Sunderland segera memulangkan Granit Xhaka ke Liga Inggris. Xhaka akan menjalani petualangan baru untuk menyelamatkan tim promosi dari ancaman nyata turun kasta.
29 Jul 2025 08:03 WIB · Olahraga
SUNDERLAND, SENIN — Setelah kisah dua musim terakhir, tim-tim promosi selalu seperti sudah divonis akan gagal sebelum Liga Inggris dimulai. Sunderland berharap mengubah jalan cerita itu dengan aktif di jendela transfer. Salah satunya mendatangkan gelandang veteran Granit Xhaka.
Sunderland, menurut The Athletic, sudah sepakat mendatangkan pemain Bayer Leverkusen itu dengan total nilai transfer 20 juta euro (Rp 380,2 miliar) pada Senin (28/7/2025) WIB. Xhaka pun akan segera kembali ke Liga Inggris seusai meninggalkan Arsenal pada musim panas 2023.
Gelandang 32 tahun itu sebenarnya masih terikat kontrak dengan Leverkusen hingga Juni 2028. Namun, dia ingin mencari tantangan baru setelah kepergian Pelatih Xabi Alonso ke Real Madrid. Xhaka turut menyusul rekannya, Florian Wirtz dan Jeremie Frimpong, ke Inggris.
Prioritas utama Xhaka adalah bermain lagi di Inggris dan pindah ke Sunderland. Dia menolak bertahan di Leverkusen dan tawaran dari klub-klub Arab Saudi. Kontrak barunya akan segera dirampungkan seusai tes medis dalam 24 jam hingga 48 jam ke depan.
Xhaka pergi bukan karena tidak dibutuhkan lagi. Sebaliknya, pelatih baru Leverkusen, Erik ten Hag, justru sempat menahannya. ”Kami sudah kehilangan tiga pemain penting, tidak bisa lagi kehilangan pemain. Granit adalah pemimpin tim. Dia terlalu penting untuk dibiarkan pergi,” ujarnya.
Bagi Sunderland, yang terakhir kali bermain di divisi teratas pada musim 2016-2017, pembelian Xhaka sangat krusial. Sang gelandang tidak hanya menawarkan pengalaman bermain di Liga Inggris selama tujuh musim. Mantan kapten Arsenal itu juga mampu menjadi pemimpin tim.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/10/6bd6ac58-0bac-4c4b-b10d-3e3507a03162_jpg.jpg)
Seperti diketahui, tim asuhan Pelatih Regis Le Bris itu berisi mayoritas para pemain muda. Rerata usia skuad mereka hanya 24,2 tahun. Sunderland sudah mengeluarkan 115,9 juta euro, tetapi lebih banyak mendatangkan pemain muda, antara lain Simon Adingra (23) dan Habib Diarra (21).
Belajar dari musim lalu, tiga tim promosi langsung kembali ke Divisi Kedua setelah naik kasta. Mereka adalah Ipswich Town, Leicester City, dan Southampton yang berhasil mencatatkan rerata rekor poin terburuk dari tim-tim promosi di era Liga Primer, 18,7 poin.
Ketiga tim tersebut gagal mendekati standar performa Liga Inggris. Mereka semua sudah dipastikan turun kasta sejak akhir April. Kesalahan terbesar mereka adalah lebih banyak membeli pemain muda. Mereka tidak punya sosok pemain berpengalaman yang masih dalam masa prima.
Xhaka menawarkan sesuatu yang berbeda untuk Sunderland. Dia masih berada di performa terbaik. Bersama Leverkusen, pemain kidal itu menyumbangkan gelar juara Liga Jerman dan Piala Jerman tanpa satu kekalahan pun pada musim 2023-24.
Musim lalu, walaupun gagal juara, Xhaka tetap tampil apik dengan 2 gol dan 7 asis serta menjadikan Leverkusen runner-up. ”Granit luar biasa. Dia selalu memberikan kami stabilitas di dalam tim, baik dengan maupun tanpa bola. Dia juga sangat baik saat berkomunikasi,” kata mantan bek Leverkusen, Jonathan Tah, kepada media Jerman, Blick.
Ketersediaan menjadi salah satu atribut istimewanya. Xhaka bermain 33 kali dari total 34 pertandingan Liga Jerman selama dua musim beruntun. Dia hanya absen dua kali dalam dua tahun. Selain itu, Xhaka juga bisa bermain sebagai gelandang jangkar dan box to box yang lebih ofensif.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/03/1cc44ae4-b383-4dcb-aac0-7544b758bd0b_jpg.jpg)
Terakhir kali bermain di Liga Inggris pada musim 2022-2023, bersama Arsenal, Xhaka bahkan berhasil mencapai performa terbaik sepanjang karier. Dia menghasilkan 7 gol dan 7 asis di liga yang merupakan kontribusi terbesar sejak pindah ke Arsenal pada 2016.
Sejarah sudah membuktikan, setiap tim yang didatangi selalu jadi lebih baik, termasuk tim nasional Swiss. Kapten Swiss itu mampu membawa negaranya tampil reguler di Piala Eropa dan Piala Dunia dalam satu dekade terakhir. Swiss juga lolos ke perempat final dalam dua edisi terakhir.
Xhaka sering dipandang rendah karena tidak secepat dan selincah kebanyakan gelandang modern. Namun, dia selalu bisa memberikan nyawa di lini tengah dengan daya juang tinggi, jiwa kepemimpinan, fisik kuat, akurasi umpan sangat baik, dan kecerdasan membaca permainan.
Pelatih legendaris, Jose Mourinho, saja sangat tertarik kepada Xhaka. Dia sempat mengajak sang pemain bergabung dengan AS Roma pada 2021, tetapi tidak berhasil. Sang pelatih sampai berseloroh, ingin meminjamkan satu matanya jika orang lain tidak bisa melihat kehebatan Xhaka. (AP/AFP)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan