Krisis bek sayap kiri dan penyerang jadi ujian John Herdman di FIFA Series. Herdman berpeluang memanggil banyak nama dari Liga Super.
28 Feb 2026 07:58 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Kurang dari satu bulan, tepatnya 27 hari lagi, John Herdman akan menjalani debut laga resmi sebagai pelatih tim nasional Indonesia. Duel FIFA Series 2026 kontra Saint Kitts dan Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 27 Maret mendatang, menjadi pembuka era skuad ”Garuda” bersama Herdman.
Rasa penasaran menyelimuti publik sepak bola nasional tentang susunan pemain yang akan disertakan Herdman dalam dua laga FIFA Series 2026. Hanya 23 pemain—termasuk tiga kiper—yang bisa masuk dalam daftar susunan pemain pada hari pertandingan turnamen mini gubahan FIFA itu, tetapi juru taktik asal Inggris tersebut bisa memanggil setidaknya 30 pemain untuk menjalani pemusatan latihan.
Merujuk kebiasaan PSSI mengumumkan ”Garuda Calling” jelang gim internasional, Herdman maksimal menyampaikan nama-nama pilihannya pada 13 Maret. Pemanggilan nama untuk menjalani pemusatan latihan perdana bersama Herdman tentu menarik karena itu adalah hasil safarinya ke sejumlah laga BRI Super League hingga tiga negara Eropa, yakni Belanda, Jerman, dan Italia.
Mayoritas nama langganan timnas Indonesia pada kualifikasi Piala Dunia 2026 lalu masih akan mengisi skuad Garuda di era Herdman. Sebut saja Jay Idzes, Kevin Diks, Calvin Verdonk, Emil Audero, Maarten Paes, Joey Pelupessy, Justin Hubner, Sandy Walsh, Rizky Ridho, dan Ole Romeny.
Pemain andalan lainnya, seperti Thom Haye dan Shayne Pattynama, harus absen membela timnas Indonesia dalam empat laga sebagai imbas hukuman dari kericuhan seusai laga putaran keempat pra-Piala Dunia 2026, Oktober 2025 lalu. Haye dan Pattynama berpeluang merasakan sentuhan Herdman seandainya tampil di Kejuaraan ASEAN 2026, Juli mendatang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/13/73cf00425773b9c196f6edac47be57b8-FAK_3531.jpg)
Selain itu, tiga pemain homegrown alias binaan lokal yang berkarier di luar negeri, yakni Marselino Ferdinan, Asnawi Mangkualam, dan Pratama Arhan, harus menunda keinginan kembali mengenakan jersei Garuda karena masih dalam pemulihan dari cedera.
Situasi itu membuka ruang bagi pemain lain untuk membela timnas Indonesia, terutama mereka yang berkarier di kompetisi domestik. Potensi munculnya pemain debutan timnas senior hingga kembalinya muka lama sangat terbuka merujuk pada performa para pemain di Liga Super 2025-2026.
Setidaknya ada tiga lini yang bisa membuka kesempatan bagi pemain yang berkiprah di kompetisi lokal. Siapa saja mereka?
Di pos pertahanan, posisi bek sayap kiri paling membutuhkan alternatif. Dalam situasi normal, susunan bek sayap kiri timnas Indonesia sudah paten dihuni oleh Verdonk, Dean James, Pattynama, Nathan Tjoe-A-On, dan Arhan.
Jelang FIFA Series 2026, James masih belum pulih dari cedera bersama klubnya, Go Ahead Eagles. Arhan pun mengalami cedera. Sementara Pattynama menjalani skorsing. Maka, hanya tersisa Verdonk dan Tjoe-A-On serta Hubner yang bisa bermain di posisi itu.
Terdapat tiga nama yang bisa dipertimbangkan Herdman untuk memperkuat kedalaman posisi bek sayap kiri pada FIFA Series 2026 mendatang. Yance Sayuri (Malut United) adalah opsi yang tidak bisa dikesampingkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/08/31d056ac1d8d0ac3273e35c2236d5048-20250908BAH12.jpg)
Tampil dengan catatan rata-rata 88 menit per laga dari 21 pertandingan musim ini membuktikan konsistensi Yance. Ia menegaskan kemampuannya sebagai salah satu bek sayap terbaik Indonesia saat ini dengan sumbangan satu gol dan dua asis.
Dua nama lain yang bisa menjadi opsi Herdman adalah Firza Andika (Bhayangkara Presisi) dan Dony Tri Pamungkas (Persija Jakarta). Firza menjadi pilar penting Bhayangkara dengan koleksi rata-rata 84 menit dalam 14 pertandingan serta satu asis.
Adapun Dony adalah pemain berstatus U-23 yang paling rutin tampil untuk Persija. Sebanyak 16 pertandingan telah dilalui Dony dengan catatan rerata 75 menit per gim. Ia juga sudah menyumbang satu gol dan tingkat akurasi umpan 79 persen.
Yance sudah rutin mengisi skuad Garuda di era Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert. Sementara Firza dan Dony juga bukan wajah anyar di timnas Indonesia jika dipanggil Herdman. Firza sudah memiliki satu cap timnas pada laga uji coba kontra Afghanistan, Mei 2021. Sementara Dony merupakan bagian tim inti Indonesia dalam Kejuaraan ASEAN 2024 lalu.
Berbeda dengan sektor bek sayap kiri, posisi bek sayap kanan tidak terlalu memiliki kendala. Tiga pemain naturalisasi, yakni Walsh, Diks, dan Eliano Reijnders, bisa bermain pada FIFA Series mendatang. Selain tiga pemain itu, Yakob Sayuri juga dapat ditempatkan dalam peran bertahan di sisi sayap.
Empat pemain tersebut juga piawai mengemban peran sebagai gelandang sayap dalam formasi 3-5-2 atau 3-4-3. Formasi itu berpeluang diterapkan Herdman untuk timnas Indonesia, serupa dengan pendekatan permainan favoritnya bersama timnas Kanada.
Kekhawatiran mengemuka pula di posisi gelandang tengah. Tanpa Haye, serta kebugaran Ivar Jenner—pemain anyar Dewa United—yang belum menyentuh titik terbaik, menjadi hal yang patut dipikirkan Herdman.
Pelupessy dan Ricky Kambuaya adalah opsi terbaik saat ini jika merujuk pada performa bersama klub. Bersama Lommel SK di Divisi Dua Liga Belgia, Pelupessy mencatatkan 23 penampilan dan sudah menciptakan tiga gol.
Ricky mencatatkan 19 laga bersama Dewa di Liga Super. Kontribusi tiga gol juga mewarnai performanya yang dilengkapi dengan peran sebagai kapten skuad ”Banten Warriors”.
Di tengah stok gelandang yang menipis, Herdman bisa mempertimbangkan setidaknya tiga nama dari Liga Super: dua muka lama yang pernah menjadi andalan Shin serta satu calon debutan.
Rachmat Irianto (Persebaya Surabaya) dan Arkhan Fikri (Arema FC) adalah dua gelandang lokal yang layak kembali membela timnas Indonesia.
Penampilan konsisten bersama klub dan pengalaman laga internasional menjadi modal keduanya. Irianto sudah memiliki 31 laga membela timnas, sedangkan Arkhan mengoleksi delapan cap.
Satu gelandang calon debutan ialah Zanadin Fariz dari Persis Solo. Masih berusia 21 tahun, Zanadin merupakan pemain tengah lokal dengan kontribusi gol terbanyak di Liga Super.
Ia sudah mencatatkan satu gol dan tiga asis untuk ”Laskar Sambernyawa”. Akurasi operannya yang mencapai 85 persen dan catatan 14 umpan kunci menjadi bukti peran besar Zanadin—pemain Ragunan Soccer School di Liga Kompas U-14 edisi 2018—di tengah performa Persis yang masih berkutat di dasar klasemen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/16/5326d49b-2468-4798-8068-916c52b41d77.jpg)
Posisi lini depan juga menuntut Herdman berani melakukan eksperimen. Memang masih ada nama seperti Romeny, Miliano Jonathans, Adrian Wibowo, serta Ragnar Oratmangoen yang bisa menjadi pilihan sumber gol skuad Garuda di FIFA Series 2026. Namun, Herdman perlu memasukkan pula dua nama yang produktif di Liga Super.
Mereka adalah Yakob dan Ezra Walian. Seiring minimnya opsi di bek sayap kanan akibat cedera Marselino dan Egy Maulana Vikri, Yakob patut diutamakan mengisi posisi penyerang sayap dibandingkan bek sayap.
Koleksi enam gol dan dua asis Yakob untuk Malut menjadi bukti konsistensinya. Ia berada di jalur tepat untuk mencatatkan dua digit gol dalam dua musim beruntun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/b4a71c155f2f3be710f834cfa58f757f-20250605YGA35.jpg)
Sementara itu, Ezra layak mendapat kesempatan dari Herdman. Setelah absen membela timnas Indonesia sejak 2021, ia membuktikan diri sebagai kapten Persik Kediri musim ini.
Ezra sudah menghasilkan enam gol dan enam asis untuk ”Macan Putih”. Koleksi itu membuatnya berada di daftar teratas pemain Indonesia dengan kontribusi gol terbanyak di Liga Super.
Pemain kelahiran Amsterdam, Belanda, tersebut tidak akan kesulitan beradaptasi dengan skuad Indonesia. Di usia 28 tahun, Ezra kian matang sebagai penyerang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/03/24/06edb26c-0715-4afd-b55b-59f2f8ff60ae.jpg)
Kebangkitan Ezra di Persik bisa menjadi teladan bagi penyerang muda naturalisasi lain, seperti Rafael Struick, Jens Raven, dan Mauro Zijlstra, yang masih kesulitan bersaing di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.
Satu hal yang menjadi harapan, tentu Herdman dapat lebih adil kepada pemain lokal di Liga Super dibandingkan Patrick Kluivert. Pemain yang tampil cemerlang di liga domestik sepatutnya mendapat kesempatan bermain di laga resmi Garuda.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti