Proyek Galian Mangkrak Perburuk Kemacetan Lalu Lintas di Jakarta

Proyek galian yang terbengkalai menjadi salah satu faktor yang memperparah kemacetan di Jakarta. Perlu koordinasi lebih baik dalam pengelolaan proyek infrastruktur.

11 Jun 2025 15:50 WIB · Metropolitan

Oleh Atiek Ishlahiyah Al Hamasy

JAKARTA, KOMPAS — Kemacetan lalu lintas di Jakarta terus menjadi masalah besar meskipun berbagai kebijakan dan teknologi telah diterapkan. Salah satu penyebab utama yang masih menghambat kelancaran arus lalu lintas adalah proyek penggalian yang sering terbengkalai atau tidak diselesaikan tepat waktu.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan, proyek penggalian yang mangkrak dan pekerjaan lapangan yang tidak dikelola dengan baik menjadi hambatan utama dalam upaya mengatasi kemacetan di ibu kota.

Proyek penggalian yang tak selesai tepat waktu sering kali memblokir jalan dengan pagar atau penyekat, mengurangi kapasitas jalan, dan memperburuk kemacetan. Hal ini memaksa pengendara mencari jalur alternatif yang lebih padat dan tidak efisien.

”Banyak proyek yang terbengkalai, tetapi tetap dipagari sehingga ruang jalan yang seharusnya dapat dimanfaatkan tetap terkunci. Jika pekerjaan belum dilanjutkan, penyekat tersebut harus segera dibuka. Jangan biarkan proyek yang mangkrak mengganggu kelancaran lalu lintas,” ujar Pramono, Rabu (11/6/2025).

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Jakarta Pusat, Rabu (11/6/2025).

Selain itu, proyek penggalian yang tidak dikelola dengan baik sering kali meninggalkan galian yang tidak tertutup rapat atau tidak dirapikan setelah pekerjaan selesai. Hal ini merusak permukaan jalan dan menghalangi kendaraan.

Keadaan ini memaksa kendaraan untuk melambat atau menghindari area tersebut. Kondisi ini semakin memperburuk kemacetan dan menciptakan risiko keselamatan bagi pengendara.

”Sering kali kemacetan terjadi akibat pekerjaan lapangan yang belum selesai. Pekerjaan di Dinas Sumber Daya Air, Kementerian PU (Pekerjaan Umum), penggalian kabel, dan sebagainya sering mengganggu kelancaran lalu lintas,” ujar Pramono.

Oleh karena itu, Pramono menekankan pentingnya koordinasi yang lebih baik antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan kementerian serta lembaga terkait dalam pengelolaan proyek infrastruktur. Ia menyebut, sudah ada upaya koordinasi dengan kementerian yang terlibat dalam proyek penggalian di Jakarta guna memastikan penertiban yang lebih efektif.

”Kami sedang berupaya memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga lainnya agar proyek infrastruktur tidak menambah masalah kemacetan di Jakarta. Pengaturan dan penjadwalan proyek harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak tumpang tindih dan justru memperburuk situasi,” ujarnya.

Alat berat menguruk jalan yang ambles di Jalan KH Noer Ali, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (11/2/2025). Jalan KH Noer Ali atau yang biasa disebut Jalan Kalimalang tersebut ditutup satu lajur dari arah Bekasi ke Jakarta sejak Kamis (9/1/2025). Amblesnya jalan tersebut akibat pekerjaan galian SPAM Jatiluhur. Kemacetan terjadi di sejumlah titik akibat penutupan satu lajur tersebut. KOMPAS/AGUS SUSANTO 11-2-2025

Untuk mengatasi kemacetan di Jakarta, Pemprov DKI Jakarta juga mengimplementasikan teknologi intelligent traffic control system (ITCS) yang kini diterapkan di 65 dari 321 persimpangan. Teknologi ini telah membantu mengoptimalkan durasi lampu hijau dan mengatur lalu lintas dengan lebih efisien.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menyebut, penggunaan ITCS memberikan dampak positif terhadap tingkat kemacetan. Hal ini tecermin dalam data terbaru dari TomTom Traffic Index, lembaga internasional yang memantau kondisi lalu lintas di kota-kota besar dunia.

”Pada 2023, Jakarta berada di peringkat ke-30 sebagai kota termacet dari 386 kota di dunia. Pada 2024, peringkatnya menjadi ke-90, sebuah perbaikan signifikan dengan pergeseran 60 peringkat,” ujar Syafrin.

Sistem ITCS pertama kali diuji coba di lima ruas jalan utama Jakarta pada awal 2023, yaitu Jalan Imam Bonjol, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Proklamasi, Jalan Pramuka, dan Jalan Pemuda.

Kemacetan saat jam pulang kerja di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (22/5/2025).

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
22-05-2025

ITCS menggunakan sensor dan perangkat pemantauan yang dipasang di persimpangan jalan untuk mengumpulkan data volume kendaraan secara real-time. Data tersebut kemudian dikirim ke pusat kontrol untuk dianalisis menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Dengan penerapan teknologi AI ini, Pemprov DKI Jakarta berharap dapat terus meningkatkan efisiensi lalu lintas, mengurangi waktu tempuh perjalanan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang selama ini terbebani dengan kemacetan.

Quote

Banyak proyek yang terbengkalai, tetapi tetap dipagari sehingga ruang jalan yang seharusnya dapat dimanfaatkan tetap terkunci.

Perlu diselesaikan

Meski demikian, teknologi saja tidak cukup. Masalah proyek-proyek penggalian yang terbengkalai juga perlu segera diselesaikan karena menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk kemacetan di Jakarta.

Kemacetan yang terjadi di Jalan TB Simatupang pada Selasa (10/6/2025), misalnya, menggambarkan dampak nyata dari proyek galian yang tidak selesai tepat waktu. Ruas jalan yang menjadi salah satu jalur utama di Jakarta Selatan itu dipenuhi kendaraan yang terjebak dalam kemacetan parah akibat pekerjaan galian pemasangan pipa air bersih.

Bus Transjakarta melintas di Jalan Lebak Bulus Raya, Jakarta, Kamis (24/4/2025). Hari Transportasi Publik Nasional diperingati setiap tanggal 24 April. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyambut perayaan ini dengan menggratiskan tarif transportasi publik seperti Transjakarta, MRT, dan LRT Jakarta. Walau demikian, pengguna harus memiliki saldo minimum untuk bisa merasakan program tarif gratis ini. Program ini menjadi upaya pemerintah untuk mengajak masyarakat agar selalu menggunakan transportasi umum. Hal itu menjadi salah satu cara mengatasi kemacetan di Jakarta.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
24-04-2025

Intan Sartika (34), salah satu pengguna jalan, mengeluhkan keterlambatan hingga 30 menit pada hari itu akibat penyempitan jalur yang disebabkan oleh proyek tersebut. Penyempitan ini menghambat kelancaran arus kendaraan.

Biasanya, Intan tiba di kantornya sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, pada hari itu, ia terjebak macet dan baru tiba sekitar pukul 08.30 WIB.

Kepadatan lalu lintas biasanya terjadi sejak pagi hingga siang hari, terutama di sekitar flyover Jagakarsa dan pintu masuk Tol Tanjung Barat di sisi kiri jalan. ”Tadi pagi juga macet, tapi tidak separah kemarin,” ujarnya.

Menurut Intan, sebelum adanya galian, kemacetan tak begitu parah. Dia pun menilai proyek galian tersebut semakin memperparah macet yang terjadi.

Intan pun menyarankan Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan mitigasi sebelum memulai proyek galian. ”Penting untuk memberi tahu masyarakat mengenai jadwal dan lokasi proyek, serta menyediakan jalur alternatif untuk mengurangi dampak kemacetan,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al Hamasy
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto