSC05424_1.JPG)
Di tengah kondisi ini, sejumlah warga berinisiatif mencari kerabatnya. Abdul Gani (57), penyintas bencana di Salareh Aia Timur, misalnya, dengan membawa cetakan foto, berkeliling ke posko-posko dan berbagai lokasi mencari istrinya, Marsoni (52).
Marsoni diduga hanyut tersapu banjir bandang yang menerjang rumahnya di Jorong Subarang Aia pada Kamis (27/11/2025).
”Harapannya, istri saya dapat segera ditemukan. Walaupun sepotong tangan, bisa disidik jari, keluar gambarnya di komputer seperti ini. Alhamdulillah. Asal bertemu senang hati saya. Kalau tidak, air mata saya keluar terus,” katanya.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari