PSI Gelar Kongres di Solo, Unjuk Kekuatan di ”Kandang Banteng”?

Raihan suara di Pileg 2024 di Solo serta kemenangan di Pilkada Solo dan Jateng 2024 membuat PSI yakin, Solo dan Jateng bakal jadi basis suara PSI ke depan.

14 Jul 2025 15:12 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nikolaus Harbowo

JAKARTA, KOMPAS — Partai Solidaritas Indonesia akan menggelar kongres pada 19–20 Juli 2025 di Solo, Jawa Tengah. Di kota yang selama ini menjadi lumbung suara PDI Perjuangan atau ”kandang banteng” di setiap pemilu itu, PSI datang dengan percaya diri dan menyebut kemenangan mereka di Solo dan Jawa Tengah pada pemilu dan pemilihan kepala daerah sebelumnya sebagai fondasi kekuatan baru partai ke depan.

Kongres ini akan menjadi puncak dari rangkaian Pemilu Raya PSI untuk memilih ketua umum. Sebanyak 187.306 kader akan memilih calon ketua umum PSI periode 2025-2030 secara daring melalui vote.psi.id. Hasil pemilihan ketua umum ini akan diumumkan dalam kongres, yang dijadwalkan dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Tiga nama telah resmi maju sebagai calon ketua umum, yakni Ronald A Sinaga yang akrab disapa Bro Ron, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep yang merupakan putra Jokowi, serta Agus Mulyono Herlambang yang pernah menjabat Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2017–2021.

Plh Ketua Umum PSI Andy Budiman dalam wawancara khusus dengan Kompas untuk program podcast “Gercep”, di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Jumat (11/7/2025).

Pelaksana Harian Ketua Umum PSI sekaligus Ketua Steering Committee Kongres PSI Andy Budiman mengatakan, pemilihan Solo sebagai lokasi kongres bukanlah tanpa perhitungan. Solo kini bukan hanya simbol, melainkan juga disebut sebagai ladang tumbuhnya kekuatan baru PSI untuk masa depan.

Dalam Pemilu 2024, PSI mencatatkan kemajuan signifikan di kota ini. Banyak caleg PSI terpilih sehingga partai menguasai salah satu posisi wakil ketua DPRD. Di pilkada serentak 2024, calon yang diusung PSI, yakni pasangan Respati Ardi-Astrid Widayani, pun terpilih sebagai wali kota dan wakil wali kota. Tak hanya di Solo, dukungan PSI terhadap Ahmad Luthfi dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2024 juga berbuah kemenangan.

”Jadi, saya rasa memang Solo ini akan menjadi salah satu tempat persemaian PSI ke depan,” ujar Andy dalam wawancara khusus dengan Kompas untuk program podcast ”Gercep” di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Jumat (11/7/2025). Tayangan lengkap podcast disiarkan di akun Youtube Harian Kompas dan Kompas.id.

Andy membantah kongres ini merupakan bentuk unjuk kekuatan kepada PDI-P. Partainya hanya ingin menunjukkan bahwa Solo kini telah menjadi basis baru mereka. ”Memang kenyataannya kami punya akar yang kuat sekarang di kota Solo,” ucapnya.

Wakil Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga Ketua Komite Pengarah Pemilu Raya PSI Andy Budiman, (dua dari kiri) didampingi (kiri ke kanan) Sekretaris Komite Pengarah Benny Papa, Anggota Komite Pengarah Elva Farhi Qolbina, dan I Putu Yoga memberikan keterangan pers terkait Pemilu Raya PSI di Jakarta, Selasa (13/5/2025). PSI akan menggelar Pemilu Raya dengan mekanisme satu anggota satu suara untuk memilih ketua umumnya. Pendaftaran calon ketua umum PSI mulai dibuka pada Selasa (13/5/2025) hingga Minggu (18/5/2025. Langkah PSI yang menggulirkan mekanisme pemilihan ketua umum secara langsung bisa menjadi terobosan di tengah kritik publik terhadap demokrasi di internal partai politik Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Ketika ditanya lebih jauh apakah Solo akan dijadikan basis kekuatan politik menuju Pemilu 2029, Andy menjawab, ”Insya Allah kami akan kuat di Solo.” Keyakinan itu juga mencakup wilayah Jawa Tengah secara keseluruhan. ”Jawa Tengah kuat, (PSI) kuat,” tegasnya.

PSI, menurut Andy, kini semakin percaya diri mampu menguasai Solo dan Jawa Tengah karena tengah bertransformasi menjadi partai yang memiliki akar kuat di politik tingkat lokal. Partai terus fokus membangun struktur organisasi dan merekrut tokoh-tokoh lokal di berbagai daerah agar mampu melampaui ambang batas parlemen di Pemilu 2029 nanti.

”Saya selalu menggambarkan zaman dulu mungkin PSI itu kayak makhluk yang ganjil, kepalanya besar, jelas, tapi kakinya enggak kelihatan, enggak napak. Jadi, orang mungkin tahu apa yang diperjuangkan, apa yang menjadi pikiran, tapi enggak ada kaki-kaki di bumi. Sementara setiap gagasan itu, kan, harus punya kaki. Nah, sekarang ini kita lagi memperkuat kaki-kaki kami di tingkat lokal,” tuturnya.

Di sisi lain, PSI meyakini kekuatannya di Solo dan Jawa Tengah juga tak lepas dari pengaruh Jokowi. ”Jawa Tengah itu, kan, salah satu basis pendukung Pak Jokowi,” ucapnya.

<p>Presiden Joko Widodo hadir dalam Peringatan HUT ke-7 Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di The Ballroom Djakarta Theater Building, Jakarta, pada Rabu, 22 Desember 2021. </p>

Untuk itu, pada Kongres PSI nanti, Jokowi dijadwalkan hadir dan memberikan arahan dalam salah satu sesi kongres. Soal kemungkinan Jokowi masuk dalam struktur resmi PSI, seperti dewan pembina atau dewan pengarah, Andy belum dapat memastikannya.

”Nanti mungkin dalam perjalanan waktu akan bisa terlihat bagaimana peran-peran itu akan dijalankan. Tetapi, sekali lagi, hubungan kita ya tentu sangat baik dengan Pak Jokowi,” tuturnya.

Kandang ”banteng” goyah

Selama lebih dari dua dekade, Jawa Tengah, terutama Solo, merupakan jantung kekuatan politik PDI-P. Dalam setiap pemilu sejak 1999, partai berlambang banteng moncong putih itu selalu menguasai wilayah ini, tetapi suaranya terus tergerus.

Pada Pemilu 1999, misalnya, PDI-P mampu meraih 42,8 persen suara di provinsi tersebut dan hampir menguasai seluruh kabupaten/kota. Meski demikian, pada Pemilu 2024, suaranya tersisa 26,59 persen. Dengan raihan suara itu, PDI-P bersaing ketat dengan raihan suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerindra, dan Partai Golkar.

Yang paling mencolok adalah kekalahan PDI-P di Pilkada Kota Surakarta. Untuk pertama kalinya sejak reformasi, mereka tak mampu mempertahankan kursi wali kota. Pasangan Respati Ardi–Astrid Widayani yang diusung oleh koalisi pendukung Jokowi-Prabowo, termasuk PSI, menang telak dengan 60,5 persen suara, mengalahkan pasangan PDI-P, Teguh Prakosa–Bambang Nugroho.

Kemenangan itu tak lepas dari dukungan secara terang-terangan Presiden Jokowi terhadap Respati-Astrid. Di sinilah garis pemisah antara Jokowi dan PDI-P makin jelas terlihat. ”Kalau yang dilawan negara, ya jelas kalah,” kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PDI-P Surakarta Muchus Budi R, menggambarkan situasi ”medan peperangan” yang dihadapi PDI-P di Surakarta maupun Tim Bapilu Pilkada di Jawa Tengah.

Kondisi serupa terjadi dalam Pilgub Jawa Tengah. Kandidat PDI-P, Andika Perkasa-Hendrar Prihadi, kalah dari Ahmad Luthfi-Taj Yasin, pasangan yang lagi-lagi didukung oleh koalisi pendukung Jokowi-Prabowo.

Meski demikian, di tengah hasil yang kurang memuaskan di level Kota Surakarta dan Provinsi Jateng tersebut, PDI-P mengklaim masih menang di 19 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Ketua DPR sekaligus elite PDI-P, Puan Maharani, menyatakan masyarakat bisa menilai sendiri apakah wilayah itu masih layak disebut kandang banteng. ”Kemenangan di 19 kabupaten/kota, apakah masih kandang banteng atau tidak?” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikolaus Harbowo
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar