PSG Versus Inter, Dua Sisi Obsesi Membelah Muenchen

PSG dan Inter menapaki dua jalan yang berbeda dalam mewujudkan obsesi juara Liga Champions. Saat PSG melupakan masa lalu, Inter memanfaatkan luka dua tahun lalu.

30 Mei 2025 18:17 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

MUENCHEN, JUMAT — Bagi Pelatih Kepala Paris Saint-Germain Luis Enrique, final Liga Champions musim 2024-2025 terasa seperti deja vu. Banyak kesamaan seperti sepuluh tahun lalu, saat dirinya menukangi Barcelona. Mulai dari partai puncak yang diselenggarakan di Jerman sampai tim lawan yang berasal dari Italia.

Enrique meraih trofi ”Si Kuping Lebar” bersama Barca setelah menang atas Juventus dalam final musim 2014-2015 di Stadion Olimpiade Berlin. Tepat sedekade berlalu, sang pelatih akan mendampingi PSG dalam partai puncak untuk menghadapi Inter Milan di Stadion Muenchen Football Arena, Minggu (1/6/2025) pukul 02.00 WIB.

Dari banyak kesamaan, ada perbedaan sangat kontras. Itu bisa dilihat dari skuad PSG yang datang ke final tanpa pemain megabintang. Mereka berstatus tim dengan rerata usia 25 tahun atau termuda di babak gugur musim ini. Bandingkan dengan Barca ketika itu yang diperkuat trio ”MSN”, yaitu Lionel Messi, Luis Suarez, dan Neymar.

Perbedaan itu sekaligus menunjukkan anomali dari tim raksasa Perancis tersebut. PSG dengan skuad berisi bintang muda, seperti Desire Doue (19), justru berada dalam bentuk terbaik dalam satu dekade terakhir. Mereka tampil lebih meyakinkan daripada periode saat diperkuat trio megabintang Kylian Mbappe, Messi, dan Neymar.

Rahasianya sudah pernah diungkapkan Enrique ketika baru beberapa bulan memimpin PSG, September 2023. ”Ketika klub terobsesi terhadap sesuatu, itu tidak pernah bagus. Anda harus memiliki ambisi, tetapi bukan obsesi,” katanya soal hubungan PSG dan Liga Champions yang selalu berakhir buruk, kepada The Athletic.

TOPSHOT - Paris Saint-Germain's Portuguese midfielder #87 Joao Pedro Goncalves Neves (R), Paris Saint-Germain's Brazilian defender #05 Marquinhos (2nd R), and Paris Saint-Germain's Spanish midfielder #08 Fabian Ruiz (C) celebrate their victory next to Arsenal's English forward #07 Bukayo Saka (L) at the end of the UEFA Champions League semi-final second leg football match between Paris Saint-Germain (PSG) and Arsenal at the Parc des Princes stadium in Paris, on May 7, 2025. (Photo by Thomas SAMSON / AFP)

Berbicara obsesi, Inter agak berbeda dengan PSG. Mereka bisa dibilang terobsesi untuk kembali ke partai puncak, setelah kegagalan di final pada dua tahun lalu. Pelatih Kepala Simone Inzaghi menunjukkan betapa besar rasa frustrasi seusai kegagalan tersebut. ”Kami mengingat final itu seperti baru terjadi kemarin,” ucapnya.

Obsesi skuad Inter sangat beralasan. Mereka begitu dekat dengan trofi. Lautaro Martinez dan rekan-rekan hanya kalah 0-1 dari Manchester City dalam pertandingan yang sangat ketat. Para pemain merasa seharusnya bisa tampil lebih baik ketika itu. Mereka ingin segera memperbaikinya. Kesempatan itu datang lagi musim ini.

Inzaghi menargetkan trofi Liga Champions sebagai puncak pencapaian proyeknya selama empat tahun terakhir. Inter dengan rerata usia skuad tertua di turnamen, 30 tahun, agak diburu waktu. ”Kami lebih matang, terlihat dalam beberapa laga besar terakhir. Kami tahu final nanti akan sangat penting untuk perjalanan kami,” katanya.

Adapun mayoritas pemain Inter masih sama dengan skuad di final dua tahun lalu, antara lain Martinez, Nicolo Barella, dan Denzel Dumfries. Mereka membawa api dendam dan rasa penasaran itu. Berbeda dengan PSG, hanya bek Marquinhos dan Presnel Kimpembe yang tersisa dari skuad final pada 2020.

Berkah tanpa bintang

Sebelum Enrique datang, PSG sangat terobsesi dengan kesuksesan di Liga Champions. Itu berdampak buruk karena mereka mengejar hadiah dengan cara instan. Klub mendatangkan banyak pemain bintang. Padahal, seperti memasak, menyatukan seluruh bahan utama ke dalam panci tidak serta merta menjadikan makanan terlezat.

Wajar saja jika Enrique memegang prinsip yang mengutamakan proses. Dia merumuskan ulang strategi klub. Perubahan drastis terjadi dalam kebijakan transfer. Sebanyak 10 dari 13 pemain yang didatangkan berusia tidak lebih dari 26 tahun. Alih-alih status bintang, mereka mengutamakan potensi pemain dan kebutuhan skuad.

Alhasil, PSG sudah tidak mengandalkan individu seperti saat dipimpin Mbappe yang telah hengkang ke Real Madrid di akhir musim lalu. Mereka menyerang dan bertahan sebagai kesatuan tim. Itu yang membuat pertahanan PSG diakui sebagai salah satu yang paling agresif di Eropa saat ini. Tidak ada pemain berbakat yang diperlakukan khusus layaknya anak emas.

TOPSHOT - Inter Milan's Italian midfielder #16 Davide Frattesi celebrates scoring his team's fourth goal during the UEFA Champions League semi-final second leg football match between Inter Milan and FC Barcelona at the San Siro stadium in Milan on May 6, 2025. (Photo by Marco BERTORELLO / AFP)

Ousmane Dembele, penyerang PSG, merupakan mesin gol tim. Namun, lebih dari itu, dia juga bertugas sebagai pemain bertahan pertama saat tim kehilangan bola. ”Apa yang kami ingin lakukan adalah merebut bola (secepat mungkin) dari wilayah lawan. Menguasai bola adalah cara bertahan terbaik,” kata gelandang Joao Neves.

Agresivitas PSG sebagai satu unit telah menelan banyak korban. Dua tim raksasa Liga Inggris, Arsenal dan Liverpool, adalah dua di antara itu. Tim asuhan Enrique sukses melimitasi kedua tim yang nyaris selalu dominan dalam penguasaan bola tersebut. Adapun rerata penguasaan bola PSG sepanjang turnamen mencapai 59,6 persen.

Inter melihat dominasi tim lawan sebagai peluang besar. PSG bermain sangat ofensif seperti Barca. Di semifinal, Inter berhasil mencetak tujuh gol ke gawang Barca walaupun hanya berbekal penguasaan bola 28 persen. Tim asuhan Inzaghi mampu mengatasi dominasi lawan dengan serangan balik cepat dan pertahanan rapat.

Jika diibaratkan tinju, PSG seperti petinju yang banyak memukul demi poin. Itu terlihat dari jumlah percobaan tembakan mereka yang mencapai 300 kali atau tertinggi di turnamen. Sebaliknya, Inter bukan petinju yang banyak berspekulasi, tetapi bisa menjatuhkan lawan dalam satu pukulan. Adapun total tembakan Inter hanya 174 kali.

PSG tidak memiliki penyerang tengah murni atau ”nomor 9”. Mereka mengandalkan trisula Dembele, Doue, dan Kvaratskhelia yang bisa saling berganti posisi di lini depan. Serangan mereka fleksibel dan sulit diprediksi. Sementara itu, Inter punya sepasang striker murni dalam duet Martinez dan Marcus Thuram yang terbukti sangat tajam.

”Mereka (PSG) tim kuat dan solid yang bagus dalam serangan dan bertahan. Kami harus berhati-hati. Kami harus benar-benar mengamati kelebihan dan kelemahan mereka. Di atas itu semua, kami harus menikmati laga final. Kami sudah dua kali berada di sini dalam tiga tahun terakhir, kami pantas menang,” tutur Martinez.

TOPSHOT - Paris Saint-Germain's players celebrate at the end of the last 16 second leg UEFA Champions League football match between Liverpool and Paris Saint-Germain (PSG) at Anfield in Liverpool, north west England on March 11, 2025. Paris Saint-Germain progressed to the quarter-finals of the Champions League after beating Liverpool 4-1 in a penalty shoot-out to win an epic last-16 tie between the clubs. (Photo by Oli SCARFF / AFP)

Walaupun tidak diunggulkan pada awal turnamen, PSG dan Inter merupakan tim yang paling layak berada di partai puncak. PSG menyingkirkan semua wakil dari liga terbaik sedunia, Liga Inggris, sejak 16 besar hingga semifinal. Inter menumbangkan dua tim langganan juara di turnamen tersebut, yaitu Barca dan Bayern Muenchen.

PSG dan Inter akan bertemu dalam pertandingan resmi untuk pertama kali di Muenchen nanti. Duel itu akan menghasilkan sejarah baru bagi masing-masing tim. PSG berpotensi meraih trofi Liga Champions pertama, sedangkan Inter akan menyudahi paceklik selama 15 tahun terakhir. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto