OPINI

Prospek Imunisasi Tahun 2026

Prospek imunisasi tahun 2026 tidak secerah era sebelum pandemi. Namun, dengan usaha dan kerja keras akan ada banyak hal yang membaik.

30 Jan 2026 08:00 WIB · Artikel Opini

Kompas/Heryunanto

Oleh Dominicus Husada

Imunisasi adalah satu dari dua hal yang paling berhasil dalam bidang kesehatan masyarakat, bersama air bersih. Kesuksesan imunisasi berlaku universal di seluruh dunia karena saat ini tidak ada negara yang tidak melakukan program imunisasi.

Sejarah panjang imunisasi dimulai sejak abad ke-15 ketika bangsa China dan India melakukan praktik inokulasi hingga masa Edward Jenner memulai vaksinasi di dunia modern pada abad ke-18 dan kemudian terus berlanjut, bertumbuh, dan berkembang hingga di abad mutakhir ini.

Jenner melakukan penanaman nanah cowpox (cacar sapi) dari seorang perempuan pemerah susu sapi, Sarah Nilmes, kepada anak berusia 8 tahun, James Phipps, untuk mencegah smallpox (cacar). Pengamatan Jenner bahwa pemerah susu sapi relatif jarang terserang smallpox menjadi ide dasar yang sebelumnya juga dipraktikkan secara luas di Turki pada masa kejayaan Kekaisaran Ottoman. Teknik inokulasi masuk ke Inggris Raya melalui jasa besar istri duta besar Inggris di Turki pada waktu itu.

Setelah Jenner, Louis Pasteur menjadi orang pertama yang memproses virus dan kemudian melakukan imunisasi antraks dan rabies. Pasteur bukan dokter sehingga penyuntikan dilakukan oleh sahabatnya yang turut berperan dalam sejarah imunisasi. Banyak ahli ikut berperan membangun sejarah imunisasi sejak dimulainya era imunologi hingga para praktisi imunisasi modern, dan sebagian bahkan mendapatkan Nobel untuk pekerjaan mereka. Pemenang Nobel Kedokteran pertama di tahun 1901 adalah Emil von Behring yang menemukan serum untuk penyakit difteri.

Anak mendapatkan vaksinasi campak  saat berlangsung Pekan Imunisasi Serentak di Posyandu Garuda, Kelurahan Tegalsari,  Kecamatan Tegalsari, Surabaya, Senin (15/9/2025). Pekan Imunisasi Serentak berlangsung dari 15-30 September 2025. Imunisasi bertujuan untuk melindungi anak dari penyakit berbahaya terutama campak. Khusus Imunisasi Tambahan Campak (ITC) dilakukan di 26 wilayah puskesmas sementara untuk Imunisasi Kejar Serentak (IKS) untuk melengkapi imunisasi rutin yang terlewat di seluruh wilayah puskesmas di Surabaya.

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Hingga saat ini, sudah tiga penyakit yang berhasil dilenyapkan dari dunia, yakni cacar, rinderpest, dan polio (yang terakhir ini tersisa hanya di dua negara saja). Ketiga penyakit tersebut tidak memiliki obat mujarab sehingga peran besar imunisasi tidak terbantahkan.

Cacar yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dinyatakan musnah oleh WHO pada 1980 setelah penderita terakhir di dunia dinyatakan sembuh di tahun 1978. Rinderpest adalah kerabat penyakit campak, tetapi pada sapi. Penyakit ini musnah di tahun 2011. Polio sendiri, yang disebabkan oleh virus polio, mempunyai beberapa versi, tetapi penyakit yang disebabkan oleh virus liar tersisa hanya di Pakistan dan Afghanistan. Dari tiga serotipe polio, saat ini hanya P1 yang masih beredar.

Penyakit lain yang tidak sampai musnah menunjukkan penurunan sangat tajam saat ini, terutama di negara maju. Imunisasi juga berperan menurunkan angka kematian bayi dan anak di seluruh dunia.

Kehebatan imunisasi dapat menjadi tidak bermakna apabila segi keamanan tidak terjaga. Semua ahli memahami hal ini dan menjadikan aspek keamanan vaksin sebagai prioritas utama, bahkan sebelum kesuksesannya dibuktikan. Pengamanan berlapis sejak penelitian di laboratorium, pada hewan, hingga di manusia, lantas pengawasan berjenjang oleh badan yang berwenang di semua lini, serta pemantauan setelah vaksin diedarkan menjadi hal standar dalam proses penciptaan vaksin.

Lembaga yang mengawasi soal keamanan dimiliki oleh semua negara. Di Indonesia bentuknya adalah Komnas PP KIPI, Komda KIPI, dan Pokja KIPI. Jika vaksin terbukti berbahaya, misalnya karena menyebabkan kematian, atau sakit berat, niscaya izin edar tidak akan pernah diberikan. Vaksin yang sudah diregistrasi, tetapi belakangan diketahui menimbulkan efek simpang yang membahayakan penerimanya dicabut izin dan kemudian peredarannya dihentikan.

Contoh paling jelas untuk soal terakhir tersebut adalah vaksin rotavirus generasi pertama yang dikaitkan dengan gangguan usus berupa invaginasi. Vaksin Covid-19 yang menimbulkan gumpalan darah dengan kadar trombosit yang rendah dihentikan peredarannya setidaknya di Amerika Serikat.

Program nasional imunisasi yang dikelola negara dijalankan secara internasional dalam koordinasi WHO sejak sebelum 1980-an. Konferensi Alma Ata melahirkan kesepakatan untuk program tersebut. Di Indonesia pemerintah memulai kegiatan tersebut dengan vaksin difteri, pertusis, tetanus, dan TBC. Sekitar 55 puskesmas menjadi gelombang pertama yang menjalankan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) di tahun 1977. Sebenarnya Indonesia sudah terlibat penuh dalam program imunisasi cacar sejak lama. Data menunjukkan bahwa sejak 1779 dokter Belanda, van der Steege, telah mulai menyuntikkan imunisasi cacar.

Saat ini, di dunia tersedia 50-60 vaksin untuk manusia, jumlah yang sangat sedikit dibandingkan keragaman penyakit menular. Ini menjadi bukti betapa sukarnya membuat vaksin. Prioritas utama sampai detik ini adalah penyakit menular mematikan. Penyakit tidak menular atau penyakit yang relatif kurang berbahaya menempati urutan prioritas rendah.

Dengan semua kemajuan dan keberhasilannya, di tahun 2026 dan masa selanjutnya vaksin dan program imunisasi masih perlu menjadi prioritas. Secara umum dunia di masa setelah pandemi Covid-19 mereda menampilkan situasi yang kurang kondusif untuk program imunisasi. Cakupan yang menurun, merebaknya keraguan terhadap vaksin, perubahan situasi politik, serta bergesernya prioritas negara atau kementerian tertentu membuat upaya memperbaiki program imunisasi menghadapi kendala yang lebih berat.

Di Indonesia, perkembangan terakhir terjadi tahun 2022 ketika lima antigen ditambahkan dalam program pemerintah. Setelah tahun tersebut, imunisasi relatif kalah bersaing dengan beberapa program unggulan lainnya.

Dewasa dan orang lansia

Secara ilmu, di negara maju, terjadi beberapa perubahan yang menarik untuk dicermati. Saat ini, sekalipun prioritas utama masih untuk bayi dan anak, perhatian kepada kelompok lanjut usia semakin besar. Tentu hal ini dipengaruhi pula oleh suasana selama pandemi ketika kelompok lanjut usia menjadi korban terbesar.

Vaksin untuk usia tua sudah ada beberapa dan akan terus bertambah jumlahnya mengingat cukup banyak vaksin yang berada dalam berbagai tahap uji klinik. Mungkin harga vaksin untuk kelompok usia lanjut masih relatif lebih mahal. Namun, di masa mendatang diharapkan akan terjadi penurunan yang signifikan. Kelompok usia lanjut juga belum menjadi prioritas dalam program imunisasi rutin di banyak negara di dunia.

Vaksin juga mulai banyak masuk di ranah terapi. Vaksin memang ada dua, yaitu profilaktik (bersifat mencegah masuknya jasad renik) dan terapeutik (yang sudah kemasukan jasad renik dicegah supaya tidak memberat). Sebelum pandemi, semua vaksin bersifat profilaktik. Sekarang ini cukup banyak vaksin terapeutik, baik yang sudah beredar maupun yang sedang diteliti.

Presiden Prabowo Subianto mengenalkan para pengusaha nasional saat menerima kunjungan pendiri Microsoft dan Gates Foundation Bill Gates di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (7/5/2025). Pertemuan itu membahas sejumlah inisiatif pembangunan berkelanjutan, khususnya pada isu kesehatan global, nutrisi, inklusi keuangan, dan infrastruktur digital publik. Kompas/Hendra A Setyawan

Vaksin TBC yang sedang diuji coba di Jakarta dan Bandung, misalnya, adalah vaksin terapeutik. Sasaran vaksin terapeutik adalah mereka yang sudah terinfeksi dengan jasad renik tertentu. Vaksin membuat orang ini tidak menjadi berat. Pada tuberkulosis, minimal 20-30 persen orang yang kemasukan kuman TBC akan menjadi berat dalam waktu setahun. Vaksin HIV yang sangat sering gagal dalam uji klinik juga memindahkan fokus menuju vaksin terapeutik. Kita akan melihat lebih banyak lagi vaksin terapeutik di masa mendatang.

Ketiga, efek nonspesifik vaksin juga menjadi salah satu isu yang banyak didiskusikan. Efek utama vaksin adalah mencegah masuknya kuman, atau mencegah sakit, atau mencegah kematian. Efek nonspesifik adalah efek lain di luar khasiat utama tersebut. Vaksin BCG, misalnya, yang aslinya adalah vaksin untuk mencegah TBC berat, mempunyai efek nonspesifik memperkuat sistem imun sehingga ketika anak atau bayi menerima vaksin lain yang sesuai dengan usianya, efek vaksin yang selanjutnya itu akan lebih kuat pada mereka yang sebelumnya sudah menerima vaksin BCG. Efek nonspesifik ini sangat membantu dalam banyak hal. Istilah sains untuk hal ini adalah bahwa vaksin BCG membuat sistem imun kita ”terlatih” (trained immunity).

Efek nonspesifik lain yang paling mutakhir adalah yang terjadi pada dua vaksin untuk kelompok usia lanjut, yaitu vaksin RSV dan vaksin Zoster. Data saat ini menunjukkan bahwa kelompok usia lanjut atau orang dewasa penerima kedua vaksin tersebut mengalami penurunan risiko demensia yang bermakna. Demensia atau pikun adalah salah satu lawan berat yang harus dihadapi ketika menjalani usia tua. Sekalipun data belum sepenuhnya diamini oleh semua pakar imunisasi di seluruh dunia, semakin banyak data telah dikumpulkan. Tentu saja efek terhadap demensia tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Hal ini baru diketahui setelah vaksin cukup banyak beredar di masyarakat. Ada dugaan bahwa adjuvan atau bahan tambahan dalam vaksin memegang peran penting.

Tantangan Indonesia

Vaksin sendiri tidak dapat menyelamatkan nyawa. Yang menyelamatkan kita adalah vaksinasi. Tantangan Indonesia dalam masa mendatang adalah memperbaiki cakupan vaksinasi atau imunisasi. Sebagai hasil dari rendahnya cakupan imunisasi, atau cakupan yang tidak merata, adalah tingginya angka kesakitan dan kematian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

Hal ini memang merupakan suatu keniscayaan. Alam pada hakikatnya adalah cermin. Jika cakupan kita rendah, penyakit dengan sendirinya akan banyak. Saat ini, situasi kita di semua PD3I tidak menggembirakan. Kewajiban kita bersama untuk menaikkan cakupan semua vaksin, minimal yang diberikan di jalur pemerintah.

Hal terakhir yang menjadi tantangan tahun 2026 adalah menjawab semakin banyaknya keraguan terhadap vaksin (vaccine hesitancy). Terhadap hal ini memang ada hal yang tidak bisa diintervensi, seperti perubahan politik di Amerika Serikat dan satu-dua negara maju lain.

Sekalipun demikian, ada lebih banyak hal yang sebenarnya bisa dintervensi dengan lebih baik. Hoaks yang semakin merajalela di media sosial adalah salah satu contoh yang bisa dilawan. Pengalaman dengan website judi online pasti bisa dipakai untuk mengurangi hoaks di media sosial. Upaya menempatkan petugas untuk hidup bersama di lingkungan masyarakat yang banyak menolak program imunisasi adalah upaya lain. Petugas tersebut bertugas memberikan penyuluhan dan pendidikan, serta meluruskan jika ada pemberitaan yang kurang tepat. Unicef di Indonesia sudah memulai hal ini dua tahun lalu.

Prospek imunisasi tahun 2026 memang tampaknya tidak secerah era sebelum pandemi, tetapi dengan usaha dan kerja keras akan ada banyak hal yang membaik. Keberhasilan Indonesia melakukan imunisasi masal Covid-19, beserta semua sisi positif dan negatif yang melekat, perlu dijadikan pendorong untuk melakukan hal serupa pada program imunisasi nasional. Mengabaikan program imunisasi saat ini dan di masa mendatang akan membuat situasi bertambah parah. Pilihan akhirnya ada di tangan semua pihak, termasuk kita semua.

Dominicus Husada, Guru Besar Ilmu Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga


Kerabat Kerja

Penulis:

Dominicus Husada
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra