Macet Parah Lagi dan Lagi... seperti Apa Solusi Kemacetan di Jakarta?

Kemacetan panjang, bahkan nyaris tak bergerak, kembali terjadi di Jakarta. Butuh waktu hampir 2 jam untuk menempuh jarak 5 km.

29 Mei 2025 16:53 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

Kemacetan sudah jadi makanan sehari-hari mereka yang beraktivitas di Jakarta. Ini bukan berarti macet bisa terus-terusan dimaklumi. Apa mau menunggu sampai lalu lintas tak bergerak?

Pada Rabu (28/5/2025) sore hingga malam, pengguna jalan serempak berteriak macet, macet, macet.... Mereka kesal sekaligus bertanya mengapa arus lalu lintas tiba-tiba tersendat, bahkan nyaris tak bergerak.

Sabrina (22), salah satunya. Pekerja kantoran ini terjebak macet di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Sore itu, ia naik bus Transjakarta dari Halte Denpasar tujuan ke Balai Kota Jakarta. Bus yang seharusnya belok ke Jalan Jenderal Sudirman justru dialihkan ke MPR/DPR arah Slipi, Jakarta Barat.

”Pramudi (sopir) bingung kenapa jalan ditutup dan diarahkan ke Slipi. Dalam sekejap posisi kanan-kiri bus penuh kendaraan. Semua stuck (tidak bergerak),” kata Sabrina pada Kamis (29/5/2025) siang.

Seketika penumpang saling lirik. Sebagian mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya ada apa. Tidak ada jawaban yang pasti. Alhasil, satu per satu menggerutu ataupun mengomel.

”Gimana enggak makin kesal. Halte Denpasar ke Halte Petamburan butuh waktu hampir 2 jam. Jaraknya hanya 5 km,” kata Sabrina.

Mereka berangkat dari Halte Denpasar pukul 17.45 WIB dan tiba di Halte Petamburan pukul 19.39 WIB. Durasi perjalanan itu 1 jam 54 menit. Hampir enam kali lipat dari situasi normal selama 20 menit.

Rian Setiadi (29) juga terjebak kemacetan Rabu sore. Ia dalam perjalanan pulang kantor dari Karet Semanggi, Jakarta Selatan, ke Panglima Polim di Kebayoran Baru.

”Saya cabut (pulang) dari kantor sekitar pukul 17.00 karena ada rencana makan malam. Saat itu, jalanan benar-benar stuck di Gatot Subroto sampai pukul 18.30,” ucap Rian.

Sepanjang jalan bunyi klakson bersahutan. Suaranya menyatu dengan orang-orang yang emosi karena terjebak kemacetan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Rian akhirnya urung ke Panglima Polim. Ia putar haluan ke Palmerah di Jakarta Barat karena sejumlah ruas jalan ditutup.

Sejumlah motor menerobos Jalan Layang Non-tol (JLNT) Prof Hamka, Jakarta Selatan, yang menghubungkan Tanah Abang-Kampung Melayu, Senin (19/5/2025). Pelanggaran tersebtu biasa terjadi saat jam sibuk, terutama saat pulang kerja. Jalan layang sepanjang 3,4 kilometer untuk memecah kemacetan itu justru kerap dimanfaatkan pesepeda motor meski dilarang melintasi jalan layang. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Penyebab macet

Banyak warga mengaitkan kemacetan Rabu sore dengan kedatangan Presiden Perancis Emmanuel Macron. Hari itu, Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Macron di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025).

Kunjungan ini sekaligus memperingati 75 tahun hubungan diplomatik dan satu dasawarsa kemitraan strategis yang terjalin antara Indonesia dan Perancis.

Dugaan ini diperkuat oleh unggahan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Warga yang melintasi Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Thamrin, Jalan Gatot Subroto, Jalan Asia Afrika, dan Jalan Pemuda diminta untuk memberikan prioritas jalan pada iring-iringan kendaraan tamu kenegaraan Presiden Perancis di Jakarta pada 27-29 Mei.

Anggapan warga ini dibantah Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Komarudin. Kemacetan terjadi karena peningkatan volume kendaraan secara signifikan saat jam pulang kerja dan jelang libur panjang peringatan Kenaikan Yesus Kristus serta cuti bersama pada 29-30 Mei dan akhir pekan.

Komarudin dalam keterangannya juga menyebutkan, kendaraan Macron terjebak kemacetan dalam perjalanan dari Universitas Negeri Jakarta ke Jalan TB Simatupang atau ASEAN. Kendaraan yang dinaiki Ibu Negara Perancis Brigitte Macron juga terhambat kemacetan ketika menuju Museum Nasional.

Secara keseluruhan kemacetan pada Rabu sore hingga malam terjadi di Jalan Gatot Subroto, Jalan Basuki Rahmat (Jakarta Timur), dan underpass Jalan DI Panjaitan menuju Tebet (Jakarta Selatan). Kemudian, di Jalan MT Haryono dari Simpang Susun Cawang menuju Stasiun Cawang.

PIK 2 di Kabupaten Tangerang, Banten, terhubung ke Blok M, Jakarta melalui Transjabodetabek mulai Kamis (22/5/2025).

Solusi kemacetan

Lantas, langkah apa yang akan dilakukan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk mengatasi kemacetan di Jakarta? Dalam beberapa kesempatan, ia mengatakan akan memperluas akses angkutan umum ke Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi; menambah layanan gratis naik angkutan umum bagi 15 golongan; serta mengkaji sistem jalan berbayar elektronik (electronic road pricing/ERP).

Dua kebijakan awal sudah berjalan. Pertama, membuka rute baru Transjabodetabek dari Blok M-Alam Sutera, Cawang-Vida Bekasi, dan Blok M-PIK 2. Tujuannya menambah alternatif moda transportasi sehingga warga beralih dari kendaraan pribadi sekaligus meningkatkan koneksi aglomerasi.

Ketika pencanangan infrastruktur konektivitas terintegrasi di Transport Hub Simpang Temu Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Rabu (7/5/2025), Pramono menyampaikan, masalah transportasi di Jakarta tidak mungkin diselesaikan tanpa memikirkan 3,5 juta komuter sehingga layanan Transjabodetabek ditambah.

Ia juga menargetkan kenaikan pengguna angkutan umum 5–10 persen setiap tahun. Ini target yang realistis mengingat cakupan layanan transportasi publik di Jakarta sudah mencapai 91 persen, tetapi jumlah penggunanya baru 21 persen lebih.

”Itulah yang menjadi target saya untuk bisa membuat Jakarta sebagai kota global. Kemudian, kemacetan berkurang banyak dan yang paling penting adalah kebiasaan orang naik transportasi publik menjadi lebih baik,” kata Pramono saat itu.

Politisi PDI-P ini pun sudah memperluas layanan naik angkutan umum massal gratis kepada 15 golongan masyarakat. MRT Jakarta dan LRT Jakarta menyusul Transjakarta yang lebih dulu menjalankan program tersebut.

Pemprov DKI Jakarta sejak awal Mei juga telah mewajibkan pegawainya naik angkutan umum setiap Rabu. Program tersebut ada dalam Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 2025 dengan maksud sebagai contoh nyata kepada warga dalam mendukung kebijakan pengurangan polusi dan pembangunan berkelanjutan serta mewujudkan tata kelola pemerintahan yang peduli lingkungan dan mendukung mobilitas hijau.

Terkait dengan ERP, mantan Sekretaris Kabinet ini menyebut, masih dalam tahap kajian. Namun, kebijakan tersebut akan membawa banyak manfaat, misalnya menambah alokasi anggaran untuk perluasan angkutan umum.

”Jadi, semangat untuk ERP ini sudah ada sejak zaman Bang Foke (Fauzi Bowo), Pak Jokowi, Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama), Pak Djarot, Mas Anies, penjabat gubernur, dan sebagainya. Tetapi, kenapa sampai hari ini belum bisa diterapkan karena memang supporting system-nya belum selesai,” kata Pramono dalam forum JAKINVEST: Membuka Peluang Investasi untuk Transformasi Jakarta Menuju Top 50 Kota Global di Balai Kota Jakarta, Selasa (27/5/2025) malam.

Ia akan terlebih dahulu menuntaskan sistem pendukung ERP. Salah satunya perluasan Transjabodetabek. Kapan pastinya akan diterapkan ERP, Pramono belum memastikannya. Ia mengupayakan agar semua proses berjalan lancar, seperti kajian yang komprehensif.

”Paling utama bagi saya adalah mengubah karakter warga yang belum mau naik angkutan umum karena Jakarta akan tetap macet. Harus dipaksa. Caranya atur tarif parkir dan pasang ERP,” kata Pramono.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati